Ikhlas: Amalan Surga yang Bisa Berujung Neraka
Faedah dari kajian bersama Ustadz Ahmad Rasyid Bazer حفظه الله
Kajian Ilmiah • Bali Mengaji
Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan duduk di majelis ilmu ini. Shalawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, penutup para nabi yang membawa umat dari zaman kejahiliahan menuju zaman terang benderang dengan ilmu dan sunnah. Tema kajian kali ini wajib sering kita dengar: mengapa ada amalan yang di mata manusia tampak seperti amalan penghuni surga, namun pelakunya justru menjadi penghuni neraka? Sebab manusia hanya melihat lahiriah amal — ternyata di dalam hati orang tersebut ada penyakit yang menggerogotinya, yaitu riya' dan sum'ah (ingin dilihat dan didengar orang lain), sehingga ibadahnya tidak ikhlas karena Allah ﷻ.
Tiga Golongan Pertama yang Diseret ke Neraka
Dalam hadits sahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa manusia pertama yang diadili pada hari kiamat ada tiga golongan. Pertama, seorang yang mati syahid — ketika ditanya untuk apa ia berjihad, Allah ﷻ membongkar niat sebenarnya yang tersembunyi: ia berjihad agar disebut pemberani, dan hal itu telah ia dapatkan di dunia. Kedua, seorang penuntut ilmu, pengajar, dan pembaca Al-Qur'an — ternyata niatnya agar dianggap orang alim, dan itu pun telah ia dapatkan di dunia. Ketiga, seorang yang dilapangkan rezekinya dan gemar bersedekah — ternyata niatnya agar disebut dermawan, dan itu telah ia dapatkan di dunia. Ketiganya kemudian diperintahkan untuk diseret wajahnya dan dilemparkan ke neraka:
قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَٰكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ حَتَّىٰ أُلْقِيَ فِي النَّارِ
Qāla: kadzabta, wa lākinnaka fa‘alta liyuqāl, faqad qīl, tsumma umira bihi fasuhiba ‘alā wajhihi hattā ulqiya fin-nār
“Allah berfirman: Engkau dusta, sesungguhnya engkau melakukan itu agar dikatakan (demikian oleh manusia), dan hal itu memang telah dikatakan. Kemudian diperintahkan (atasnya), maka ia diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 1905, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Dalam riwayat lain, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu sampai menangis saat hendak meriwayatkan hadits ini karena begitu takutnya. Nabi ﷺ menegaskan tentang tiga golongan tersebut:
يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، أُولَٰئِكَ الثَّلَاثَةُ أَوَّلُ خَلْقِ اللَّهِ تُسَعَّرُ بِهِمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Yā abā hurairata, ulā’ikats-tsalātsatu awwalu khalqillāhi tusa‘‘aru bihimun-nāru yaumal-qiyāmah
“Wahai Abu Hurairah, ketiga orang itu adalah makhluk Allah yang pertama kali neraka dinyalakan untuk mereka pada hari kiamat.” (HR. Tirmidzi no. 2382; sahih)
Karena itulah, para ulama menetapkan dua syarat diterimanya amal saleh: ikhlas karena Allah ﷻ semata, dan ittiba' (mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ).
Definisi Ikhlas
Perlu dibedakan antara ridha (menerima takdir/musibah dengan lapang dada) dengan ikhlas (berkaitan dengan niat ibadah). Ikhlas yang dibahas di sini adalah ibadah yang seratus persen ditujukan untuk Allah ﷻ semata. Ibnul Qayyim rahimahullah mendefinisikan ikhlas sebagai melupakan pandangan makhluk dan hanya memandang kepada Al-Khaliq — tidak peduli dipuji atau dicela manusia, sebab yang diperhatikan hanyalah bagaimana Allah ﷻ memandang dirinya. Kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah ﷻ semata, dan ibadah tanpa keikhlasan akan menjadi sia-sia di hari kiamat:
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
Wa qadimnā ilā mā ‘amilū min ‘amalin faja‘alnāhu habā’an mantsūrā
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)
Riya' dan Sum'ah: Syirik Kecil
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
Inna akhwafa mā akhāfu ‘alaikumusy-syirkul-ashghar. Qālū: wa masy-syirkul-ashghar yā rasūlallāh? Qāla: ar-riyā’
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat radhiyallahu 'anhum bertanya: “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya'.” (HR. Ahmad no. 23119; hasan, dari Mahmud bin Labid radhiyallahu 'anhu)
Riya' (dari kata ru’yah, memperlihatkan) dan sum'ah (dari kata sam‘, memperdengarkan) sama-sama bertujuan agar dipuji dan disanjung manusia. Meski disebut “kecil”, jangan tertipu — ia menempati posisi dosa besar tertinggi setelah syirik besar, di atas dosa membunuh, berzina, dan minum khamar.
Tujuh Kiat Agar Selalu Ikhlas
1. Sering mengingat azab khusus bagi orang yang tidak ikhlas
Mengingat kembali ancaman tiga golongan di atas akan menumbuhkan rasa takut agar tidak berbuat riya'.
2. Sering mengecek niat — sebelum, ketika, dan setelah beramal
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَىٰ
Innamal-a‘mālu bin-niyyāt, wa innamā likulli’mri’in mā nawā
“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari no. 1 & Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu)
Contoh keikhlasan yang benar: berniat shalat dan beribadah agar dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari neraka — ini justru ikhlas yang benar, sebagaimana hadits tentang puasa Ramadan:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Man shāma ramadhāna īmānan wahtisāban ghufira lahu mā taqaddama min dzanbih
“Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 38 & Muslim no. 760, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Sebab tujuan hakiki seorang hamba memang meraih surga, sebagaimana firman Allah ﷻ:
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
Faman zuhziha ‘anin-nāri wa udkhilal-jannata faqad fāz
“Maka barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Namun ketika seseorang beribadah dengan mengharap sesuatu dari Allah ﷻ sekaligus mengharap pujian manusia, Allah ﷻ tidak akan menerima amalnya, sebagaimana hadits qudsi:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Anā aghnasy-syurakā’i ‘anisy-syirk, man ‘amila ‘amalan asyraka fīhi ma‘ī ghairī taraktuhu wa syirkah
“Aku (Allah) adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amal yang di dalamnya ia menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya itu.” (HR. Muslim no. 2985, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Nabi ﷺ juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
Innallāha lā yaqbalu minal-‘amali illā mā kāna lahu khālishan wabtughiya bihi wajhuh
“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal kecuali yang murni untuk-Nya dan dicari dengannya wajah-Nya.” (HR. An-Nasa’i; hasan, dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu)
Adapun setelah beramal, mengecek niat berguna agar tidak timbul ujub (bangga diri). Siapa yang benar-benar merealisasikan makna surat Al-Fatihah — “Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn” (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan) — akan terbebas dari riya', sum'ah, sekaligus ujub. Termasuk yang membatalkan pahala sedekah adalah mengungkit-ungkit pemberian kepada orang lain:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ
Yā ayyuhal-ladzīna āmanū lā tubthilū shadaqātikum bil-manni wal-adzā
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membatalkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” (QS. Al-Baqarah: 264)
Prinsip yang baik untuk dipegang: selalu ingat dua hal — kebaikan orang lain kepada kita (agar kita membalasnya) dan kesalahan diri kita kepada orang lain (agar kita meminta maaf); dan selalu lupakan dua hal — kebaikan kita kepada orang lain (agar tidak diungkit) dan kesalahan orang lain kepada kita (agar mudah memaafkan).
3. Menyadari bahwa manusia hanyalah makhluk yang lemah
Manusia tidak dapat memberi manfaat atau menolak mudarat kecuali dengan izin Allah ﷻ. Inilah inti tauhid — menghilangkan ketergantungan hati kepada makhluk dan hanya bergantung kepada Allah ﷻ, Al-Ahad, Ash-Shamad (tempat bergantung segala sesuatu). Nabi ﷺ mengabarkan bahwa kelak di akhirat, orang yang beramal karena riya' akan disuruh pergi kepada orang yang dahulu ia harapkan pujiannya di dunia — dan tentu mereka tidak akan mendapatkan balasan apa pun dari sesama makhluk yang lemah itu.
4. Melupakan dan tidak mengingat-ingat kembali amal saleh yang telah dikerjakan
Ini bukan berarti berhenti berdoa memohon diterimanya amal, melainkan agar tidak timbul ujub dan tidak mengungkit-ungkit kebaikan di kemudian hari, sebagaimana dijelaskan pada poin kedua.
5. Takut akan su’ul khatimah (akhir hidup yang buruk)
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّىٰ مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا
Inna ahadakum laya‘malu bi‘amali ahlil-jannati hattā mā yakūnu bainahu wa bainahā illā dzirā‘, fayasbiqu ‘alaihil-kitābu fayа‘malu bi‘amali ahlin-nāri fayadkhuluhā
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian benar-benar beramal dengan amalan penghuni surga, sampai jarak antara dirinya dan surga hanya tinggal sehasta, namun catatan takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan penghuni neraka sehingga ia pun memasukinya.” (HR. Bukhari no. 3208 & Muslim no. 2643)
Sebagian ulama menjelaskan hadits ini berkaitan dengan ketidakikhlasan yang tersembunyi — amal yang tampak seperti amalan surga di mata manusia, namun hatinya tidak ikhlas, sehingga menggerogoti amalnya hingga berakhir buruk. Sebagaimana kaidah: siapa yang hidup di atas suatu kebiasaan, biasanya ia diwafatkan dalam kebiasaan tersebut.
6. Sering menyembunyikan amal saleh
Di era media sosial, godaan untuk memamerkan ibadah sangatlah besar. Padahal hukum asal amal saleh adalah lebih baik disembunyikan, kecuali karena ikhlas ketika ditampakkan:
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
In tubdush-shadaqāti fani‘immā hiya, wa in tukhfūhā wa tu’tūhal-fuqarā’a fahuwa khairun lakum
“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 271)
Terdapat dua keadaan yang dikecualikan: pertama, amal yang memang tidak mungkin disembunyikan (seperti shalat berjamaah di masjid atau menghadiri majelis ilmu) — cukup diikhlaskan saja. Kedua, ketika amal tersebut diniatkan agar diikuti orang lain sehingga mendapat pahala tambahan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
مَنْ دَلَّ عَلَىٰ خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Man dalla ‘alā khairin falahu mitslu ajri fā‘ilih
“Barangsiapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893, dari Abu Mas‘ud Al-Anshari radhiyallahu 'anhu)
Namun niat tetap harus dijaga agar tidak berubah menjadi ingin dipuji. Teladan luar biasa dicontohkan Ali Zainal Abidin — Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhum — yang setiap malam diam-diam mengantarkan bantuan ke rumah-rumah fakir miskin di Madinah selama puluhan tahun tanpa ada yang tahu; rahasianya baru terungkap setelah beliau wafat, ketika ditemukan bekas hitam di pundaknya akibat memanggul bantuan tersebut, dan bantuan rutin itu pun terhenti.
7. Memperbanyak doa kepada Allah ﷻ
Tanpa pertolongan Allah ﷻ, mustahil seseorang bisa ikhlas, bertakwa, dan istiqamah. Di antara doa yang diajarkan Nabi ﷺ untuk terhindar dari syirik besar maupun kecil:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ
Allāhumma innā na‘ūdzu bika an nusyrika bika syai’an na‘lamuh, wa nastaghfiruka limā lā na‘lamuh
“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak kami ketahui (kemungkinan tersamar sebagai syirik).” (HR. Ahmad no. 20430; hasan, dari Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu 'anhu)
Serta doa yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu: “Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku amal yang saleh, jadikanlah ia murni mengharap wajah-Mu, dan janganlah Engkau jadikan sedikit pun darinya untuk selain diri-Mu.” Bisa pula ditambah doa sederhana seperti “Allāhummaj‘alnī minal-mukhlishīn” (Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang ikhlas).
Catatan dari Sesi Tanya Jawab
Apakah amal yang hilang karena riya' bisa kembali dengan taubat?
Ulama berselisih pendapat: sebagian menyatakan amal tersebut telah hilang secara mutlak; sebagian lain berpendapat bisa kembali dengan syarat bertaubat dengan taubatan nasuha. Yang terpenting, ketika seseorang menyadari kesalahannya, hendaklah ia memperbanyak istighfar dan memperbaiki taubatnya. Allah ﷻ berfirman:
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
Illā man tāba wa āmana wa ‘amila ‘amalan shālihan fa-ulā’ika yubaddilullāhu sayyi’ātihim hasanāt
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al-Furqan: 70)
Sebagian ulama menafsirkan “diganti kebajikan” sebagai kemudahan Allah ﷻ mengganti amal buruk seseorang dengan taufik beramal saleh setelahnya; pendapat lain menafsirkannya lebih luas — bahkan catatan dosa itu sendiri diganti menjadi catatan kebaikan di hari kiamat, tergantung kesungguhan taubatnya. Nabi ﷺ bersabda:
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
At-tā’ibu minadz-dzanbi kaman lā dzanba lah
“Orang yang bertaubat dari dosa, seperti orang yang tidak memiliki dosa.” (HR. Ibnu Majah no. 4250; hasan, dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu 'anhu)
Diriwayatkan pula kisah seorang wanita (Al-Ghamidiyah) yang datang mengaku berzina dan meminta disucikan, hingga akhirnya dirajam. Ketika darahnya memercik ke Khalid bin Al-Walid radhiyallahu 'anhu dan ia mencela wanita tersebut, Nabi ﷺ menegurnya:
لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ
Laqad tābat taubatan lau qusimat baina sab‘īna min ahlil-madīnati lawasi‘athum
“Sungguh wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang seandainya dibagi kepada tujuh puluh penduduk Madinah, niscaya akan mencukupi mereka semua.” (HR. Muslim no. 1695, dari Buraidah radhiyallahu 'anhu)
Bolehkah memuji seseorang?
Sebaiknya tidak memuji seseorang di hadapannya secara langsung, sebab dikhawatirkan menimbulkan ujub dalam hatinya yang lemah — meski boleh memujinya di belakang (ketika ia tidak ada) sebagai bentuk kebaikan, bukan justru menggunjingnya. Nabi ﷺ pernah menegur keras seorang yang memuji temannya secara berlebihan di hadapan orang tersebut:
وَيْحَكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ
Wailaka, qatha‘ta ‘unuqa shāhibik
“Celaka engkau, engkau telah memenggal leher temanmu (dengan pujian berlebihan itu).” (HR. Bukhari no. 2662 & Muslim no. 3000, dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu)
Lebih baik mendoakan orang tersebut agar Allah ﷻ terus mengistiqamahkannya, daripada memujinya secara langsung.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Jika ada kebenaran, ia dari Allah ﷻ; jika ada kekeliruan, ia dari kelemahan diri kami.