Kajian: Hati yang Terikat dengan Masjid
Keutamaan Memakmurkan Masjid, I’tikaf, dan Ibadah di Dalamnya
Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman Salafus Shalih
Mukadimah
Masjid adalah rumah Allah di muka bumi. Tempat paling mulia untuk beribadah, berdzikir, menuntut ilmu, membaca Al-Qur’an, dan memperbaiki hati. Orang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid termasuk golongan mulia yang mendapat keutamaan besar di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ dan para sahabat sangat memuliakan masjid. Bahkan ciri keimanan seorang hamba tampak dari kecintaannya kepada masjid.
1. Orang yang Hatinya Terikat dengan Masjid
Rasulullah ﷺ bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ
... وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ
“Ada tujuh golongan yang Allah naungi pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya… di antaranya: seorang lelaki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.”
(HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)
Makna “hatinya terpaut dengan masjid” menurut para ulama Salaf:
cinta kepada masjid,
senang berada di masjid,
menunggu waktu salat berikutnya,
sedih jika jauh dari masjid,
dan selalu ingin kembali ke masjid.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan:
Maksudnya adalah sangat cintanya kepada masjid dan terus-menerus melakukan salat berjamaah di dalamnya.
2. Memakmurkan Masjid adalah Tanda Keimanan
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah. Maka merekalah yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”
QS. At-Taubah: 18
Makna memakmurkan masjid:
membangun dan merawatnya,
salat berjamaah,
berdzikir,
membaca Al-Qur’an,
kajian ilmu,
i’tikaf,
dakwah,
dan berbagai ketaatan lainnya.
3. Salat Berjamaah Lebih Besar Pahalanya daripada Salat Sendirian
Rasulullah ﷺ bersabda:
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Salat berjamaah lebih utama daripada salat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.”
(HR. Bukhari no. 645 dan Muslim no. 650)
Dalam riwayat lain:
بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“dua puluh lima derajat.”
Para ulama menjelaskan:
perbedaan riwayat ini tidak bertentangan,
terkadang 25, terkadang 27 sesuai kesempurnaan jamaah dan keikhlasan.
4. Langkah Menuju Masjid Menghapus Dosa dan Mengangkat Derajat
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟
... كَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ
“Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa dan mengangkat derajat?... banyak melangkah menuju masjid dan menunggu salat setelah salat.”
(HR. Muslim no. 251)
5. Duduk Menunggu Salat Dinilai seperti Salat
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ
“Seseorang senantiasa dianggap dalam salat selama ia tertahan oleh menunggu salat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Malaikat juga mendoakannya:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ
“Ya Allah ampunilah dia, ya Allah rahmatilah dia.”
Selama:
tidak berhadas,
dan tidak mengganggu orang lain.
6. Ibadah-Ibadah di Masjid yang Besar Pahalanya
a. Salat berjamaah
Pahalanya 25–27 derajat dibanding sendiri.
b. Salat Subuh dan Isya berjamaah
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ
“Barang siapa salat Isya berjamaah maka seakan ia salat setengah malam, dan barang siapa salat Subuh berjamaah maka seakan ia salat semalam penuh.”
(HR. Muslim no. 656)
c. Belajar ilmu di masjid
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ...
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah, membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya, melainkan turun kepada mereka ketenangan...”
(HR. Muslim no. 2699)
d. Membaca Al-Qur’an di masjid
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ
“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan.”
(HR. Tirmidzi)
e. Dzikir kepada Allah di masjid
Allah berfirman:
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ
“Di rumah-rumah (masjid) yang Allah perintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya.”
QS. An-Nur: 36
7. Keutamaan Duduk di Masjid Setelah Subuh Sampai Suruk
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى الْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
“Barang siapa salat Subuh berjamaah lalu duduk berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit kemudian salat dua rakaat, maka baginya pahala seperti haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.”
(HR. Tirmidzi no. 586, dihasankan sebagian ulama)
Yang dilakukan:
dzikir pagi,
membaca Al-Qur’an,
belajar ilmu,
tafakur,
doa.
Waktu salat isyraq:
setelah matahari terbit dan naik kira-kira 10–15 menit.
8. I’tikaf di Masjid
Pengertian I’tikaf
I’tikaf adalah:
berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah tertentu.
Allah berfirman:
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Janganlah kalian campuri istri-istri kalian sedangkan kalian beri’tikaf di masjid.”
QS. Al-Baqarah: 187
9. Kapan Waktu I’tikaf?
a. Sepuluh hari terakhir Ramadan
Ini yang paling utama.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ
“Nabi ﷺ beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tujuannya:
mencari Lailatul Qadar,
memperbanyak ibadah,
memutus kesibukan dunia.
b. Selain Ramadan juga boleh
Mayoritas ulama menjelaskan:
i’tikaf boleh kapan saja,
walau sebentar,
selama di masjid dengan niat i’tikaf.
Sebagian Salaf jika masuk masjid berniat i’tikaf selama menunggu salat.
10. Adab Orang yang Memakmurkan Masjid
Ikhlas karena Allah
Bukan mencari pujian.
Menjaga kebersihan masjid
Rasulullah ﷺ memerintahkan menjaga kebersihan masjid.
Tidak mengganggu jamaah
Tidak mengangkat suara tanpa kebutuhan.
Menjaga sunnah-sunnah masjid
doa masuk masjid,
salat tahiyyatul masjid,
berdzikir,
salat berjamaah di shaf depan.
11. Buah Orang yang Dekat dengan Masjid
Di antara faedah besar:
hati menjadi tenang,
dijauhkan dari maksiat,
mudah istiqamah,
dekat dengan orang saleh,
mudah menuntut ilmu,
mendapatkan pahala besar,
dan termasuk golongan yang dinaungi Allah pada hari kiamat.
Allah berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
QS. Ar-Ra’d: 28
Penutup
Masjid bukan hanya tempat salat, tetapi pusat keimanan, ilmu, dzikir, dan pembinaan hati. Semakin dekat seseorang dengan masjid maka semakin dekat pula ia kepada Allah.
Karena itu para Salaf sangat mencintai masjid. Bahkan ada di antara mereka yang berkata:
“Tidaklah aku merasakan lezatnya hidup kecuali di dalam masjid.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk:
orang yang memakmurkan masjid,
hatinya terpaut dengan masjid,
istiqamah dalam jamaah,
dan mendapat naungan Allah pada hari kiamat.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا مُعَلَّقَةً بِالْمَسَاجِدِ وَارْزُقْنَا الْإِخْلَاصَ وَالثَّبَاتَ
“Ya Allah jadikan hati-hati kami terpaut dengan masjid, karuniakan kepada kami keikhlasan dan istiqamah.”
Wallohu A'lam bish-showab
Akhukum filLah
UFB