Benarkah Adanya Hadis Lemah di Kitab Tauhid Karya Muhammad bin Abdul Wahab Menjadi Masalah Besar?
8 days ago
56 views

Sudah lama membaca narasi yang menyudutkan kitab at-Tauhid, dan bahkan sampai mencaci maki. Tentu sikap ini jauh dari nilai akademisi, dan lebih jauh lagi tidak mencerminkan sikap seorang mukmin. Ada anggapan bahwa keberadaan hadis lemah dalam Kitab at-Tauhid menjadi bukti kelemahan isi kitab tersebut. Sekilas, tuduhan ini terdengar tegas. Bahkan bagi sebagian orang, cukup meyakinkan. Tetapi kalau kita berhenti sejenak dan membacanya dengan lebih tenang, persoalannya ternyata tidak sesederhana itu.

Sebuah kitab ilmiah tidak selalu disusun dengan satu pola yang sama. Ada kitab yang memang khusus menghimpun hadis sahih. Ada juga kitab yang disusun untuk menjelaskan tema tertentu, lalu penulisnya mengutip dalil-dalil yang mendukung pembahasan, termasuk riwayat yang dipakai sebagai penguat. Di titik ini, keberadaan hadis lemah tidak otomatis berarti seluruh isi kitab bermasalah. Yang perlu diperiksa justru: dipakai untuk apa hadis itu? Apakah ia menjadi dasar utama, atau hanya sebagai pendukung?

Dalam tradisi ulama, perbedaan seperti ini penting sekali. Karena sebuah riwayat lemah kadang disebut bukan untuk menetapkan hukum secara mandiri, melainkan untuk menguatkan makna yang sudah didukung oleh dalil lain yang lebih kuat. Jadi, kalau ada orang yang langsung menyimpulkan bahwa kitab tersebut “gugur” hanya karena memuat hadis lemah, kesimpulan itu terasa terlalu cepat.

Masalahnya, kritik semacam ini sering tidak melihat susunan argumen secara keseluruhan. Padahal, sebuah bab bisa saja tetap kokoh karena ditopang ayat Al-Qur’an, hadis sahih, dan kaidah yang sudah dikenal luas oleh para ulama. Dalam keadaan seperti itu, riwayat lemah tidak berdiri sendirian. Ia hanya datang sebagai tambahan penjelas, bukan sebagai fondasi utama.

Karena itu, sikap yang lebih adil adalah membedakan antara koreksi ilmiah dan penolakan total. Mengoreksi satu riwayat yang lemah itu wajar. Bahkan itu bagian dari ketelitian ilmiah. Tetapi menjadikan satu titik lemah sebagai alasan untuk meruntuhkan keseluruhan kitab jelas bukan cara baca yang sehat.

Kalau kita melihatnya dengan kacamata akademik, Kitab at-Tauhid tetap memiliki nilai penting dalam pembahasan tauhid. Tentu saja, sebagaimana karya ulama lainnya, ia tidak lepas dari ruang kajian dan kritik. Namun kritik yang jujur harus proporsional. Bukan hanya menunjuk satu riwayat lalu mengabaikan keseluruhan bangunan argumentasi yang dibangun penulisnya.

Kita belajar satu hal penting: membaca kitab ulama tidak cukup dengan semangat mencari celah. Yang jauh lebih penting adalah memahami cara berpikir penulis, tujuan penulisan, dan posisi setiap dalil di dalam struktur pembahasan. Tanpa itu, kritik mudah berubah menjadi vonis.

Dalam kitab Syarh Lumati al-'Itiqad karya Abdurrahman bin Saleh al-Mahmud, juz 5 hlm. 12, disebutkan pembahasan tentang pentingnya memahami dalil sesuai konteksnya, bukan sekadar berhenti pada bentuk lahir satu riwayat.

Jadi, adanya hadis lemah dalam Kitab at-Tauhid tidak cukup untuk dijadikan alasan menolak kitab itu secara keseluruhan. Yang lebih tepat adalah memeriksa setiap riwayat secara ilmiah, lalu melihat fungsinya dalam pembahasan. Dengan cara ini, kita tidak jatuh pada generalisasi yang tergesa-gesa, dan pembacaan terhadap karya ulama pun menjadi lebih adil.

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
Belum ada komentar
Artikel Terbaru Riza Ashfari Mizan