Kasih Sayang Itu ada 100 Bagian
Syarah Kitab Al-Adabul Mufrad (Imam Bukhari)
bersama Ustadz Faisal Hidayat, BA., S.Pd حفظه الله
Bab 54–55 • Kajian Rutin The Followers
Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan berkumpul dalam majelis ilmu, melanjutkan kajian Kitab Al-Adabul Mufrad karya Imam Bukhari rahimahullah. Shalawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah beliau hingga hari kiamat. Kali ini kita memasuki Bab 54 dan 55.
Bab 54: Rahmat Itu Ada Seratus Bagian
Imam Bukhari rahimahullah membawakan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:
جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا، وَأَنْزَلَ فِي الْأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَٰلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ، حَتَّىٰ تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ
Ja‘alallāhur-rahmata mi’ata juz’in, fa-amsaka ‘indahu tis‘atan wa tis‘īna juz’an, wa anzala fil-ardhi juz’an wāhidan, famin dzālikal-juz’i yatarāhamul-khalqu, hattā tarfa‘al-farasu hāfirahā ‘an waladihā khasyata an tushībah
“Allah menjadikan rahmat itu seratus bagian, lalu menahan sembilan puluh sembilan bagian di sisi-Nya, dan menurunkan satu bagian ke bumi. Maka dari satu bagian itulah makhluk saling menyayangi, sampai-sampai seekor kuda mengangkat kakinya dari anaknya karena khawatir menginjaknya.” (HR. Bukhari no. 6469 & Muslim no. 2752, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Dengan hanya satu persen dari rahmat Allah ﷻ, seluruh makhluk — manusia maupun hewan — memiliki rasa kasih sayang: seorang ibu rela berkorban untuk anaknya, kuda berhati-hati mengangkat kaki agar tidak menginjak anaknya, bahkan hewan buas pun menyayangi keturunannya. Adapun 99 bagian yang tersisa disimpan Allah ﷻ untuk diberikan kepada orang-orang beriman kelak di surga. Betapa indahnya dunia yang hanya diciptakan dari 1% rahmat-Nya; bagaimana lagi 99% rahmat yang akan diperoleh di surga? Nabi ﷺ menggambarkan keindahannya lewat hadits qudsi:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَىٰ قَلْبِ بَشَرٍ
A‘dadtu li-‘ibādiyash-shālihīna mā lā ‘ainun ra’at, wa lā udzunun sami‘at, wa lā khathara ‘alā qalbi basyar
“(Allah berfirman) Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh apa yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.” (HR. Bukhari no. 3244 & Muslim no. 2824, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Pelajaran dari hadits ini: pertama, hendaknya seorang muslim senantiasa optimis dan berbaik sangka (husnuzhan) kepada Allah ﷻ, tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Perasaan putus asa dan buruk sangka kepada Allah ﷻ adalah bisikan setan, sebagaimana firman-Nya:
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Asy-syaithānu ya‘idukumul-faqra wa ya’murukum bil-fahsyā’, wallāhu ya‘idukum maghfiratan minhu wa fadhlā, wallāhu wāsi‘un ‘alīm
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjadikan untukmu ampunan dan karunia dari-Nya. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268)
Kedua, hendaknya seorang muslim bersabar — tidak menggadaikan rahmat kecil di dunia (yang bila 1% tersebut dibagi ke seluruh makhluk di dunia, terhitung amatlah kecil) dengan melanggar perintah Allah ﷻ, sehingga terhalang dari 99 bagian rahmat yang jauh lebih besar di akhirat. Jangan sampai demi kenikmatan sesaat seperti khamar atau zina, seseorang menggadaikan kenikmatan yang berlipat-lipat ganda di surga.
Bab 55: Wasiat dengan Tetangga
Susunan bab dalam Al-Adabul Mufrad menunjukkan skala prioritas kebaikan dalam Islam: dimulai dari bakti kepada orang tua, kasih sayang kepada anak, hingga sampai pada bab tetangga. Imam Bukhari rahimahullah membawakan riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu 'anha:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّىٰ ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
Mā zāla jibrīlu yūshīnī bil-jāri hattā zhanantu annahu sayuwarritsuh
“Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai aku mengira ia akan menjadikannya sebagai ahli waris.” (HR. Bukhari no. 6014 & Muslim no. 2624)
Seringnya Jibril ‘alaihis-salam mengulang wasiat ini menunjukkan besarnya hak tetangga. Perkara tetangga bukan perkara remeh — bahkan menjadi sebab seseorang masuk surga atau neraka. Ketika ditanya tentang seorang wanita yang rajin shalat malam, puasa, dan sedekah, namun lisannya menyakiti tetangga, Nabi ﷺ bersabda:
هِيَ فِي النَّارِ
Hiya fin-nār
“Dia (wanita itu) di neraka.” (HR. Ahmad no. 9675 & Al-Hakim; dinilai sahih oleh sebagian ulama, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Dan dengan sumpah tiga kali, menunjukkan betapa seriusnya perkara ini:
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Wallāhi lā yu’min, wallāhi lā yu’min, wallāhi lā yu’min. Qīla: man yā rasūlallāh? Qāla: alladzī lā ya’manu jāruhu bawā’iqah
“Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Ditanyakan: Siapa, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan (keburukan)-nya.” (HR. Bukhari no. 6016, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Siapa yang dimaksud tetangga?
Tetangga terdekat adalah yang rumahnya berdempetan dengan kita (depan, samping kanan-kiri); semakin dekat, semakin besar tanggung jawab kita. Ada pula tetangga jauh (beda blok/gang/lingkungan) yang tetap wajib diperlakukan baik. Hak ini berlaku bagi siapa pun tetangga kita — muslim maupun kafir, kerabat maupun bukan, sesuku maupun berbeda — tidak boleh didzalimi. Tetangga yang paling besar haknya adalah yang menghimpun tiga hal sekaligus: muslim, kerabat, dan saleh.
Bentuk berbuat baik kepada tetangga
Dengan ucapan: mengucap salam, ramah, bertutur kata yang baik, tidak merendahkan. Dengan perbuatan: memberi hadiah, menjenguk saat sakit, meminjamkan sesuatu yang dibutuhkan, dan membantu dalam kesulitan.
Riwayat berikutnya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhiri falyukrim jārah, wa man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhiri falyukrim dhaifah, wa man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhiri falyaqul khairan au liyashmut
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 & Muslim no. 47)
Nabi ﷺ mengaitkan bakti kepada tetangga dengan dua rukun iman: iman kepada Allah ﷻ (sebab Dialah yang mewajibkan hak tersebut) dan iman kepada hari akhir (sebab setiap kebaikan maupun kezaliman akan dituai balasannya kelak).
Memuliakan tamu
Termasuk dalam hadits yang sama: memuliakan tamu, baik dengan perkataan (sambutan hangat) maupun perbuatan (menjamu sesuai kemampuan). Semakin besar pengorbanan dalam menjamu, semakin besar pula pahalanya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ
Inna ‘izhamal-jazā’i ma‘a ‘izhamil-balā’
“Sesungguhnya besarnya balasan (pahala) itu sebanding dengan besarnya ujian.” (HR. Tirmidzi no. 2396; hasan sahih, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)
Teladannya adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis-salam yang menjamu tamunya — dua malaikat yang menyamar sebagai manusia dan tidak beliau kenali — dengan daging anak sapi gemuk:
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ
Hal atāka hadītsu dhaifi ibrāhīmal-mukramīn, idz dakhalū ‘alaihi faqālū salāman qāla salāmun qaumun munkarūn, farāgha ilā ahlihi fajā’a bi‘ijlin samīn, faqarrabahu ilaihim qāla alā ta’kulūn
“Sudahkah sampai kepadamu kisah tamu Ibrahim yang dimuliakan? Ketika mereka masuk menemuinya lalu mengucapkan salam, ia menjawab salam (pula), (dengan berkata dalam hati) mereka orang-orang yang belum dikenal. Lalu ia pergi menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk, dan dihidangkannya kepada mereka. Ia berkata, tidakkah kamu makan?” (QS. Adz-Dzariyat: 24–27)
Adab bertamu
Islam juga mengatur adab bertamu, agar tamu tidak sewenang-wenang atas hak dimuliakan. Di antaranya: tidak bertamu di waktu-waktu yang tidak pantas (istirahat siang, malam larut, sebelum subuh) — sebagaimana Allah ﷻ mengatur waktu-waktu privasi dalam rumah tangga (QS. An-Nur: 58); tidak melayangkan pandangan ke sekeliling rumah tuan rumah; dan tidak berlama-lama melebihi kemampuan/kenyamanan tuan rumah.
Catatan dari Sesi Tanya Jawab
Bolehkah menyisipkan doa saat menjamu tamu, berharap doa dikabulkan lewat amal tersebut?
Boleh, ini termasuk tawasul dengan amal saleh/sedekah — berharap kepada Allah ﷻ agar amal kebaikan yang dilakukan menjadi sebab dikabulkannya doa. Dalilnya adalah kisah tiga orang yang terkurung dalam gua akibat batu besar yang menutup mulutnya:
انْطَبَقَتْ عَلَيْنَا صَخْرَةٌ، فَلَا نَسْتَطِيعُ لَهَا إِلَّا أَنْ نَدْعُوَ اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِنَا
Inthabaqat ‘alainā shakhrah, falā nastathī‘u lahā illā an nad‘uwallāha bishālihi a‘mālinā
“Sebuah batu besar menutup (mulut gua) kami, dan kami tidak sanggup (membukanya) kecuali dengan berdoa kepada Allah lewat amal-amal saleh kami.” (HR. Bukhari no. 2272 & Muslim no. 2743, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma)
Satu per satu dari mereka bertawasul dengan amal saleh yang paling ikhlas dalam hidupnya — birrul walidain, meninggalkan zina yang hampir dilakukan, dan menjaga amanah harta pekerja upahan — dan setiap doa dikabulkan dengan terbukanya sedikit demi sedikit celah batu, hingga akhirnya mereka bisa keluar. Prinsip yang sama berlaku pada amal apa pun: shalat dhuha, sedekah, dan lainnya boleh disertai harapan agar Allah ﷻ memudahkan suatu urusan lewatnya.
Apakah amal seperti sedekah bisa sampai kepada orang tua yang telah wafat?
Bisa. Sedekah atas nama mayat termasuk amal yang disepakati para ulama pahalanya sampai kepada yang telah meninggal.
Apakah boleh menyebutkan harga suguhan kepada tamu?
Tidak selayaknya. Sebagaimana disebutkan sebagian ulama, menyebut harga suguhan yang dihidangkan justru dapat menyakiti hati tamu; hendaknya jamuan diberikan dengan tulus tanpa menekankan nilai materinya.
Penutup: Kisah Al-‘Adawi dan Sa‘id bin Al-‘Ash radhiyallahu 'anhu
Orang Arab memiliki pepatah: al-jāru qablad-dār — “(carilah) tetangga sebelum (memilih) rumah”. Dikisahkan (dalam riwayat masyhur di kitab-kitab akhlak dan tarikh), Al-‘Adawi memiliki tetangga bernama Sa‘id bin Al-‘Ash radhiyallahu 'anhu. Suatu hari ada yang ingin membeli rumahnya seharga 100.000 dinar. Al-‘Adawi bertanya, “Berapa kalian mau membayar untuk harga bertetangga dengan Sa‘id bin Al-‘Ash?” Calon pembeli terkejut dan membatalkan niatnya. Al-‘Adawi menjelaskan: tetangganya itu selalu mencarinya bila ia tak ada, menyambutnya dengan sukacita bila ia kembali, menjaga rumah dan keluarganya saat ia bepergian, bersedia membantu dan meminjamkan apa pun tanpa diminta, bahkan menawarkan bantuan sebelum diminta. Karena kemuliaan akhlak tetangganya itulah, Al-‘Adawi tidak rela menukar status bertetangga dengannya dengan harga berapa pun.
Berbuat baik kepada tetangga bukan sekadar etika sosial atau formalitas, melainkan perintah agama yang mempertaruhkan keimanan, surga, dan neraka seseorang. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita orang-orang yang sabar berbuat baik kepada tetangga, dan menjadikan kita tetangga yang baik pula bagi orang lain.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Jika ada kebenaran, ia dari Allah ﷻ; jika ada kekeliruan, ia dari kelemahan diri kami.
https://www.youtube.com/live/e3ERtpRjooY?si=pJioEEvmZ6E2KmjN