Sering kali kita melihat seseorang yang tampil di hadapan publik lalu menyangka bahwa pencapaiannya sudah menjadi tanda bahwa ia aman dari fitnah dunia. Padahal, tidak selalu demikian. Ada orang yang terlihat kuat di luar, tetapi hatinya sedang rapuh. Ada yang lisannya terdengar meyakinkan, tetapi dalam dirinya ada ujian-ujian yang tidak diketahui orang lain.
Di sebagian tempat, muncul anggapan bahwa ukuran keberhasilan seorang penuntut ilmu adalah ketika ia dikenal luas, banyak bicara, lalu tampak membawa secuil ilmu ke permukaan. Namun kenyataannya, semua itu belum tentu menjamin keselamatan. Karena di balik kilau kata-kata, bisa jadi Allah sedang menguji hati dengan perkara yang sangat berat. Terkadang ujiannya pada wanita, terkadang pada harta, terkadang pada keluarga, dan terkadang pada perkara yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Maka yang paling penting justru bukan sibuk melihat orang lain, melainkan menjaga diri sendiri. Seorang hamba perlu terus memohon kepada Allah agar hatinya dijaga. Sebab hati adalah pusat segalanya. Bila hati selamat, maka amal akan ikut selamat. Tetapi jika hati rusak, maka tampilan luar yang bagus pun tidak akan banyak menolong.
Karena itu, tolok ukur ilmu yang sebenarnya bukanlah banyaknya pengikut, bukan pula ketakutan karena ditinggal jamaah, dan bukan karena tidak menyerupai para ustaz atau tokoh lain. Tolak ukurnya adalah rasa takut kepada Allah. Ilmu yang benar akan melahirkan خشية. Bukan kesombongan, bukan pencitraan, dan bukan keinginan untuk terlihat lebih tinggi dari yang lain.
Di sini kita juga perlu jujur kepada diri sendiri. Bagaimana mungkin seseorang ingin memperbaiki hati orang lain, sementara hatinya sendiri masih berantakan? Bagaimana mungkin ia mengajak manusia kepada keikhlasan, sedangkan dirinya masih berharap pujian? Bagaimana mungkin ia berbicara tentang zuhud, sementara hatinya masih terpaut kuat pada dunia? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting, karena sering kali yang paling sulit dibersihkan adalah hati kita sendiri.
Menjadi guru atau ustaz bukan perkara ringan. Ada beban agama, ada amanah ilmu, dan ada tanggung jawab membina manusia dalam jumlah yang tidak sedikit. Karena itu, seseorang yang berada pada posisi itu seharusnya sadar bahwa setiap kata dan sikapnya akan memberi pengaruh. Ia tidak hanya membawa nama dirinya, tetapi juga membawa nilai agama yang diajarkan kepada umat.
Allah mengingatkan kita tentang karunia terbesar yang diberikan kepada umat ini:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ [آل عمران: 164]
Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Dan tugas Rasul itu bukan satu dua hal saja.
Beliau: Membacakan ayat-ayat Allah kepada manusia.
Menyucikan hati mereka dari kotoran dunia dan kemaksiatan.
Mengajarkan mereka Al-Kitab dan hikmah dengan cara yang benar.
Tiga tugas besar ini menunjukkan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan kata-kata. Ia adalah proses membersihkan jiwa, menuntun akal, dan membentuk akhlak. Maka pantaskah seseorang yang mengemban warisan para nabi justru mencederai keikhlasan yang telah ia bangun dengan susah payah?
Di sinilah kita perlu merenungi kembali ayat yang sangat kuat maknanya:
أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ [البقرة: 266]
Ayat ini menggambarkan keadaan seseorang yang telah memiliki kebun yang sangat indah, penuh hasil, lalu di saat ia paling membutuhkan, datang angin kencang berisi api yang membakarnya habis. Begitulah kira-kira gambaran amal yang semula terlihat baik, tetapi ternyata rusak karena hilangnya keikhlasan atau karena terseret fitnah dunia.
Maka pesan besarnya sangat jelas bahwa setiap orang beramal sesuai porsinya, dan setiap orang akan diuji pada titik lemahnya. Tidak ada yang aman hanya karena terlihat bagus di mata manusia. Yang menyelamatkan adalah hati yang takut kepada Allah, amal yang ikhlas, dan kesadaran bahwa dunia hanyalah tempat ujian, bukan tempat berbangga.