Coba kita internalisasi ayat yang penuh hikmah ini:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
(Surah Thaha: 132)
"Dan perintahkanlah keluargamu (untuk mendirikan) shalat, dan bersabarlah engkau di atasnya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa."
Ayat ini bukan sekadar perintah mendirikan shalat, melainkan sebuah panduan mendalam tentang pendidikan keluarga di tengah segala tantangan. Allah SWT memerintahkan kita untuk mentransformasikan nilai ibadah ke dalam tubuh keluarga, sebuah proses yang panjang dan penuh ujian.
Kata وَاصْطَبِرْ (washthabir) mengandung makna kesabaran yang sangat mendalam. Menurut ulama tafsir, tambahan huruf pada kata ini memperkuat arti: kesabaran tertinggi yang meliputi keletihan jiwa, rasa lelah yang menusuk, kebimbangan hati, ketakutan akan masa depan anak, hingga gelombang depresi dan frustrasi yang kadang datang menghantam.
Di era digital saat ini, tantangan tersebut semakin berat. Anak-anak tumbuh di tengah banjir informasi, media sosial, game online, dan pengaruh budaya yang sering bertentangan dengan nilai Islam. Godaan maksiat hanya satu ketukan layar saja. Banyak orang tua merasa kewalahan: anak susah diajak shalat, adabnya menurun, akhlaknya tergerus oleh konten negatif, dan hati mereka sering gelisah melihat masa depan anak di dunia yang semakin kompleks.
Namun, justru di sinilah letak ujian ketakwaan. Ketakwaan bukanlah kesempurnaan hasil akhir, melainkan keteguhan, ketabahan, dan ketegaran hati orang tua yang tetap berdiri menyuarakan kebaikan. Meski berkali-kali jatuh dan gagal, orang tua terus berusaha, berdoa, dan memberi keteladanan.
Inilah yang disebut ta’dib oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas yaitu pendidikan yang berpusat pada penanaman adab (tata krama, akhlak, dan kesadaran spiritual) secara holistik. Ta’dib bukan hanya transfer pengetahuan, tapi pembentukan karakter melalui pengulangan, keteladanan, koreksi lembut, doa yang tak putus, dan keteguhan hati orang tua.
Allah tidak hanya berfirman "perintahkanlah" (وَأْمُرْ), tapi menambahkan "dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh (وَاصْطَبِرْ)". Ini isyarat bahwa mendidik anak dalam kebaikan adalah jihad yang berat, namun penuh kemuliaan.
Kemudian datang ayat penenang yang luar biasa:
لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
"Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa."
Orang tua tidak dituntut menghasilkan anak yang "sempurna" dengan kekuatannya sendiri. Tugas kita adalah memerintahkan, memberi teladan, dan bersabar. Hidayah anak (rezeki iman) adalah urusan Allah. Jika anak belum mau shalat konsisten, adabnya masih kurang, atau masih terjerumus dalam maksiat, itu bukan berarti gagal.
Selama orang tua tetap dalam proses, terus mendidik, terus berdoa, terus memperbaiki diri, dan tidak putus asa, maka itulah kemenangan, kemuliaan, dan wujud ketakwaan yang sebenarnya.
وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Kesudahan yang baik bukan selalu berarti anak yang sempurna tanpa cela, melainkan proses penghambaan yang terus berlanjut meski penuh dengan kegagalan, kelelahan, dan kekecewaan.
Semoga Allah memberikan kesabaran tertinggi kepada seluruh orang tua yang sedang berjuang. Jadikanlah rumah kita sebagai madrasah pertama yang penuh kasih, keteladanan, dan keteguhan. InsyaAllah, perjuangan ini tidak akan sia-sia.
Allahu a’lam.