Bahasa sebagai Sarana Penyampaian Gagasan, Bukan Pamer Intelektualitas
8 days ago
32 views
Aprian Nusra

Di era kecerdasan buatan (AI), sebagian orang mengira bahwa penggunaan bahasa yang rumit akan membuat tulisan tampak lebih akademis. Padahal, kerumitan bahasa yang tidak diperlukan justru dapat menjauhkan ungkapan dari tujuan utamanya, yaitu menyampaikan maksud secara jelas.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

“Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka.” (QS. Ibrahim: 4).

Meskipun ayat di atas bukan larangan menggunakan bahasa yang rumit, ayat tersebut memberikan pelajaran tentang pentingnya kejelasan dalam komunikasi.

Sejalan dengan itu, Abu Hamid menyatakan:

وَمَقْصُودُ الْكَلَامِ التَّفْهِيمُ لِلْغَرَضِ، وَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ تَصَنُّعٌ مَذْمُومٌ

“Tujuan berbicara adalah menjelaskan maksud; sedangkan sesuatu yang melampaui tujuan itu merupakan sikap dibuat-buat yang tercela.”

Sebuah ungkapan mengatakan, “Sebagian orang menggunakan bahasa untuk menyampaikan pikirannya, sementara sebagian lainnya menggunakan bahasa untuk mempertontonkan pikirannya.”

Dalam Al-Ādāb asy-Syar‘iyyah, Ibnu Muflih menyinggung fenomena ini dengan membawakan sebuah hadis:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبْغِضُ الْبَلِيغَ مِنَ الرِّجَالِ، الَّذِي يَتَخَلَّلُ بِلِسَانِهِ، كَمَا تَتَخَلَّلُ الْبَقَرَةُ بِلِسَانِهَا

“Sesungguhnya Allah membenci seseorang yang berlebihan dalam kefasihan berbicara, yang memainkan lidahnya sebagaimana sapi memainkan lidahnya.”

Celaan tersebut bukan ditujukan kepada kefasihan atau kemampuan menyampaikan gagasan dengan baik, melainkan kepada sikap berlebihan dan dibuat-buat dalam berbicara. Bahasa semestinya menjadi sarana untuk menyampaikan pemikiran, bukan panggung untuk mempertontonkan kepandaian. Karena itu, kualitas suatu ungkapan tidak semata-mata diukur dari kerumitan susunannya, tetapi dari ketepatan penyampaian maksud dan kemampuannya membantu orang lain memahami gagasan yang disampaikan.

Karena itu, seseorang perlu memahami situasi dan kondisi serta menyesuaikan bahasa dengan konteks pembicaraan. Sebagaimana ungkapan Arab menyebutkan:

لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ

“Setiap situasi memiliki cara penyampaian yang sesuai.”

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
💬
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Artikel Terbaru Aprian Nusra