Benarkah Musik Bisa Merusak Dakwah? Renungi Kisah An-Nadhr bin al-Haris!
Ketika seorang dai berdakwah dibarengi dengan lagu atau musikal. Hakekatnya bukan kebenaran yang dicari tapi hiburan. Seakan-akan ia sedang mengemas sebuah keburukan dengan kebaikan. Dan ini sangat tipis dari pandangan manusia.
Maka pada dasarnya dakwah nabi merujuk kepada pondasi ilmu dan kebenaran iman. Tidak mungkin cahaya bisa disamakan dengan kegelapan. Maka coba renungi sebuah kisah yang mana dimuat oleh imam Jalaluddin As Suyuthi di kitab ad-Durral Manstur,
Diriwayatkan dari ibnu Abbas ditakhrij oleh Juwaibir bahwa an-Nadhr bin al-Haris membeli qoinah (budak perempuan). Maka, setiap dia mendengar ada seseorang masuk Islam, dia segera mengutus budak perempuannya tersebut, seraya berkata,
أطْﻌﻣِﯾﮫِ واﺳْﻘِﯾﮫِ وﻏَﻧﱢﯾﮫِ، ھَذا ﺧَﯾْرٌ ﻣِﻣّﺎ ﯾَدْﻋُوكَ إﻟَﯾْﮫِ ﻣُﺣَﻣﱠدٌ
“Hidangkan makanan dan minuman untuknya serta bernyanyilah untuknya. Ini lebih baik dari pada apa yang diajak oleh Muhammad kepadamu.”
Dari kejadian di atas maka turunlah ayat sebagai bentuk preventif atas perbuatan an-Nadhr. Allah berfirman,
وﻣن اﻟﻧﺎس ﻣن ﯾﺷﺗري ﻟﮭو اﻟﺣدﯾث ﻟﯾﺿل ﻋن ﺳﺑﯾل ﷲ
“Diantara manusia ada yang menggunakan perkataan tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.” (Luqman:6)
Kemudian maksud dari ‘perkataan tidak berguna’ atau ‘lahwal hadis’ pada ayat diatas adalah lagu dan semisalnya. Sebagaimana ditakhrij oleh al-Firyabi, Ibnu Jarir, dan Ibnu Marduwaih dari Ibnu Abbas.
Jadi, ini menunjukkan bahwa musik atau lagu merupakan hal yang batil, dan dapat menyebabkan dakwah yang haq menjadi rusak. Bahkan Allah sifati ‘lahwal hadis’bentuk dari kesesatan
Penulis : Ustadz. Riza Ashfari Mizan, BA.