Mengapa Abu Hanifah Memilih Bidang Fiqih?
2 hours ago
1 views

Di antara sekian banyak tokoh besar dalam sejarah Islam, Abu Hanifah an-Nu‘man bin Tsabit menempati posisi yang sangat istimewa. Namanya tidak hanya dikenal sebagai ulama besar, tetapi juga sebagai tokoh yang memberi warna sangat kuat dalam perkembangan ilmu fiqih. Pertanyaan yang sering muncul adalah mengapa beliau akhirnya memilih fiqih sebagai bidang utama?

Jawabannya menarik. Dari beberapa riwayat, terlihat bahwa Abu Hanifah tidak langsung masuk ke fiqih begitu saja. Beliau justru terlebih dahulu menimbang banyak disiplin ilmu yang berkembang pada zamannya. Dengan kata lain, pilihan beliau bukan pilihan yang tergesa-gesa. Itu adalah hasil pertimbangan yang matang, luas, dan sungguh-sungguh.

Dalam salah satu riwayat yang dinukil dari Abu Yusuf, ketika seseorang bertanya kepada Abu Hanifah mengapa beliau memilih fiqih, beliau menjawab bahwa dirinya terlebih dahulu memeriksa berbagai bidang ilmu satu per satu. Beliau memikirkan akibat dari masing-masing ilmu, manfaatnya, dan juga arah akhirnya. Di sinilah tampak kedalaman pandangan Abu Hanifah. Beliau tidak sekadar melihat ilmu dari namanya, tetapi dari dampaknya.

Beliau menilai ilmu kalam, lalu melihat bahwa di dalamnya ada banyak perdebatan dan tuduhan. Orang yang terlalu tenggelam di dalamnya sering tidak bisa berbicara dengan tenang, bahkan mudah menuduh pihak lain dengan berbagai keburukan. Karena itu, beliau tidak menjadikannya fokus utama. Lalu beliau memeriksa ilmu adab, sastra, dan nahwu. Namun ujungnya, menurut beliau, ia justru lebih banyak berkutat dengan pengajaran dasar kepada anak-anak. Setelah itu beliau menengok ilmu syair. Di sana beliau melihat adanya pujian dan celaan, bahkan dusta yang bisa merusak agama. Maka beliau pun tidak berhenti di sana.

Beliau juga memperhatikan ilmu qira’ah. Jika seseorang menguasainya, maka orang-orang akan berkumpul untuk belajar kepadanya. Tetapi menerangkan Al-Qur’an dan makna-maknanya bukan perkara mudah. Ada tanggung jawab besar di sana. Beliau kemudian berpikir tentang ilmu hadis. Namun mengumpulkan hadis dalam jumlah banyak memerlukan usia yang panjang dan kesungguhan luar biasa. Selain itu, jika seseorang sudah dikenal dalam bidang ini, ia akan didatangi banyak orang. Dan bisa jadi ada yang menuduhnya dusta atau lemah hafalan, sehingga tuduhan itu terus melekat sepanjang hidupnya.

Setelah itu, beliau memeriksa ilmu fiqih. Di sinilah beliau merasakan sesuatu yang berbeda. Setiap kali dipelajari, fiqih tampak makin berkilau dan tidak bercela. Ilmu ini terasa lebih tertata, lebih kokoh, dan lebih dekat dengan kebutuhan manusia dalam menjalankan agama. Karena itu, beliau memutuskan untuk berguru kepada para ulama, fuqaha, dan masyayikh, lalu meneladani akhlak mereka.

Bagi Abu Hanifah, fiqih bukan sekadar ilmu tentang hukum. Ia adalah jalan untuk memahami kewajiban, menegakkan agama, dan menjalani kehidupan dunia serta akhirat dengan benar. Bahkan, menurut beliau, orang yang ingin mencari dunia pun tetap membutuhkan fiqih. Sebab tanpa fiqih, seseorang tidak akan tahu cara yang benar dalam bertindak. Demikian pula orang yang ingin beribadah dan meninggalkan urusan duniawi, ia tetap tidak bisa lepas dari fiqih. Ibadah tanpa ilmu tidak akan lurus.

Inilah yang membuat pilihan Abu Hanifah menjadi sangat penting. Beliau tidak hanya memilih satu bidang ilmu, tetapi juga memilih bidang yang paling menyentuh kehidupan nyata umat. Dari fiqih, manusia belajar bagaimana beribadah dengan benar, bagaimana bermuamalah, dan bagaimana menjaga agama dalam seluruh aspek hidup.

Karena itu, riwayat ini menunjukkan bahwa Abu Hanifah adalah sosok yang memiliki pandangan luas terhadap ilmu. Beliau tidak meremehkan cabang-cabang ilmu lain. Namun setelah menimbang semuanya, beliau mengetahui mana yang paling sesuai untuk dirinya, paling bermanfaat bagi umat, dan paling kuat untuk menjadi spesialisasi hidupnya. Dari keputusan itulah lahir prestasi besar dan karya yang terus hidup sepanjang masa.

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
Belum ada komentar
Artikel Terbaru Riza Ashfari Mizan