Faedah dari kajian Hakikat Dunia
Pemateri: Ustadz Ahmad Rasyid Bazer حفظه الله
Kajian Islam Ilmiyah • Bali Mengaji • Masjid Sadar- Sesetan Bali
Hakikat Pertama: Dunia Adalah Permainan yang Melalaikan
Allah ﷻ berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ
وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
I‘lamū annamal-hayātad-dunyā la‘ibun wa lahwun wa zīnatun wa tafākhurun bainakum wa takātsurun fil-amwāli wal-aulād, kamatsali ghaitsin a‘jabal-kuffāra nabātuhu tsumma yahīju fatarāhu mushfarran tsumma yakūnu huthāmā, wa fil-ākhirati ‘adzābun syadīdun wa maghfiratun minallāhi wa ridhwān, wa mal-hayātad-dunyā illā matā‘ul-ghurūr“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan serta keridaan dari Allah. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini dimulai dengan kalimat perintah (fi‘il amar) “ketahuilah”, dan kata innamā menunjukkan pembatasan (hanya). Permainan (la‘ib) sifatnya melalaikan — sebagaimana anak kecil yang sedang asyik bermain lupa makan, minum, bahkan lupa shalat. Perhiasan (zīnah) mula-mula menyilaukan mata, namun lama-kelamaan membosankan dan orang ingin yang baru — berbeda dengan kenikmatan akhirat yang tak pernah membosankan. Di akhirat hanya ada dua ujung: azab yang keras (neraka), atau ampunan dan keridaan Allah ﷻ (surga). Para ulama menasihatkan, siapa yang hatinya sedang condong berlebihan kepada dunia, hendaklah sering membaca ayat ini.
Hakikat Kedua: Dunia Ini Sebentar, Sangat Singkat
Allah ﷻ menggambarkan betapa singkatnya dunia bila dibandingkan akhirat:
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا
Ka’annahum yauma yaraunahā lam yalbatsū illā ‘asyiyyatan au dhuhāhā
“Pada hari mereka melihat hari Kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) kecuali (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An-Nazi‘at: 46)
Dan dalam dialog di hari kiamat:
قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَاسْأَلِ الْعَادِّينَ
Qāla kam labitstum fil-ardhi ‘adada sinīn, qālū labitsnā yauman au ba‘dha yaumin fas’alil-‘āddīn
“Allah bertanya: Berapa tahun lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab: Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” (QS. Al-Mu’minun: 112–113)
Sebab satu hari di sisi Allah ﷻ setara seribu tahun hitungan dunia:
وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
Wa inna yauman ‘inda rabbika ka-alfi sanatin mimmā ta‘uddūn
“Dan sesungguhnya satu hari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al-Hajj: 47)
Bandingkan dengan umat terdahulu: Nabi Nuh ‘alaihis-salām berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun:
فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا
Fa-labitsa fīhim alfa sanatin illā khamsīna ‘āmā
“Maka dia (Nuh) tinggal di antara kaumnya seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)
Sedangkan umur umat Nabi Muhammad ﷺ jauh lebih pendek:
أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَٰلِكَ
A‘māru ummatī mā bainas-sittīna ilas-sab‘īn, wa aqalluhum man yajūzu dzālik
“Umur-umur umatku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit di antara mereka yang melampaui itu.” (HR. Tirmidzi no. 3550; hasan)
Karena waktu yang singkat inilah yang akan dimintai pertanggungjawaban, Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّىٰ يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
Lā tazūlu qadamā ‘abdin yaumal-qiyāmati hattā yus’ala ‘an ‘umurihi fīmā afnāh
“Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.” (HR. Tirmidzi no. 2417; hasan sahih)
Hakikat Ketiga: Dunia Pasti Berakhir dan Berputar
Allah ﷻ berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Kullu nafsin dzā’iqatul-maut, wa nablūkum bisysyarri wal-khairi fitnatan wa ilainā turja‘ūn
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35)
Dunia pasti berakhir — baik karena jatah usia kita habis, maupun karena Allah ﷻ menghancurkannya di hari kiamat. Ia juga berputar: ada masa seseorang di atas dan di bawah, sehat dan sakit, tertawa dan menangis, lapang dan sempit — sebagai ujian (fitnah) yang terus berlanjut hingga seseorang berjumpa dengan Allah ﷻ. Kebahagiaan yang benar-benar hakiki tanpa secuil pun kesedihan hanya ada di surga; kesengsaraan yang benar-benar hakiki tanpa secuil pun kebahagiaan hanya ada di neraka.
Hakikat Keempat: Dunia adalah Penjara bagi Mukmin, Surga bagi Kafir
Nabi ﷺ bersabda:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Ad-dunyā sijnul-mu’mini wa jannatul-kāfir
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Hadits ini dapat dipahami dari dua sisi. Pertama, seorang mukmin hidup terikat batasan-batasan syariat (larangan mencuri, berzina, minum khamar, syirik, dan lainnya) — bagai narapidana yang hak dan kebebasannya dibatasi; berbeda dengan orang kafir yang bebas melakukan apa saja tanpa batasan agama. Kedua, penjara di sini dibandingkan dengan surga yang kelak diperoleh mukmin — sekecil apa pun kenikmatan dunianya, tak sebanding dengan nikmat surga; dan “surga” dunia bagi orang kafir dibandingkan dengan neraka yang menanti — sehancur apa pun kesedihan dunianya, tak sebanding dengan azab neraka.
Hakikat Kelima: Dunia Tidak Bernilai di Sisi Allah ﷻ
Nabi ﷺ bersabda:
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَىٰ كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
Lau kānatid-dunyā ta‘dilu ‘indallāhi janāha ba‘ūdhatin mā saqā kāfiran minhā syarbata mā’
“Seandainya dunia ini setara di sisi Allah dengan sebelah sayap nyamuk, niscaya Dia tidak akan memberi minum seteguk air pun kepada orang kafir.” (HR. Tirmidzi no. 2320; hasan sahih)
Suatu ketika Rasulullah ﷺ berjalan dari daerah Awali menuju sebuah pasar di Madinah dan mendapati bangkai anak kambing yang telinganya cacat. Beliau memegangnya dan bertanya kepada para sahabat radhiyallahu 'anhum, siapa yang mau membelinya sekalipun dengan satu-dua dirham. Mereka menjawab tidak menginginkannya sama sekali karena tidak ada nilainya. Maka beliau bersabda:
فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَٰذِهِ عَلَيْكُمْ
Fawallāhi lad-dunyā ahwanu ‘alallāhi min hādzihi ‘alaikum
“Demi Allah, sesungguhnya dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.” (HR. Muslim no. 2957, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu 'anhu)
Ini bukan berarti seorang muslim dilarang mencari dunia atau menjadi kaya-raya. Yang terlarang adalah menjadikan dunia sebagai tujuan utama, ambisi terbesar, atau cita-cita tertinggi — sebab siapa yang demikian akan menghalalkan segala cara demi meraihnya, bahkan sampai memutuskan tali silaturahim demi harta warisan. Nabi ﷺ memperingatkan:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
Lā yadkhulul-jannata qāthi‘
“Tidak akan masuk surga orang yang memutus (tali silaturahim).” (HR. Bukhari no. 5984 & Muslim no. 2556, dari Jubair bin Muth‘im radhiyallahu 'anhu)
Hakikat Keenam: Dunia Manis dan Hijau — di Situlah Bahayanya
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا
Innad-dunyā hulwatun khadhirah, wa innallāha mustakhlifukum fīhā fayanzhuru kaifa ta‘malūn, fattaqud-dunyā
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (menawan). Sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah (pengelola) di dalamnya, lalu Dia melihat bagaimana kalian beramal. Maka berhati-hatilah terhadap dunia.” (HR. Muslim no. 2742, dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu)
Fitrah manusia menyukai sesuatu yang manis dan hijau/segar. Bahayanya, dunia menghimpun keduanya sekaligus. Bila seseorang tidak tahu cara bermuamalah yang benar dengannya, ibarat minum air laut — bukannya hilang dahaga, justru semakin membinasakan diri dunia dan akhirat. Nabi ﷺ mengabarkan akan datang suatu masa di mana manusia tidak lagi peduli dari mana hartanya didapat, halal atau haram.
Lima Sikap Seorang Muslim terhadap Dunia
1. Jadilah seperti orang asing atau musafir
Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, Rasulullah ﷺ memegang kedua pundaknya seraya bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
Kun fid-dunyā ka’annaka gharībun au ‘ābiru sabīl
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau pengembara yang sedang lewat.” (HR. Bukhari no. 6416, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma)
Sudah menjadi fitrah manusia rindu kepada kampung halaman aslinya — sebagaimana kata Ibnul Qayyim rahimahullah, hati manusia selalu rindu kepada surga, sebab dari sanalah Adam dan Hawa ‘alaihimas-salam berasal. Orang yang cerdas adalah yang mengejar sesuatu yang pasti akan ia dapatkan (kematian, alam kubur, kebangkitan, hisab, surga atau neraka), bukan yang belum tentu ia raih (cita-cita duniawi). Nabi ﷺ ditanya siapakah orang yang paling cerdas (al-akyas), beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلْمَوْتِ، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا
Aktsaruhum dzikran lil-mauti, wa ahsanuhum limā ba‘dahustidādā
“(Mereka adalah) yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelahnya.” (HR. Ibnu Majah no. 4259; status kesahihannya diperselisihkan ulama hadits)
2. Jangan berebut dengan dunia
Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabat radhiyallahu 'anhum:
فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَىٰ عَلَيْكُمْ، وَلَٰكِنِّي أَخْشَىٰ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَىٰ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
Fawallāhi mal-faqra akhsyā ‘alaikum, wa lākinnī akhsyā an tubsatha ‘alaikumud-dunyā kamā busithat ‘alā man kāna qablakum, fatanāfasūhā kamā tanāfasūhā, wa tuhlikakum kamā ahlakathum
“Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia dibentangkan luas kepada kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba merebutnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga dunia itu membinasakan kalian sebagaimana membinasakan mereka.” (HR. Bukhari no. 4015 & Muslim no. 2961, dari ‘Amr bin ‘Auf radhiyallahu 'anhu)
Yang menjadi masalah bukanlah kaya atau miskinnya seseorang, melainkan ada tidaknya ketakwaan dalam dirinya. Orang bertakwa yang kaya tahu menyalurkan hartanya untuk ketaatan; yang ditakdirkan miskin tetap bersabar dan berbaik sangka kepada Allah ﷻ.
3. Jangan jadikan dunia sebagai tujuan utama atau ambisi terbesar
Di antara doa Nabi ﷺ:
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
Allāhumma lā taj‘al mushībatanā fī dīninā, wa lā taj‘alid-dunyā akbara hamminā wa lā mablagha ‘ilminā
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan musibah kami menimpa agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai puncak cita-cita kami dan puncak (batas akhir) ilmu kami.” (HR. Tirmidzi no. 3502; hasan)
4. Zuhudlah terhadap dunia
Nabi ﷺ bersabda:
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ
Izhad fid-dunyā yuhibbukallāh, wazhad fīmā ‘indan-nāsi yuhibbukan-nās
“Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah no. 4102; hasan, dari Sahl bin Sa‘d radhiyallahu 'anhu)
Kunci memahami zuhud: ia adalah amalan hati, bukan soal kaya-miskin secara lahir. Bisa jadi seseorang berharta banyak namun dunia tak sampai masuk ke hatinya — seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu 'anhum, yang dengan lapang berinfak besar-besaran untuk Perang Tabuk (riwayat masyhur dalam sirah dan sebagian kitab hadits mengenai Jaisyul ‘Usrah — Abu Bakar radhiyallahu 'anhu menyerahkan seluruh hartanya, Umar radhiyallahu 'anhu menyerahkan separuhnya, dan Utsman radhiyallahu 'anhu melengkapi pasukan dengan 300 unta beserta perbekalannya). Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, ketika ditanya apakah pemilik seribu dinar bisa disebut zuhud, menjawab bisa — dengan dua syarat: tidak bergembira berlebihan ketika hartanya bertambah, dan tidak bersedih berlebihan ketika hartanya berkurang. Itulah tanda dunia ada di tangan, bukan di hati.
5. Jangan menyia-nyiakan waktu
Allah ﷻ bersumpah dengan berbagai satuan waktu (waktu duha, malam, siang, dan lainnya) dalam banyak surat Al-Qur'an — menunjukkan betapa pentingnya waktu untuk direnungkan dan dijaga penggunaannya. Nabi ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Ni‘matāni maghbūnun fīhimā katsīrun minan-nās: ash-shihhatu wal-farāgh
“Dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma)
Seseorang baru menyadari besarnya suatu nikmat ketika nikmat itu telah hilang dari dirinya. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita orang-orang yang mencintai akhirat dan mengecilkan dunia di mata hati kita, sehingga sikap kita kepada keduanya menjadi benar.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Jika ada kebenaran, ia dari Allah ﷻ; jika ada kekeliruan, ia dari kelemahan diri kami.
https://www.youtube.com/watch?v=_vCcWvfOydA