Bahaya Mager bagi Penuntut Ilmu, Bisa Hilang Keberkahan
8 months ago
33 views

Bahaya Mager bagi Penuntut Ilmu, Bisa Hilang Keberkahan

Hal pertama yang harus diperhatikan oleh seseorang yang menyebut dirinya

Penuntut Ilmu adalah niat yang ia kehendaki. Sebab, bagi seorang penuntut ilmu, tidak pantas mencampurkan hal-hal yang berbau khabits (buruk).

Seperti halnya air laut, jika dilihat dengan mata tampak bening dan jernih, namun ketika dirasakan meninggalkan rasa asin. Sebaliknya, mata air kadang terlihat keruh, tetapi ketika diminum terasa tawar dan menyegarkan. Begitu pula seorang penuntut ilmu, siapa pun dia, apabila telah mencampurkan niatnya antara dunia dan akhirat, maka cukuplah baginya seburuk-buruk penuntut ilmu. Itu artinya ia telah merendahkan kemuliaan dirinya sendiri.

Maka yang paling utama bagi penuntut ilmu adalah ikhlas, sebab menuntut ilmu erat kaitannya dengan ibadah. Sementara ibadah tidak bisa lepas dari niat. Yang terpenting juga ialah selalu menghadirkan keseriusan dan rasa haus akan ilmu, karena itulah makanan yang menguatkan niatnya.

Bagi penuntut ilmu, menjauhi kemaksiatan merupakan suatu keharusan, dan apabila terjatuh ke dalamnya hendaknya segera bertaubat. Bahkan meniatkan untuk bermaksiat saja sudah cukup mencederai keikhlasan dalam menuntut ilmu. Hal itu sangat berbahaya, karena bisa menjauhkan dirinya dari Allah.

Dikhawatirkan keberkahan yang selama ini Allah karuniakan kepadanya hilang tanpa ia sadari, atau bahkan Allah mencabut kesadaran itu darinya.

Setelah mampu menopang niat dengan keikhlasan, hendaklah ia membantunya dengan menjauhi sifat malas. Para ulama telah mewanti-wanti siapa saja yang menuntut ilmu untuk meninggalkan rasa tahayyuz, atau yang di zaman milenial dikenal dengan istilah mager (malas bergerak).

Dewasa ini, banyak penuntut ilmu terjangkit penyakit tahayyuz. Hal ini tidak lain karena kurangnya kesungguhan dalam meneguhkan niat serta kurangnya rasa syukur dalam dirinya. Maka hendaklah niat itu selalu dibarengi dengan rasa syukur kepada Allah. Sebab tanda kebaikan dari Allah bagi seorang hamba adalah ketika Allah menetapkan hatinya untuk tetap ikhlas dalam menuntut ilmu.Oleh karena itu, perangilah rasa tahayyuz dengan bermujahadah: menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, memberikan porsi lebih dalam belajar, memperbanyak pengulangan, dan seterusnya.

Setelah seseorang mampu menjaga niat, maka ia harus menguatkan diri untuk selalu mencari kebenaran dan bersungguh-sungguh di dalamnya. Ia tidak boleh hanya membenarkan apa yang ia dapatkan, atau sebaliknya menyalahkan sesuatu hanya karena tidak sesuai dengan dirinya.

Maksud dari hal ini adalah bagaimana ia bersungguh-sungguh dalam mencari kebenaran sampai batas yang dibenarkan oleh agama, bukan sebatas oleh akal.

Karena akal hanya berfungsi untuk memahami agama, bukan sebagai tempat pembenaran agama.

Dari sinilah seorang penuntut ilmu akan lebih memahami betapa pentingnya berlaku inshof (adil) dalam menilai dua hal yang berbeda. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan pada suatu permasalahan yang sama-sama memiliki dalil yang kuat.

Maka mari kita periksa kembali niat dan cara kita dalam menuntut ilmu. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita keistiqamahan dalam menuntut ilmu dan ketaatan

Penulis : Ustadz. Riza Ashfari Mizan, BA.

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
Belum ada komentar
Artikel Terbaru Riza Ashfari Mizan