Berbahasa merupakan salah satu sarana penting yang dianugerahkan Allah kepada manusia untuk mewujudkan keharmonisan dalam kehidupan. Melalui bahasa, manusia dapat bertukar pikiran, berdiskusi, mengungkapkan rasa cinta, hingga menghidupkan lentera keilmuan Islam.
Berbicara tentang ilmu pengetahuan sama artinya dengan berbicara tentang literatur para ulama. Tidak jarang kita mendapati bahwa manuskrip karya para cendekiawan Muslim dihiasi dengan aksara Arab. Hal ini menegaskan betapa bahasa Arab memiliki posisi istimewa dalam khazanah intelektual Islam.
Allah ﷻ bahkan memuji bahasa Arab secara langsung dalam firman-Nya:
إِنّا أَنزَلناهُ قُرآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُم تَعقِلونَ
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur`ān dengan menggunakan bahasa Arab, agar kalian –wahai orang-orang Arab– dapat memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)
Ayat tersebut mengandung konsekuensi besar bagi setiap Muslim. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, jalan menuju kebahagiaan, sekaligus sarana mengenal Allah, diturunkan dalam bahasa Arab. Ketidakmampuan memahami bahasa Al-Qur’an sama halnya dengan mengurangi nilai kesempurnaan iman seseorang. Sebab, di akhir ayat itu Allah menegaskan, “agar kalian berpikir.”
Menghindar dari upaya mempelajari bahasa Arab berarti tidak mensyukuri karunia akal yang telah Allah anugerahkan. Semakin seseorang memahami bahasa Arab, semakin kokoh pula keimanannya dan semakin besar ketakzimannya terhadap kekuasaan Allah.
Sejarah mencatat, Umar bin Khattab ra. memeluk Islam karena ketajamannya dalam memahami bahasa Arab. Ia meminta saudarinya untuk membacakan Surah Ṭāhā, lalu hatinya tersentuh oleh keindahan bahasa Al-Qur’an. Saat itu juga ia menemui Rasulullah ﷺ dan mengucapkan syahadat.
Imam al-Syafi’i rahimahullah pernah menyampaikan:
ومن تعلم اللغة رق طبعه
“Siapa saja yang mempelajari bahasa Arab, maka perangainya akan baik dan lembut.” (al-Fawāʾid wa al-Akhbār, hlm. 140)
Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya terus berusaha mempelajari bahasa Arab, sekalipun dengan penuh kesulitan. Jika hari ini belum paham, maka belajar kembali esok hari, meski harus bertahun-tahun. Sembari itu, jangan lupa memohon pertolongan Allah agar perjalanan menuntut ilmu dimudahkan.
Setiap pencapaian tentu memiliki rintangannya. Rintangan seorang penuntut ilmu adalah rasa bosan, malas, serta hilangnya semangat belajar. Namun, ketahuilah bahwa di balik cobaan itu terdapat ganjaran besar, yakni surga Allah.
Apabila rasa jenuh datang, lawanlah dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, dan melaksanakan salat sunah. Sebab ibadah-ibadah itulah yang akan memudahkan kesulitan, memperbarui niat awal, serta menerangi perjalanan dengan cahaya iman dan keberkahan.
Allahu a‘lam bish-shawāb.