Penyakit Hati Pertama, Sebab, Obat, dan Cara Menghadapinya
Faedah dari kajian bersama Ustadz Ahmad Rasyid Bazer حفظه الله
Kajian Ilmiah • Bali Mengaji
Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan duduk di salah satu rumah Allah ﷻ untuk menuntut ilmu. Shalawat serta salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, penutup para nabi yang membawa umat dari zaman kejahiliahan menuju zaman terang benderang dengan ilmu dan sunnah. Kajian kali ini membahas salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya — hampir tidak ada manusia yang lepas darinya — yaitu hasad (dengki). Mengetahui keburukan bukan untuk melakukannya, melainkan agar dapat mengantisipasinya; sebab siapa yang tidak mengenal mana kebaikan dan mana keburukan, biasanya justru terjatuh ke dalamnya.
Definisi Hasad
Sebagian ulama mendefinisikan hasad sebagai tamannī zawāla ni‘mati shāhibihā — mengharapkan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memberi definisi yang lebih mendalam: hasad juga mencakup ketidaksukaan terhadap kebaikan atau nikmat yang diperoleh orang lain, sekalipun seseorang tidak sampai mengharapkan hilangnya nikmat tersebut. Termasuk hasad adalah sifat senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang.
Hasad, Dosa Pertama yang Menjangkiti Makhluk
Para ulama menyebutkan, hasad adalah dosa pertama yang dilakukan oleh Iblis. Sebelum Iblis melakukan dosa takabur (menolak sujud kepada Adam ‘alaihis-salam), sesungguhnya benih dosanya telah muncul dari rasa dengki — Iblis, yang dahulu tergolong ahli ibadah yang melampaui para malaikat, merasa dengki ketika Allah ﷻ memuliakan Adam ‘alaihis-salam dengan mengajarkannya berbagai nama (asma). Kedengkian inilah yang kemudian berujung pada kesombongan dan penolakan sujud.
Dosa pertama yang dilakukan oleh anak cucu Adam pun bermula dari hasad — pembunuhan Qabil terhadap saudaranya, Habil, sebagaimana dikisahkan Allah ﷻ dalam Al-Qur'an (QS. Al-Ma’idah: 27–31). Allah ﷻ juga mengabarkan hasad orang-orang Yahudi terhadap Nabi ﷺ dan para sahabat radhiyallahu 'anhum karena karunia kenabian dan keimanan yang mereka terima:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
Am yahsudūnan-nāsa ‘alā mā ātāhumullāhu min fadhlih
“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad dan para sahabatnya) karena karunia yang Allah telah berikan kepada mereka?” (QS. An-Nisa’: 54)
Nabi ﷺ memperingatkan agar umatnya menjauhi sifat ini:
لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا تَقَاطَعُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Lā tabāghadhū, wa lā tahāsadū, wa lā tadābarū, wa lā taqātha‘ū, wa kūnū ‘ibādallāhi ikhwānā
“Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling memutus hubungan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari no. 6065 & Muslim no. 2559, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Nabi ﷺ juga bersabda tentang bahaya penyakit ini yang telah menular dari umat-umat terdahulu:
دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمُ: الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ، هِيَ الْحَالِقَةُ، لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَٰكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ
Dabba ilaikum dā’ul-umami qablakum: al-hasadu wal-baghdhā’, hiyal-hāliqah, lā aqūlu tahliqusy-sya‘ra wa lākin tahliqud-dīn
“Telah menjalar kepada kalian penyakit umat-umat sebelum kalian: hasad dan kebencian. Ia adalah al-hāliqah (pencukur) — aku tidak mengatakan mencukur rambut, tetapi mencukur agama.” (HR. Tirmidzi no. 2510; hasan, dari Az-Zubair bin Al-‘Awwam radhiyallahu 'anhu)
Sebab-sebab Munculnya Hasad
Pertama, kesamaan profesi/bidang — hasad kerap muncul di antara orang-orang yang sejenis: dokter dengan dokter, pedagang dengan pedagang, bahkan ulama dengan ulama. Kedua, cinta dunia yang berlebihan — bila melampaui cinta kepada akhirat, seseorang akan menghalalkan segala cara termasuk hasad. Ketiga, permusuhan dan kebencian, sebagaimana permusuhan kaum musyrikin Quraisy kepada Nabi ﷺ. Keempat, kesombongan, lemahnya iman, dan takut tersaingi atau dikalahkan orang lain.
Ghibthah: “Hasad” yang Diperbolehkan
Ada satu keadaan yang menyerupai hasad namun dibolehkan, disebut ghibthah — yaitu menginginkan nikmat serupa dengan yang dimiliki orang lain, tanpa mengharapkan nikmat itu hilang darinya. Dalam perkara duniawi, keinginan semacam ini adalah fitrah manusia namun tidak berpahala. Adapun dalam perkara akhirat, ghibthah justru dianjurkan. Nabi ﷺ bersabda:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَىٰ هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Lā hasada illā fitsnataīn: rajulun ātāhullāhu mālan fasullitha ‘alā halakatihi fil-haqqi, wa rajulun ātāhullāhul-hikmata fahuwa yaqdhī bihā wa yu‘allimuhā
“Tidak boleh (ada) hasad (ghibthah) kecuali kepada dua orang: seseorang yang Allah beri harta lalu ia habiskan di jalan kebenaran, dan seseorang yang Allah beri ilmu (hikmah) lalu ia amalkan dan ajarkan kepada orang lain.” (HR. Bukhari no. 73 & Muslim no. 816, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma)
Orang yang berharta lalu menggunakannya untuk umrah, haji, sedekah, dakwah, dan pembangunan masjid layak diteladani; bila kita hanya berangan-angan “seandainya aku punya harta sepertinya, aku akan lakukan hal serupa”, dengan niat yang tulus, pahalanya sama dengan orang yang benar-benar mengerjakannya. Demikian pula orang berilmu agama yang mengamalkan dan mengajarkannya — pahalanya terus mengalir bahkan setelah wafat, sebagaimana pahala Imam Malik, Imam Syafi‘i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan Imam Nawawi rahimahumullah yang karya-karyanya (seperti Riyadhus Shalihin) terus dimanfaatkan hingga kini. Nabi ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Khairukum man ta‘allamal-qur’āna wa ‘allamah
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 5027, dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu 'anhu)
Ghibthah juga berlaku pada ilmu duniawi yang bermanfaat — seperti ilmu public speaking untuk dakwah, atau resep masakan yang diajarkan hingga membantu orang lain berdagang laris — selama tidak disertai keinginan agar nikmat itu hilang dari pemiliknya. Sangat disayangkan, hasad justru paling sering terjadi di kalangan ulama dan penuntut ilmu — padahal mereka semestinya paling dekat dengan akhlak mulia. Ini karena penuntut ilmu memahami betul betapa besarnya nikmat ilmu yang diperoleh orang lain, sehingga menjadi celah masuknya rasa dengki bila tidak dijaga.
Obat dari Penyakit Hasad
1. Mengakui dan menyadari
Menyadari keberadaan penyakit ini dalam diri, lalu memperdalam ilmu syariah — baik akidah (iman kepada takdir) maupun ilmu terperinci tentang hasad — agar dapat mengantisipasinya.
2. Mempertebal keimanan dan keyakinan pada takdir Allah ﷻ
Allah ﷻ berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
Mā ashāba min mushībatin fil-ardhi wa lā fī anfusikum illā fī kitābin min qabli an nabra’ahā, inna dzālika ‘alallāhi yasīr, likailā ta’sau ‘alā mā fātakum wa lā tafrahū bimā ātākum
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhulmahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya... agar kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 22–23)
Rasulullah ﷺ bersabda tentang tawakal:
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Lau annakum tawakkaltum ‘alallāhi haqqa tawakkulihi larazaqakum kamā yarzuquth-thaira, taghdū khimāshan wa tarūhu bithānā
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung — ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344; hasan sahih, dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu)
Allah ﷻ juga melarang berangan-angan berlebihan atas karunia yang diberikan kepada orang lain:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ
Wa lā tatamannaw mā fadhdhalallāhu bihi ba‘dhakum ‘alā ba‘dh, was’alullāha min fadhlih
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain... Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (QS. An-Nisa’: 32)
3. Mengingat akibat buruk hasad di dunia dan akhirat
Nabi ﷺ memperingatkan:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
Iyyākum wal-hasad, fa-innal-hasada ya’kulul-hasanāti kamā ta’kulun-nārul-hathab
“Jauhilah oleh kalian sifat hasad, karena sesungguhnya hasad memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud no. 4903, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; status kesahihan diperselisihkan ulama hadits)
4. Selalu bersyukur atas nikmat Allah ﷻ, sekecil apa pun
Sebab kunci mampu bersyukur atas nikmat besar adalah membiasakan syukur atas nikmat kecil terlebih dahulu — orang yang tidak terbiasa bersyukur atas hal kecil biasanya juga gagal bersyukur atas hal besar.
5. Memandang ke bawah dalam urusan dunia, memandang ke atas dalam urusan akhirat
Nabi ﷺ bersabda:
انْظُرُوا إِلَىٰ مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَىٰ مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
Unzhurū ilā man huwa asfala minkum wa lā tanzhurū ilā man huwa fauqakum, fahuwa ajdaru allā tazdarū ni‘matallāhi ‘alaikum
“Pandanglah orang yang lebih rendah (kondisi duniawinya) darimu, dan janganlah memandang orang yang lebih tinggi darimu, karena hal itu lebih layak agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah atasmu.” (HR. Muslim no. 2963, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Sebaliknya, dalam urusan akhirat (ilmu, ibadah, amal saleh), hendaknya kita memandang kepada orang yang lebih unggul agar termotivasi meningkatkan diri — bukan berpuas diri karena merasa sudah lebih baik dari orang lain.
6. Mendoakan kebaikan bagi orang yang didengki, dan melakukan kebalikan dari bisikan setan
Ketika setan membisikkan rasa dengki terhadap nikmat orang lain, cara melawannya adalah dengan mendoakan kebaikan baginya sebanyak-banyaknya — bahkan bila perlu memberi hadiah kepadanya — sehingga bisikan setan itu gagal total. Teladannya adalah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, yang Nabi ﷺ kabarkan tidak pernah didekati setan di jalan mana pun yang beliau lalui:
إِنَّهُ لَمْ يَلْقَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا قَطُّ إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ
Innahu lam yalqaka asy-syaithānu sālikan fajjan qaththu illā salaka fajjan ghaira fajjik
“Sesungguhnya tidaklah setan bertemu denganmu berjalan di suatu jalan, melainkan ia akan mengambil jalan lain selain jalanmu.” (HR. Bukhari no. 3294 & Muslim no. 2396, dari Sa‘d bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu)
Karena tidak ada celah dalam hati Umar radhiyallahu 'anhu untuk digoda setan — sebagaimana dicontohkan dalam sebuah riwayat, ketika ada bisikan untuk malas beribadah, beliau justru bangun mengambil kapak dan menebang pohon untuk kayu bakar lalu sengaja lewat pasar demi menyibukkan diri dengan kebaikan, melawan setiap bisikan setan dengan tindakan yang berlawanan.
7. Memperbanyak mengingat kematian
Nabi ﷺ bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ: الْمَوْتِ
Aktsirū dzikra hādzimil-ladzdzāt: al-maut
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi no. 2307; hasan, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
Semakin sering seseorang mengingat kematian, semakin ia sibuk mempersiapkan bekal amal saleh dan bertaubat kembali kepada Allah ﷻ, sehingga jauh dari sifat hasad kepada sesama.
Menghadapi Hasad Orang Lain kepada Kita
Bila sebelumnya dibahas cara agar diri sendiri terhindar dari hasad, berikut cara menghadapi dampak buruk hasad yang datang dari orang lain kepada kita:
1. Bertawakal kepada Allah ﷻ
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Wa may yatawakkal ‘alallāhi fahuwa hasbuh
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
2. Bertakwa kepada Allah ﷻ
وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
Wa in tashbirū wa tattaqū lā yadhurrukum kaiduhum syai’ā, innallāha bimā ya‘malūna muhīth
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak akan mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120)
3. Memohon perlindungan kepada Allah ﷻ dari keburukan hasad
Dianjurkan berkali-kali dalam sehari membaca tiga surat pelindung — Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas — yang menjadi bacaan favorit dalam shalat dan sebelum tidur. Secara khusus, Allah ﷻ mengajarkan doa perlindungan dari kejahatan orang yang dengki:
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Wa min syarri hāsidin idzā hasad
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5)
4. Tidak menceritakan semua nikmat yang diterima kepada sembarang orang
Sebagian ulama menganjurkan agar tidak mengumbar seluruh nikmat dan hajat kepada khalayak ramai — seperti kebiasaan mengunggah segala pencapaian di media sosial — melainkan menyimpannya kecuali kepada orang-orang yang memang senang mendengarnya (misalnya mimpi baik cukup diceritakan kepada orang tua atau orang terdekat yang tulus). Sebagian riwayat menyebutkan anjuran meminta pertolongan Allah ﷻ dalam mewujudkan hajat dengan cara merahasiakannya terlebih dahulu.
5. Tidak peduli terhadap orang yang hasad, dan menyibukkan diri dengan ibadah
Orang yang hasad pada akhirnya akan terbakar dan tersiksa oleh dengkinya sendiri — ia akan merasa gerah setiap melihat kita mendapat nikmat, dan sulit tidur karenanya. Maka tidak perlu memusingkan sikap mereka; cukup sibukkan diri dengan ibadah, hal-hal bermanfaat, dan sesuatu yang menambah keimanan serta kekuatan hubungan dengan Allah ﷻ.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Jika ada kebenaran, ia dari Allah ﷻ; jika ada kekeliruan, ia dari kelemahan diri kami.