Berbakti kepada Orang Tua
di Masa Senja
Faedah dari Daurah Keluarga bersama Dr. Hudzaifah Maricar, Lc., MA حفظه الله
Daurah Keluarga Spesial Liburan • Bali Mengaji
Setiap manusia yang diberi umur panjang pasti akan menua — ini termasuk sunnatullah yang tidak bisa dihindari. Allah menggambarkan tiga fase kehidupan manusia: lemah saat kecil, kuat di masa dewasa, lalu lemah kembali di masa tua:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً
Allāhul-ladzī khalaqakum min dha‘fin tsumma ja‘ala min ba‘di dha‘fin quwwatan tsumma ja‘ala min ba‘di quwwatin dha‘fan wa syaibah
“Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” (QS. Ar-Rum: 54)
Saat lahir kita tidak bisa apa-apa — buang air pun harus dibantu orang tua. Lalu Allah memberi kekuatan hingga kita mampu melakukan hal-hal besar. Kemudian Allah mengembalikan kita ke keadaan lemah di masa tua. Tidak seorang pun bisa menolak; ingin tetap seperti usia 25 saat sudah 50 tahun adalah mustahil. Maka di masa senja itulah bakti kepada orang tua semakin ditekankan.
Perintah Berbakti yang Dikaitkan dengan Ibadah kepada Allah
Allah mengaitkan perintah beribadah kepada-Nya secara langsung dengan perintah berbakti kepada kedua orang tua, dan secara khusus menyebut masa tua mereka:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Wa qadhā rabbuka allā ta‘budū illā iyyāhu wa bil-wālidaini ihsānā, immā yablughanna ‘indakal-kibara ahaduhumā au kilāhumā fa-lā taqul lahumā uffin wa lā tanharhumā wa qul lahumā qaulan karīmā
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah satu di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya ‘ah’, dan janganlah membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’: 23)
Mengucapkan “ah” saja dilarang — apalagi yang lebih dari itu seperti meninggikan suara atau membentak; sungguh menyakitkan hati orang tua yang dibentak. Di masa tua, emosi orang tua sudah tidak seperti dulu: mudah tersinggung, mudah lupa, dan lebih sensitif — terlebih bila pasangannya telah tiada sehingga ia tinggal sendiri. Maka kita harus lebih ekstra berhati-hati dan lemah lembut. Bila beliau mengulang-ulang ceritanya, dengarkanlah — sebagaimana dahulu beliau mendengarkan cerita kita yang berulang saat kecil tanpa pernah bosan.
Keutamaan Ibu yang Lebih Ditekankan
Allah secara khusus menekankan bakti kepada ibu karena beratnya pengorbanan beliau mengandung dan melahirkan:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ
Wa washshainal-insāna bi-wālidaihi hamalat-hu ummuhu wahnan ‘alā wahnin wa fishāluhu fī ‘āmaini anisykur lī wa li-wālidaik
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” (QS. Luqman: 14)
Hal ini ditegaskan pula dalam hadits masyhur ketika seorang sahabat bertanya siapa yang paling berhak ia perlakukan dengan baik:
جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أَبُوكَ
Jā’a rajulun fa-qāla: yā rasūlallāh, man ahaqqun-nāsi bi-husni shahābatī? Qāla: ummuk, qāla: tsumma man? Qāla: ummuk, qāla: tsumma man? Qāla: ummuk, qāla: tsumma man? Qāla: abūk
“Seorang lelaki datang dan bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Beliau menjawab: Ibumu. Ia bertanya: Lalu siapa? Beliau menjawab: Ibumu. Ia bertanya lagi: Lalu siapa? Beliau menjawab: Ibumu. Ia bertanya lagi: Lalu siapa? Beliau menjawab: Ayahmu.” (HR. Bukhari no. 5971 & Muslim no. 2548)
Mengapa ibu lebih ditekankan? Karena jasa ibu lebih mudah dilupakan. Jasa ayah lebih kasat mata (membiayai sekolah, memberi mainan), sedangkan ibu kerap “hanya” dikenang sebagai yang mengomel — padahal beliaulah yang mengandung dengan susah payah, menyusui sambil berdiri, dan begadang merawat kita di waktu kecil tanpa kita sadari dan tanpa terdokumentasi. Maka jangan membalas pengorbanan itu dengan kekesalan. Renungkan: orang tua merawat kita dengan harapan kita hidup lebih lama; jangan sampai kita merawat mereka dengan diam-diam berharap sebaliknya.
Bakti yang Dibalas Sejak di Dunia, dan Ancaman bagi yang Menyia-nyiakannya
Berbakti kepada orang tua termasuk amalan yang Allah segerakan balasannya di dunia sebelum akhirat. Sebaliknya, Nabi ﷺ memberi ancaman keras bagi yang menyia-nyiakan kesempatan berbakti kepada orang tua yang lanjut usia:
رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ، مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ
Raghima anfuh, tsumma raghima anfuh, tsumma raghima anfuh, man adraka abawaihi ‘indal-kibari ahadahumā au kilaihimā tsumma lam yadkhulil-jannah
“Sungguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka — seseorang yang mendapati kedua orang tuanya di masa tua, salah satu atau keduanya, namun (bakti kepada mereka) tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR. Muslim no. 2551, dari Abu Hurairah)
Maknanya, ia tidak memanfaatkan keberadaan orang tua sebagai pintu surga. Bagi yang orang tuanya masih hidup, pintu surga itu masih terbuka; maka raihlah dengan berbakti. Bentuk durhaka bukan hanya membentak atau mengusir; memutus komunikasi pun termasuk — terutama bagi yang merantau (LDR). Maka seringlah menelepon, menanyakan kabar; ini bagian dari silaturahim (menyambung yang terputus). Beri pula perhatian lebih, dan rendahkan diri di hadapan mereka:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Wakhfidh lahumā janāhadz-dzulli minar-rahmati wa qul rabbir-hamhumā kamā rabbayānī shaghīrā
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku waktu kecil.” (QS. Al-Isra’: 24)
Sehebat apa pun seseorang di luar — profesor, akademisi, CEO — ketika masuk rumah ia tetaplah anak dari ibu dan ayahnya. Bahkan dikisahkan, seorang ulama besar yang diikuti mazhabnya oleh banyak orang tetap dianggap “anak kecil” oleh ibunya. Maka jangan merasa lebih pintar, lebih hebat, atau lebih berjasa di hadapan orang tua.
Kita Tak Akan Mampu Membalas Jasa Orang Tua
Dikisahkan seseorang menggendong ibunya saat berhaji dan merasa telah membalas jasa beliau. Namun ketika ditanyakan kepada Ibnu ‘Umar (dalam riwayat masyhur), dijawab bahwa itu belum sebanding dengan satu tarikan napas sakit sang ibu saat melahirkannya. Betapa pun kita merawat — menggendong saat haji, dan seterusnya — itu belum menyamai pengorbanan beliau yang menyusui sambil berdiri dan begadang menggantikan popok kita saat menangis di tengah malam. Kita baru benar-benar menyadari beratnya menjadi orang tua ketika melihat istri kita sendiri menjalaninya.
Bila Orang Tua Telah Wafat: Doa dan Sedekah
Bila orang tua telah wafat, kita tetap dapat berbakti dengan mendoakan dan bersedekah atas nama mereka, sebab termasuk amal yang tidak terputus, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Idzā mātal-insānun-qatha‘a ‘anhu ‘amaluhu illā min tsalātsah: illā min shadaqatin jāriyah, au ‘ilmin yuntafa‘u bih, au waladin shālihin yad‘ū lah
“Apabila manusia meninggal, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631, dari Abu Hurairah)
Maka doakanlah orang tua agar diampuni, diberi nikmat kubur, dan diangkat derajatnya di surga. Bersedekah jariah atas nama mereka — membangun masjid, menyumbang sumur — pahalanya terus mengalir selama dimanfaatkan. Sebagian ulama bahkan menganjurkan, karena Allah mengaitkan ibadah dengan bakti kepada orang tua, hendaknya kita mendoakan mereka sebanyak shalat kita, yakni lima kali sehari — meski tidak wajib, hal itu menunjukkan betapa agungnya kedudukan mereka.
Catatan dari Sesi Tanya Jawab
Adakah doa khusus untuk ibu?
Di dalam Al-Qur’an, jasa ibu disebut secara khusus (seperti dalam QS. Luqman: 14) yang melebihi penyebutan jasa ayah, namun tidak ada ayat yang memerintahkan mendoakan ibu saja. Yang terbaik adalah mendoakan kedua orang tua sekaligus — dengan lafaz dalam Al-Qur’an seperti “rabbir-hamhumā kamā rabbayānī shaghīrā”, atau dengan bahasa kita sendiri, sebab doa tidak harus dengan lafaz tertentu; boleh pula kita perbanyak doa untuk ibu.
Cara mengingatkan orang tua agar lebih beribadah tanpa terkesan menggurui
Nasihat langsung dari anak kerap sulit diterima karena orang tua masih menganggap kita anak kecil. Tempuh cara tidak langsung: ajak beliau ke kajian dengan dibungkus ajakan jalan/makan di luar; sediakan akses ceramah (TV/internet/YouTube); putar ceramah saat kita berada di rumah beliau tanpa perlu banyak bicara; atau minta tolong sahabat/orang yang dihormati beliau untuk menyampaikan nasihat — biasanya lebih masuk. Bila semua ikhtiar belum berhasil, jangan putus asa — terus doakan, sebab hidayah hanya di tangan Allah. Bahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis-salām pun terus mendakwahi ayahnya tanpa lelah; tugas kita berusaha dan berdoa, hasilnya milik Allah.
Anak yang dititipkan di panti sejak kecil: berbakti kepada siapa?
Bakti kepada orang tua kandung tidak pernah gugur — sebab ibulah yang mengandung dan melahirkan dengan susah payah. Maka kepada orang tua kandung tetap wajib berbakti. Namun kepada pengasuh panti yang telah merawat, kita pun wajib membalas kebaikan, sebab siapa yang tidak bersyukur kepada manusia (yang berbuat baik kepadanya) pada hakikatnya tidak bersyukur kepada Allah. Bahkan membalas kebaikan dengan yang lebih baik (mu‘amalah bil-fadhl) lebih utama daripada sekadar setimpal.
لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
Lā yasykurullāha man lā yasykurun-nās
“Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 4811 & Tirmidzi; sahih)
Anak perempuan yang merantau ikut suami: apakah kewajiban berbakti gugur?
Kewajiban berbakti tidak gugur, namun disesuaikan dengan kemampuan dan tidak boleh berbenturan dengan ketaatan kepada suami. Yang selalu bisa dilakukan: mendoakan orang tua (tanpa perlu izin siapa pun); menelepon/video call dan mengabari hal-hal baik (sebab kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua); mengunjungi bila memungkinkan dengan izin suami (dan suami yang baik tidak akan menghalangi istri berbakti kepada orang tuanya); serta membantu secara materi dari nafkah yang telah menjadi haknya bila orang tua membutuhkan. Suami yang baik justru memfasilitasi istrinya untuk berbakti kepada orang tuanya.
Bolehkah melarang ayah (atau ibu) menikah lagi setelah pasangannya wafat?
Tidak ada alasan syar’i untuk melarang tanpa sebab yang jelas. Setiap orang memiliki kebutuhan biologis dan kebutuhan akan pendamping; menikah lagi adalah halal — bahkan sebaiknya didukung agar penyalurannya pada yang halal dan ada yang merawat di masa tua. Hal yang sama berlaku bila ibu yang ingin menikah lagi (meski lebih jarang terjadi). Justru bantulah mencarikan pendamping yang saleh/salehah yang dapat mengantarkan orang tua kepada kebaikan.
Berbuat baik kepada ibu tiri yang dahulu memisahkan orang tua?
Tetap berbuat baik kepada ibu tiri dengan cara yang baik dan elegan — sebab ia pendamping ayah kita; bahkan kebaikan kita (misalnya memberi hadiah) bisa menjadi sebab ia berubah menjadi lebih baik. Bila setelah segala ikhtiar ia tidak berubah, kita cukup menunaikan kewajiban kita; selebihnya bukan lagi tanggung jawab kita, yang penting kita telah berusaha terbaik.
Pahala sedekah masjid yang kemudian disalahgunakan; dan porsi orang tua vs mertua
Bila seseorang menyumbang pembangunan masjid dengan niat ibadah, lalu masjid itu disalahgunakan, niat baik di awal sudah sampai dan pahalanya tetap diperoleh; penyalahgunaan setelahnya bukan tanggung jawab penyumbang. Adapun porsi antara orang tua kandung dan mertua: bakti kepada orang tua kandung tentu lebih diutamakan, namun suami yang baik tetap memperhatikan dan membantu istrinya berbakti kepada mertua (orang tua istri), terlebih bila mereka kurang mampu — dan istri yang baik justru mendukung suami berbakti kepada orang tuanya, bukan cemburu.
Apakah ada orang tua yang durhaka kepada anak?
Anak adalah amanah dari Allah. Bila orang tua menelantarkan dan tidak menunaikan hak anak, ia berkhianat terhadap amanah dan akan dimintai pertanggungjawaban, sebab setiap orang adalah pemimpin yang akan ditanya tentang kepemimpinannya. Maka jadilah orang tua yang berbuat baik kepada anak-anaknya.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Jika ada kebenaran, ia dari Allah; jika ada kekeliruan, ia dari kelemahan diri kami.