(Refleksi QS. Yusuf: 86)
Allah berfirman dalam QS. Yusuf ayat 86:
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى ٱللَّهِ
"Ya‘kub berkata: Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku."
1. Pada hakikatnya, setiap manusia pasti mengalami masa-masa sulit, sebagaimana yang dirasakan oleh Nabi Ya‘kub ‘alaihissalam.
2. Kata إنما dalam ayat tersebut, jika ditinjau dari sisi balaghah, menunjukkan makna al-hashr (pembatasan). Artinya, keluh kesah Nabi Ya‘kub hanya ia tujukan kepada Allah semata, bukan kepada selain-Nya. Dengan kata lain, setiap keresahan hatinya ia adukan hanya kepada Allah.
3. Ujian yang dirasakan Nabi Ya‘kub adalah ujian hati, karena batsi (kesusahan) dan huzn (kesedihan) berkaitan dengan kondisi batin manusia.
4. Kata batsi dalam ayat ini menunjukkan rasa kesedihan, kekhawatiran, dan was-was yang sangat mendalam, khususnya terkait perasaan yang telah ia alami di masa lalu.
5. Sedangkan kata huzni bermakna perasaan gundah atau sedih yang mendalam, baik terhadap peristiwa yang sudah terjadi maupun terhadap sesuatu yang akan datang.
6. Jika diperhatikan lebih jauh, batsi dan huzni memiliki kaitan erat dengan dimensi waktu. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa kesempurnaan iman ditandai dengan sikap berserah diri sepenuhnya kepada Allah, baik terhadap masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Sebab, semua urusan manusia berada dalam genggaman Allah, dan hanya Dia yang Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya.
7. Inilah hakikat sabr jamil (sabar yang indah), yakni ketika seorang hamba menyalurkan keluh kesah, kegundahan, dan kegelisahannya hanya kepada Allah melalui doa.
8. Seorang mukmin seyogianya meyakini bahwa Allah pasti akan menyelesaikan setiap urusannya.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:
أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقࣰّاۚ لَّهُمۡ دَرَجَـٰتٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَمَغۡفِرَةࣱ وَرِزۡقࣱ كَرِيمٌ
"Merekalah orang-orang mukmin yang sebenarnya. Bagi mereka derajat yang tinggi di sisi Tuhan mereka, ampunan, serta rezeki yang mulia." (QS. Al-Anfal: 4)
Adapaun yang dimaksud dengan 'rizqun kariim' adalah surga (Lihat: Tafsir at Thabari, 13/390). Hal ini menunjukkan bahwa salah satu jalan dalam menempuh spiritual yang mengubungkan dirinya ke dalam kenikmatan haqiqi dan memasukkan dirinya ke dalam surga ialah dengan mengoptimalkan aduannya terfokus kepada Allah semata.