City Tour Madinah al-Munawwarah
Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salafus Shalih
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Perlu diingat bahwa tujuan city tour di Madinah bukan untuk mencari keberkahan dari tempat-tempat tersebut, tetapi untuk mengambil ibrah (pelajaran) dari sejarah dakwah Rasulullah ﷺ. Hal ini sesuai firman Allah:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
"Sungguh pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal." (QS. Yusuf: 111)
Allah juga berfirman:
فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ
"Maka ambillah pelajaran wahai orang-orang yang mempunyai pandangan." (QS. Al-Hasyr: 2)
1. Tsaniyyatul Wada' (ثَنِيَّةُ الْوَدَاع)
Apa itu Tsaniyyatul Wada'?
Tsaniyyatul Wada' adalah sebuah jalan tinggi (celah gunung) di Madinah yang dahulu menjadi pintu masuk atau keluar kota dari arah Syam.
Di sinilah penduduk Madinah menyambut Rasulullah ﷺ ketika beliau hijrah dari Makkah menurut riwayat yang sangat masyhur di kalangan kaum muslimin.
Apakah benar di sinilah dinyanyikan "Ṭala'al Badru 'Alainā"?
Syair terkenal:
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا
مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ
وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا
مَا دَعَا لِلَّهِ دَاعِ
Artinya:
"Telah terbit bulan purnama kepada kami dari Tsaniyyatul Wada'. Wajiblah kami bersyukur selama masih ada orang yang mengajak kepada Allah."
Penjelasan Ulama Salaf
Riwayat ini sangat terkenal, tetapi para ahli hadits seperti:
Imam Al-Baihaqi
Ibnu Hajar al-'Asqalani
Muhammad Nashiruddin al-Albani
menjelaskan bahwa sanadnya tidak shahih.
Bahkan Syaikh Al-Albani dalam Silsilah adh-Dha'ifah menyatakan riwayat tersebut dha'if.
Sebagian ulama sejarah mengatakan syair itu kemungkinan dinyanyikan saat Rasulullah ﷺ pulang dari PERANG TABUK, bukan ketika hijrah.
Karena itu tidak boleh memastikan bahwa syair tersebut dibacakan ketika hijrah.
Kapan Terjadinya & Kekeliruan
Sejarah Banyak buku sejarah populer menyebutkan bahwa syair Thala'al Badru 'Alaina dikumandangkan di sini saat menyambut Nabi {ﷺ} pada peristiwa Hijrah.
Namun, para ulama ahli tahqiq (seperti Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zadul Ma'ad) menegaskan bahwa Tsaniyatul Wada' terletak di sebelah utara Madinah (arah Syam), sedangkan Nabi $\text{ﷺ}$ datang dari arah selatan (Makkah) saat Hijrah. Maka, penyambutan di lokasi ini yang paling tepat adalah saat beliau pulang dari Perang Tabuk pada tahun 9 Hijriah.
Pelajaran
Kegembiraan kaum Anshar menyambut Rasulullah ﷺ.
Kecintaan kepada Nabi harus sesuai sunnah.
Berita sejarah harus diverifikasi.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
"Apabila datang orang fasik membawa berita maka telitilah." (QS. Al-Hujurat: 6)
2. Jabal Makhruq (جبل مخروق)
Mengapa disebut Jabal Makhruq?
"Makhruq" berarti berlubang atau terbelah.
Gunung ini dinamakan demikian karena pernah dilakukan pengerukan atau peledakan sehingga tampak berlubang.
Peristiwa tersebut bukan terjadi pada masa Rasulullah ﷺ maupun para sahabat.
Mayoritas sejarawan menyebut perubahan itu terjadi pada masa pemerintahan Islam setelahnya, terutama pada masa akhir Daulah Utsmaniyah dan berlanjut pada masa modern untuk pembangunan jalan dan perluasan kawasan Madinah.
Tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan adanya keutamaan syar'i pada gunung ini.
Pelajaran
Tidak semua tempat bersejarah memiliki keutamaan ibadah.
Kaidah Salaf:
الأصل في العبادات التوقيف
"Asal ibadah adalah menunggu dalil."
3. Masjid Jum'at (مسجد الجمعة)
Mengapa dinamakan Masjid Jum'at?
Masjid ini berada di lembah Ranuna'.
Ketika Rasulullah ﷺ berhijrah menuju Madinah, beliau singgah di Quba selama beberapa hari.
Pada hari Jumat beliau melanjutkan perjalanan.
Di lembah Bani Salim bin Auf, waktu Zhuhur masuk.
Di tempat itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan shalat Jumat pertama bersama kaum muslimin.
Dari sinilah masjid tersebut dinamakan Masjid Jum'at.
Hadits-hadits tentang singgahnya Rasulullah ﷺ di Quba dan perjalanan menuju Madinah terdapat dalam kitab-kitab sirah dan hadits yang shahih.
Pelajaran
Pentingnya shalat Jumat.
Rasulullah ﷺ segera mendirikan syiar Islam.
Dakwah dimulai dengan tauhid lalu ibadah berjamaah.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ
"Apabila diseru shalat Jumat maka bersegeralah menuju dzikir kepada Allah." (QS. Al-Jumu'ah: 9)
4. Benteng Ka'ab bin Asyraf
Siapakah Ka'ab bin Asyraf?
Ka'ab bin Asyraf adalah pemimpin Yahudi dari Bani Nadhir.
Ayahnya berasal dari Arab sedangkan ibunya dari Yahudi.
Ia dikenal sebagai:
penyair yang menghina Rasulullah ﷺ,
menghasut Quraisy agar memerangi kaum muslimin,
memprovokasi peperangan,
melanggar perjanjian dengan Nabi ﷺ.
Setelah Perang Badar ia pergi ke Makkah untuk mengobarkan balas dendam terhadap kaum muslimin.
Karena pengkhianatan dan ancamannya terhadap keamanan negara Madinah, Rasulullah ﷺ memerintahkan pelaksanaan hukuman terhadapnya.
Kisah ini terdapat dalam hadits shahih, di antaranya dalam
Karena pengkhianatan tingkat tinggi ini, Nabi {ﷺ} memerintahkan para sahabat untuk mengeksekusinya. Kisah ini tercantum dalam hadis sahih:
مَنْ لِكَعْبِ بْنِ الأَشْرَفِ فَإِنَّهُ قَدْ آذَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ؟ فَقَامَ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُحِبُّ أَنْ أَقْتُلَهُ؟ قَالَ: نَعَمْ
(HR. Bukhari no. 4037)
Artinya: "Siapa yang mau membereskan Ka'ab bin Asyraf? Karena sesungguhnya ia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya." Maka berdirilah Muhammad bin Maslamah dan berkata: "Wahai Rasulullah, apakah engkau suka jika aku membunuhnya?" Beliau menjawab: "Ya."
Pelaksana utamanya adalah sahabat mulia Muhammad bin Maslamah bersama beberapa sahabat lainnya.
Pelajaran
Bahaya pengkhianatan terhadap perjanjian.
Islam menjaga keamanan masyarakat.
Hukuman diberikan bukan karena agama seseorang, tetapi karena pengkhianatan, hasutan perang, dan ancaman nyata terhadap negara.
Allah berfirman:
وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَى سَوَاءٍ
"Apabila engkau khawatir akan pengkhianatan suatu kaum maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka secara terang-terangan." (QS. Al-Anfal: 58)
5. Sumur Salman Al-Farisi (Sumur Al-Fuqair بئر الفقير)
Biografi Singkat Salman Al-Farisi
Nama beliau adalah:
سلمان الفارسي رضي الله عنه
Beliau berasal dari Persia (Isfahan, menurut banyak riwayat).
Perjalanan mencari agama yang benar
Beliau menceritakan sendiri kisahnya dalam hadits yang panjang (diriwayatkan oleh dengan sanad yang dinilai hasan oleh sejumlah ulama):
Lahir dalam keluarga penyembah api (Majusi).
Tertarik kepada agama Nasrani setelah mendengar ibadah mereka.
Berpindah dari satu pendeta kepada pendeta lainnya di wilayah Syam dan sekitarnya untuk mencari kebenaran.
Pendeta terakhir berkata bahwa zaman Nabi terakhir sudah dekat, yang akan muncul di negeri yang banyak pohon kurmanya.
Menjadi budak
Dalam perjalanan menuju Jazirah Arab, rombongan yang membawanya mengkhianatinya lalu menjualnya sebagai budak kepada seorang Yahudi.
Kemudian ia dijual lagi kepada seorang Yahudi dari Bani Qurayzhah. Riwayat-riwayat tidak sepakat menyebutkan nama pribadi tuan Yahudi tersebut; yang masyhur hanyalah bahwa ia berasal dari Bani Qurayzhah.
Akhirnya beliau tinggal di Madinah hingga bertemu Rasulullah ﷺ.
Beliau mengenali tanda-tanda kenabian, lalu masuk Islam.
Mengapa ada Sumur Salman Al-Farisi?
Di kawasan Madinah terdapat sebuah sumur yang dikenal dengan nama Salman Al-Farisi.
Menurut riwayat sejarah, sumur tersebut berkaitan dengan tempat Salman pernah bekerja ketika masih menjadi budak dan kawasan kebun kurma tempat beliau dahulu berada sebelum dimerdekakan.
Tidak terdapat hadits shahih yang menetapkan keutamaan khusus sumur tersebut, sehingga tidak disyariatkan mengusap, mengambil berkah, atau meyakini adanya keistimewaan ibadah di sana.
Ketika Nabi {ﷺ} tiba di Madinah, beliau menemui Salman yang berstatus budak. Untuk memerdekakannya, pemilik Yahudi tersebut meminta tebusan yang sangat berat:
menanam 300 pohon kurma yang semuanya harus hidup, plus bayaran emas.
Nabi {ﷺ} membantu menanam pohon-pohon tersebut bersama para sahabat. Di area kebun tempat Salman bekerja dan dibebaskan inilah terdapat sebuah sumur yang kemudian dikenal dengan nama Sumur Salman (atau bagian dari kebun Salman).Allah {ﷻ} berfirman tentang orang-orang yang berjihad mencari kebenaran seperti Salman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: "Dan orang-orang yang berjihad (mencari keridaan) Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Ankabut: 69)
Pelajaran dari Salman Al-Farisi
Rasulullah ﷺ bersabda:
سَلْمَانُ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ
"Salman termasuk keluarga kami (Ahlul Bait)."
(Hadits ini memiliki beberapa jalur; para ulama berbeda pendapat tentang derajatnya, namun maknanya masyhur sebagai bentuk pemuliaan kepada Salman.)
Pelajaran yang dapat diambil:
Hidayah lebih berharga daripada keluarga, harta, dan kedudukan.
Pencari kebenaran akan ditunjuki Allah.
Kesabaran menghadapi ujian akan berbuah kemuliaan.
Ukhuwah Islamiyah: Rasulullah {ﷺ} dan para sahabat tidak membiarkan Salman berjuang sendirian; mereka bergotong royong membantu membebaskannya dari perbudakan.
Kemuliaan di sisi Allah diukur dengan ketakwaan.
Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
Penutup
Seluruh lokasi city tour di Madinah hendaknya dijadikan sarana mengambil pelajaran sejarah Islam, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dan para sahabat, serta meneladani perjuangan mereka.
Adapun keyakinan adanya keberkahan khusus pada tempat-tempat tersebut, atau melakukan ibadah tertentu tanpa dalil yang sahih, tidak sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ dan pemahaman para ulama Salafus Shalih.
Wallohu A'lam bish-showab
Akhukum filLah
Ustadz Fauzi Basulthana