6 Dzulhijjah 2026
Membangun Anak Shalih melalui, Pembelajaran Parenting Islami
📘 Informasi Kajian
Judul Kajian: AYAH, LAKUKANLAH
Pemateri: Ustadz Uji Effendi B.A., M.Pd
Tanggal: 23 Mei 2026
Tema: Membangun Anak Shalih melalui Tauhid, Kesalehan Orang Tua, dan Kisah Ibrahim-Ismail
🧠 Pembelajaran Utama
Birrul Walidain sebagai Benih Ketaatan Anak kepada Orang Tua
Kajian menekankan bahwa cara orang tua memperlakukan orang tua mereka sendiri akan sangat mempengaruhi bagaimana anak-anak memperlakukan orang tuanya kelak. Anak melihat, meniru, lalu menjadikan itu standar akhlak dalam keluarga.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi contoh besar dalam berbakti kepada ayahnya meskipun ayahnya adalah penyembah berhala. Allah Ta’ala mengabadikan bagaimana lembutnya ucapan Ibrahim:
يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا
Artinya:
“Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?”
(QS. Maryam: 42)
Beliau tidak berkata kasar, tidak merendahkan, dan tetap memanggil ayahnya dengan panggilan penuh kasih:
يَا أَبَتِ
“Wahai ayahku.”
Ini menunjukkan bahwa birrul walidain bukan hanya kepada orang tua yang baik, tetapi tetap dijaga bahkan ketika orang tua memiliki kesalahan besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
Artinya:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi, shahih)
🌱 Taqwa dan Kepemimpinan Rumah Mendahului Keturunan Shalih
Ustaz menjelaskan bahwa anak shalih bukan sekadar hasil teknik parenting, tetapi buah dari rumah yang dipenuhi ketakwaan.
Allah Ta’ala berfirman:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya:
“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)
Dijelaskan bahwa kata:
قُرَّةَ أَعْيُنٍ
berarti penyejuk mata dan ketenangan hati karena melihat keluarga taat kepada Allah.
Sedangkan:
وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
menunjukkan bahwa orang tua harus lebih dahulu menjadi pemimpin dalam ketakwaan sebelum berharap memiliki anak-anak yang shalih.
👩 Peran Sentral Ibu Shalih: Pelajaran dari Hajar
Kajian juga menjelaskan bagaimana kuatnya pengaruh seorang ibu dalam membentuk anak.
Hajar ‘alaihas salam menunjukkan tawakkal luar biasa ketika ditinggalkan Nabi Ibrahim di lembah tandus Makkah. Ketika Ibrahim pergi, Hajar bertanya:
آللَّهُ أَمَرَكَ بِهَذَا؟
“Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?”
Ketika Ibrahim menjawab “iya”, Hajar berkata:
إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا اللَّهُ
Artinya:
“Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”
(HR. Bukhari)
Keimanan seorang ibu inilah yang membentuk Ismail menjadi anak yang taat, sabar, dan kuat.
Ustaz menekankan bahwa memilih pasangan shalih dan terus memperbaiki kualitas iman ibu adalah fondasi utama pendidikan anak.
🤲 Kekuatan dan Konsistensi Doa untuk Keturunan
Nabi Ibrahim menunggu sangat lama untuk mendapatkan keturunan, namun beliau tidak berhenti berdoa.
Allah Ta’ala berfirman:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya:
“Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku anak yang termasuk orang-orang shalih.”
(QS. Ash-Shaffat: 100)
Kata:
هَبْ
berasal dari kata “wahaba” yang berarti memberi sebagai karunia murni tanpa kemampuan manusia.
Ustaz menjelaskan bahwa orang tua sering berdoa keras sebelum menikah atau sebelum punya anak, namun setelah memiliki keluarga justru lalai mendoakan anak-anaknya.
Padahal Nabi Ibrahim terus mendoakan keluarganya:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي
Artinya:
“Wahai Rabbku, jadikanlah aku orang yang menegakkan salat, dan demikian pula keturunanku.”
(QS. Ibrahim: 40)
🔥 Kewajiban Tarbiyah: Menjaga Keluarga dari Neraka
Kajian menegaskan bahwa mendidik keluarga adalah kewajiban syariat.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menafsirkan ayat ini:
عَلِّمُوهُمْ وَأَدِّبُوهُمْ
Artinya:
“Ajarkanlah mereka dan didiklah mereka dengan adab.”
Ustaz menjelaskan bahwa inti kurikulum parenting Islami adalah:
Aqidah dan tauhid
Salat
Akhlak
Pengendalian lingkungan dan media
Rasulullah ﷺ bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
Artinya:
“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (dengan pukulan pendidikan) ketika berumur sepuluh tahun jika meninggalkannya.”
(HR. Abu Dawud, shahih)
Ustaz menjelaskan adanya proses bertahap selama tiga tahun untuk membangun disiplin salat, bukan perubahan instan.
🗣️ Menyampaikan Perintah dengan Hikmah
Nabi Ibrahim tidak bersikap diktator kepada Ismail. Beliau tetap mengajak anaknya berbicara dan bermusyawarah.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
Artinya:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Padahal itu adalah wahyu. Namun Ibrahim tetap mengajak dialog agar tumbuh penerimaan dan keikhlasan.
Ustaz mengingatkan agar orang tua tidak selalu memotong pembicaraan anak atau memerintah dengan nada kasar.
👨👩👧 Anak Menyalin Orang Tuanya
Kajian menekankan bahwa anak adalah peniru ulung.
Jika orang tua:
membaca Al-Qur’an,
menjaga salat,
menjaga lisan,
menjauhi tontonan haram,
maka anak akan lebih mudah mengikuti.
Namun jika orang tua menyuruh anak membaca Qur’an sementara dirinya sibuk dengan ponsel dan hiburan, maka pendidikan menjadi rusak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
Artinya:
“Tidaklah setiap anak dilahirkan kecuali di atas fitrah.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Lingkungan dan orang tua yang kemudian sangat menentukan arah anak.
📺 Menjaga Lingkungan Rumah
Ustaz mengingatkan pentingnya mengontrol:
gadget,
media sosial,
musik,
tontonan,
lingkungan pertemanan.
Rumah hendaknya hidup dengan Qur’an dan dzikir.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
Artinya:
“Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya seperti orang hidup dan orang mati.”
(HR. Muslim)
⏳ Kesabaran dalam Parenting
Ustaz menekankan bahwa hasil pendidikan kadang baru terlihat setelah bertahun-tahun.
Anak usia kecil memang banyak bermain dan mencoba hal baru. Karena itu orang tua harus sabar, terus menasihati, dan tidak cepat putus asa.
Disebutkan bahwa banyak orang yang dahulu bermasalah ketika muda namun akhirnya menjadi dai dan orang baik karena doa dan kesabaran orang tua mereka.
🤝 Waktu Keluarga dan Keadilan Antar Anak
Kajian menekankan pentingnya:
quality time keluarga,
ngobrol bersama,
mendengar cerita anak,
adil dalam perhatian dan hadiah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ
Artinya:
“Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anak kalian.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ustaz mengingatkan jangan sampai anak lebih nyaman curhat kepada orang luar dibanding keluarganya sendiri.
🥩 Ketelitian Halal dalam Rezeki
Kajian juga membahas pentingnya memastikan makanan dan penghasilan halal.
Diceritakan adanya kasus produk yang ternyata tercampur bahan non-halal walau terlihat aman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
Artinya:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim)
Makanan halal dan rezeki halal sangat berpengaruh terhadap keberkahan keluarga dan pendidikan anak.
🔄 Sesi Tanya Jawab
• Apakah istri boleh membiayai qurban tapi suami yang melaksanakannya atas namanya?
• Hukum menggadaikan emas tanpa riba; bolehkah barang dipakai; bagaimana cara membayar?
• Kewajiban mencari orang tua kandung jika ditelantarkan; apakah Birrul Walidain tetap wajib?
• Cara menghadapi orang tua yang suka merendahkan makanan pemberian orang lain?
• Apakah Quran 66:6 (At-Tahrim) berlaku juga untuk saudara kandung selain pasangan dan anak?
Jawaban
• Qurban: Jika wanita membiayai orang tuanya, qurban itu bermanfaat bagi mereka; idealnya, ayah yang melaksanakan agar keduanya mendapat pahala. Boleh istri menyediakan dana (bisa dibagi 50-50) untuk kurban atas nama suami.
• Gadai: Jaminan tidak boleh dipakai oleh yang memegang; pembayaran harus sesuai nominal pinjaman, bukan nilai/berat emas; riba tidak diperbolehkan.
• Ditelantarkan orang tua: Birrul walidain tetap wajib (misalnya doa, berbuat baik). Mencari mereka tidak wajib, tapi jika memungkinkan dan aman, menemui dan berbuat birr sangat dianjurkan.
• Orang tua yang merendahkan makanan: Tegur dengan lemah lembut tanpa terkesan menggurui; gunakan cara halus (contoh Ibn ‘Abbas) untuk mengajarkan tanpa menyakiti.
• Cakupan Quran 66:6: Kewajiban utama pada pasangan dan anak sesuai tafsir; memperhatikan dan menasihati saudara baik, tapi tanggung jawab formal tergantung konteks wali.
Tentang Qurban
Istri boleh membantu biaya qurban atas nama suami atau orang tua, dan keduanya bisa mendapatkan pahala sesuai niat.
Tentang Rahn (Gadai)
Barang gadai adalah amanah dan tidak boleh dimanfaatkan oleh penerima pinjaman. Pengembalian tetap berdasarkan nominal pinjaman, bukan nilai emas yang berubah.
Tentang Orang Tua yang Menelantarkan Anak
Birrul walidain tetap dianjurkan meskipun orang tua pernah meninggalkan anak.
Allah Ta’ala berfirman:
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
Artinya:
“Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik.”
(QS. Luqman: 15)
📌 Kesimpulan Kajian
Kajian ini menegaskan bahwa anak shalih lahir dari:
rumah yang dipenuhi tauhid,
orang tua yang bertakwa,
doa yang terus-menerus,
komunikasi yang lembut,
lingkungan yang baik,
keteladanan nyata,
dan kesabaran panjang dalam mendidik.
Parenting Islami bukan hanya mengurus kebutuhan dunia anak, tetapi membangun iman, akhlak, dan keselamatan mereka menuju akhirat.
saksikan kajian lengkapnya disini:
https://www.youtube.com/live/QmGjIT-NYCo?si=Z2rLIqHDUuz4yIoN