City Tour Makkah: Jabal Nur, Gua Hira, Turunnya Wahyu Pertama, dan Pelajaran Keimanan
(Berdasarkan Al-Qur'an, Hadis Shahih, dan Pemahaman Ulama Salaf)
Pendahuluan
Sebelum diutus menjadi Rasul, Allah ﷻ telah mempersiapkan Nabi Muhammad ﷺ dengan berbagai bentuk tarbiyah (pendidikan Rabbani). Salah satunya adalah menjadikan beliau senang berkhalwat (menyendiri) di Gua Hira yang berada di Jabal Nur.
Peristiwa ini merupakan awal perubahan sejarah umat manusia, yaitu turunnya wahyu pertama.
I. Jabal Nur dan Gua Hira
Jabal Nur adalah sebuah gunung yang terletak sekitar 5 km dari Masjidil Haram.
Di puncaknya terdapat Gua Hira yang berukuran kecil, panjang sekitar 3–4 meter dan hanya cukup untuk beberapa orang.
Di tempat inilah Rasulullah ﷺ sering beribadah sebelum kenabian.
II. Mengapa Rasulullah ﷺ Senang Menyendiri?
Hadis dari Ummul Mukminin رضي الله عنها:
ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءَ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ
"Kemudian dijadikan beliau menyukai menyendiri. Beliau berkhalwat di Gua Hira selama beberapa malam untuk beribadah."
(HR. no. 3)
Para ulama menjelaskan bahwa Allah memalingkan hati beliau dari kemusyrikan dan keramaian masyarakat jahiliah agar hati beliau siap menerima wahyu.
III. Apa yang Dilakukan Rasulullah ﷺ di Gua Hira?
Beliau:
bertafakkur terhadap ciptaan Allah,
beribadah sesuai syariat Nabi Ibrahim yang masih beliau ketahui,
memperbanyak dzikir,
menjauhi penyembahan berhala,
menyendiri dari kerusakan masyarakat Quraisy.
Ini merupakan persiapan ilahi sebelum datangnya risalah.
IV. Apakah Benar Gua Hira Menghadap Baitul Maqdis?
Banyak orang mengatakan bahwa mulut Gua Hira menghadap langsung ke atau .
Tidak ada hadis sahih yang menyatakan demikian.
Yang dapat dipastikan hanyalah bahwa dari sekitar Gua Hira dapat terlihat kawasan Kota Makkah dan Ka'bah dari beberapa titik. Adapun klaim bahwa arah gua tepat menghadap Baitul Maqdis tidak memiliki dalil dari Al-Qur'an maupun hadis sahih, sehingga tidak boleh dijadikan keutamaan agama.
V. Turunnya Wahyu Pertama
Allah berfirman:
﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ﴾
(QS. Al-'Alaq: 1–5)
Malaikat Jibril datang dan memeluk Nabi ﷺ.
Beliau berkata:
اقْرَأْ
"Bacalah."
Rasulullah menjawab:
مَا أَنَا بِقَارِئٍ
"Aku tidak bisa membaca."
Peristiwa itu terjadi tiga kali.
(HR. Bukhari)
VI. Bagaimana Keadaan Rasulullah ﷺ Saat Bertemu Jibril?
Beliau sangat terkejut.
Beliau segera pulang sambil berkata:
زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي
"Selimutilah aku! Selimutilah aku!"
(HR. Bukhari)
Ini menunjukkan bahwa melihat malaikat dalam bentuk aslinya adalah pengalaman yang sangat dahsyat bagi manusia.
VII. Bagaimana Sikap Khadijah رضي الله عنها?
menenangkan beliau dengan penuh hikmah.
Beliau berkata:
كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا
"Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu."
Kemudian beliau menyebutkan akhlak Nabi ﷺ:
menyambung silaturahim,
membantu orang miskin,
memuliakan tamu,
menolong orang yang tertimpa musibah.
(HR. Bukhari)
Pelajaran
Seorang istri salehah menjadi penenteram suaminya ketika menghadapi kesulitan, bukan menambah kepanikan.
VIII. Waraqah bin Naufal
Khadijah kemudian membawa Nabi ﷺ kepada .
Beliau berkata:
هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى
"Ini adalah Malaikat yang dahulu Allah turunkan kepada Musa."
(HR. Bukhari)
IX. Bagaimana Bentuk Malaikat Jibril?
Allah berfirman:
﴿ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى﴾
(QS. An-Najm: 6)
Rasulullah ﷺ melihat Jibril dalam bentuk aslinya sebanyak dua kali.
Allah berfirman:
﴿وَلَقَدْ رَآهُ بِالْأُفُقِ الْمُبِينِ﴾
(QS. At-Takwir: 23)
Dalam hadis sahih:
رَأَيْتُ جِبْرِيلَ لَهُ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ
"Aku melihat Jibril, ia memiliki enam ratus sayap."
(HR. Bukhari)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sayap-sayapnya memenuhi ufuk langit.
X. Salam Batu kepada Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ
"Aku benar-benar mengetahui sebuah batu di Makkah yang dahulu memberi salam kepadaku sebelum aku diutus."
(HR. no. 2277)
Ini termasuk mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ.
XI. Gunung Uhud Mencintai Nabi ﷺ
Meskipun terjadi setelah hijrah, hadis ini menunjukkan kemuliaan Rasulullah ﷺ.
Beliau bersabda:
هَذَا أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ
"Ini adalah Gunung Uhud. Ia mencintai kami dan kami mencintainya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maknanya adalah Allah menjadikan gunung itu memiliki kemuliaan dan kecintaan kepada Rasul-Nya.
XII. Manfaat Beriman kepada Malaikat
Beriman kepada malaikat merupakan rukun iman.
Hadis tentang Jibril:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ...
"Engkau beriman kepada Allah dan para malaikat-Nya..."
(HR. Muslim)
Buah keimanan kepada malaikat antara lain:
Meyakini kebesaran Allah yang menciptakan makhluk luar biasa.
Meyakini wahyu berasal dari Allah melalui Jibril.
Menambah keyakinan terhadap Al-Qur'an.
Menumbuhkan rasa diawasi karena adanya malaikat pencatat amal.
Memotivasi untuk taat kepada Allah.
XIII. Pelajaran Besar dari Gua Hira
Allah mempersiapkan para dai sebelum memberi amanah besar. Dakwah membutuhkan ilmu, kesabaran, dan penyucian jiwa.
Menyendiri sesekali untuk muhasabah adalah kebaikan, selama tidak dijadikan ibadah khusus seperti khalwat yang terus-menerus tanpa tuntunan syariat.
Hati yang bersih lebih siap menerima petunjuk Allah.
Wahyu adalah sumber ilmu yang paling tinggi, bukan hasil renungan manusia semata.
Keteladanan Khadijah رضي الله عنها mengajarkan pentingnya dukungan keluarga dalam dakwah.
Akhlak mulia mendahului datangnya kenabian. Allah memilih Rasul-Nya yang telah dikenal jujur, amanah, penyayang, dan terpercaya.
Keimanan kepada malaikat adalah perkara gaib yang wajib diyakini berdasarkan Al-Qur'an dan hadis sahih, tanpa menambah atau mengurangi sifat-sifat yang telah dijelaskan oleh nash.
Gua Hira tidak disyariatkan untuk dijadikan tempat ibadah khusus. Tidak ada hadis sahih yang menganjurkan naik ke Gua Hira, shalat di dalamnya, atau mengambil berkah darinya. Yang disyariatkan adalah mengambil pelajaran dari peristiwa turunnya wahyu, bukan mengkhususkan tempatnya dengan ibadah tertentu.
Kesimpulan
Jabal Nur dan Gua Hira adalah saksi dimulainya risalah Islam melalui turunnya wahyu pertama. Keutamaannya terletak pada peristiwa sejarah kenabian yang terjadi di sana, bukan karena adanya ibadah khusus yang disyariatkan di tempat tersebut. Seorang muslim hendaknya meneladani persiapan ruhani Rasulullah ﷺ, keteguhan beliau saat menerima amanah, serta dukungan Khadijah رضي الله عنها, sambil tetap berpegang kepada dalil-dalil yang sahih dan meninggalkan kisah-kisah yang tidak memiliki landasan yang kuat.
Wallohu A'lam bish-showab
Akhukum filLah
UFB