Kesalehan Semu: Ketika Ibadah Berubah Jadi Topeng.
8 months ago
25 views

Kesalehan Semu: Ketika Ibadah Berubah Jadi Topeng

Kesalehan itu harus diukur dengan rasionalitas. Karena jika disalah artikan akan terjebak oleh tekanan yang semu dan delusi. Dan akan berakibat sebagai manusia hipokrit.

Karena jika dipahami secara intim, bahwa kesalehan sejati bukan soal pencitraan atau kepalsuan, melainkan upaya untuk konsisten dalam memperbaiki diri.

Oleh karena itu, semakin orang-orang yang mengejar kesalehan dan validasi itu, semakin banyak topeng yang akhirnya dia pakai. Dan akan ada suatu titik dimana dia akan kehilangan dirinya sendiri, yang pada akhirnya nilai otentisitas sebagai

"manusia" itu semakin buram dan bahkan hilang.

Kesalehan sejati bukanlah soal seberapa banyak orang memuji atau menganggap kita saleh, tetapi tentang konsistensi dalam memperbaiki diri dan menjalankan nilai-nilai yang benar.

Akibat dari itu, akan melahirkan sikap superiority complex. Dan salah satu contohnya ialah, mencela orang yang tidak sesuai dengan dirinya. Atau bahkan merasa lebih dan timbul rasa unggul dalam hatinya.

Sebagaimana diterangkan oleh Rasulullah shallahu'alahi wa sallam sebagai refleksi untuk dirinya,

وَإِنِ اﻣْرُؤٌ ﺷَﺗَﻣَكَ وَﻋَﯾﱠرَكَ ﺑِﻣَﺎ ﯾَﻌْﻠَمُ ﻓِﯾكَ، ﻓَﻼَ ﺗُﻌَﯾﱢرْهُ ﺑِﻣَﺎ ﺗَﻌْﻠَمُ ﻓِﯾﮫِ، ﻓَﺈِﻧﱠﻣَﺎ وَﺑَﺎلُ ذَﻟِكَ ﻋَﻠَﯾْﮫِ

“Jika ada seseorang mencela dan menghinamu dengan perkara yang ia ketahui pada dirimu, maka janganlah engkau mencelanya dengan perkara yang engkau ketahui pada dirinya, karena sesungguhnya keburukannya akan kembali kepadanya.” (H.R. Abu Dawud: 4084)Ini menunjukkan bahwa siapa yang mecela saudaranya karena dosa yang ia lakukan, maka ia akan melakukan dosa tersebut seperti apa yang ia cela kepada saudaranya.

Imam Ibn Qoyyim pernah berkata,

ﻣن ﺿﺣك ﻣن اﻟﻧﺎس ﺿُﺣك ﻣﻧﮫ، وﻣن ﻋﯾّر أﺧﺎه ﺑﻌﻣل اﺑﺗﻠﻲ ﺑﮫ وﻻ ﺑد.

“Barang siapa menertawakan orang lain, niscaya dia akan ditertawakan. Dan barang siapa mencela saudaranya karena suatu perbuatan, pasti dia akan diuji dengannya, tidak bisa tidak.” (Syarh Bulughil Maram Lil Humaidi, 4/668)

Ini menunjukkan bentuk dari ujiannya, sebagai bagian dari pendidikan ilahi, agar manusia tidak menganggap dirinya lebih baik, dan lebih superior

Penulis : Ustadz. Riza Ashfari Mizan, BA.

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
Belum ada komentar
Artikel Terbaru Riza Ashfari Mizan