Jangan Mengkultuskan Seseorang, Sahabat Pernah Melakukan Kesalahan
2 hours ago
2 views

Satu hal yang penting untuk diingat ketika membaca sejarah para sahabat dan tokoh-tokoh besar Islam adalah bahwa setelah Nabi ﷺ tidak ada lagi manusia yang ma‘sum. Artinya, siapa pun selain Rasulullah tetaplah manusia biasa. Mereka bisa benar, bisa keliru. Bisa kuat dalam satu sisi, tetapi tetap memiliki sisi lain yang lemah. Dan justru di situlah letak pelajaran besarnya.

Kadang kita terlalu cepat menuntut kesempurnaan dari orang yang kita hormati. Kita lupa bahwa para sahabat pun bukan malaikat. Mereka punya emosi, punya kecenderungan hati, bahkan dalam sebagian keadaan bisa dipengaruhi rasa cinta, marah, cemburu, atau keberpihakan. Namun itu tidak lantas menjatuhkan kehormatan mereka. Sebab Islam mengajarkan kita untuk melihat manusia secara adil. Kesalahan mereka diakui, tetapi keutamaan mereka juga tidak dihapus.

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa Nabi ﷺ adalah satu-satunya manusia yang paling sempurna dalam bimbingan wahyu. Adapun selain beliau, maka tetap berlaku sifat kemanusiaan. Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa manusia memang memiliki tabiat yang diwariskan dan tidak lepas dari kelemahan. Karena itu, ketika terjadi kekeliruan dari seorang sahabat, kita memahaminya sebagai bagian dari tabiat manusia, bukan sebagai pembatal seluruh keutamaannya.

Salah satu contoh yang sering disebut para ulama adalah kisah Sa‘d bin Mu‘az. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa

اهتز عرش الرحمن لموته

“Arsy berguncang karena wafatnya Sa‘d bin Mu‘az.”

Riwayat ini menunjukkan kedudukan Sa‘d yang sangat tinggi. Namun ketika ada sebagian orang yang menakwil bahwa yang berguncang hanyalah “ranjang” atau “tempat tidurnya”, para ulama menjelaskan bahwa itu bukan alasan untuk merendahkan hadis atau mencabut kemuliaan Sa‘d. Perselisihan semacam itu lahir dari cara pandang manusia yang tidak selalu netral. Ketika ada cinta, ada pembelaan. Ketika ada benci, ada penolakan. Dan itu memang tabiat manusia.

Contoh lain terlihat pada ‘Aisyah رضي الله عنها. Beliau sangat mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi pada saat yang sama juga manusia biasa yang memiliki rasa cemburu. Karena mendengar Rasulullah sering menyebut Khadijah, hati ‘Aisyah tersentuh oleh rasa cemburu itu. Ia bahkan pernah berkata kurang lebih, “Mengapa engkau masih sering menyebut seorang wanita tua yang sudah lama wafat, padahal Allah telah menggantikanmu dengan yang lebih baik?” Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

“إني رزقت حبها”

“Aku telah diberikan kecintaan kepadanya.”

Dari sini kita melihat, bahkan istri Nabi sekalipun bisa merasakan getaran hati yang sangat manusiawi. Tetapi perasaan itu tidak menghapus keutamaan beliau sebagai Ummul Mu’minin.

Hal serupa juga tampak pada kejadian ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan,

“مروا أبا بكر فليصل بالناس”

“Suruh Abu Bakar agar mengimami manusia.” Namun ‘Aisyah pernah menyampaikan keberatan karena Abu Bakar adalah orang yang sangat lembut dan mudah tersentuh oleh tangis. Dalam hal ini, beliau tidak sedang menolak kebaikan ayahnya, tetapi sedang berbicara sebagai manusia yang khawatir. Bahkan sendiri, di kemudian hari ‘Aisyah menjelaskan bahwa maksudnya bukan merendahkan Abu Bakar, melainkan mengkhawatirkan tanggapan orang-orang jika Abu Bakar tampil sebagai imam setelah Nabi ﷺ.

Lalu ada pula peristiwa حادثة الإفك. Ketika fitnah besar itu beredar, para sahabat bereaksi dengan sangat keras. Sa‘d bin Mu‘az, Sa‘d bin ‘Ubadah, dan yang lainnya berbicara dengan emosi yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa manusia, bahkan orang saleh sekalipun, bisa dipengaruhi rasa marah dan keberpihakan. Tetapi sekadar emosi sesaat tidak menghapus iman, tidak pula menghilangkan kehormatan mereka di sisi Allah. Mereka tetap manusia yang bisa tergelincir dalam penilaian, meskipun mereka tetap mulia secara keseluruhan.

Contoh lain yang sangat jelas adalah kisah Sabi‘ah al-Aslamiyyah. Setelah suaminya wafat, ia melahirkan, lalu Abu al-Sanabil bin Ba‘kak berkata bahwa ia belum halal menikah lagi hingga habis iddah empat bulan sepuluh hari. Padahal Nabi ﷺ telah menjelaskan bahwa iddah wanita hamil selesai dengan melahirkan kandungan. Maka ketika Sabi‘ah datang kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

“قد حللتِ حين وضعتِ”

“Engkau telah halal ketika engkau melahirkan.”

Di sini kita melihat bahwa seorang sahabat besar pun bisa keliru dalam ijtihad atau pemahaman. Tapi kekeliruan itu tidak menjadikan ia tertuduh buruk secara mutlak. Ia tetap sahabat, tetap mulia, hanya saja tidak ma‘sum.

Karena itu, kita perlu membedakan antara adil dan ihsan. Dalam Al-Qur’an, Allah mengajarkan kedua sisi ini. Ada hukum yang bersifat adil, ada pula pintu maaf dan keutamaan.

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
Belum ada komentar
Artikel Terbaru Riza Ashfari Mizan