Pada awal Surah al-Baqarah, Allah tidak langsung menyebut Al-Qur’an dengan ungkapan “ini kitab”, tetapi memilih kalimat yang terdengar unik dan mengundang perenungan: ذَٰلِكَ الْكِتَابُ (itulah kitab). Sekilas, ungkapan ini terasa janggal. Al-Qur’an sedang dibaca, berada di hadapan kita, namun justru ditunjuk dengan kata “itu”, bukan “ini”. Dari sinilah para ulama tafsir sejak generasi awal membuka pembahasan yang sangat kaya, baik dari sisi bahasa maupun makna.
Kata ذَٰلِكَ adalah kata tunjuk untuk sesuatu yang jauh, sedangkan هَٰذَا digunakan untuk sesuatu yang dekat. Secara logika sederhana, seharusnya Al-Qur’an disebut “ini kitab”, karena ia sedang dibacakan dan didengar. Namun para ulama salaf seperti Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, As-Suddi, dan banyak lainnya menjelaskan bahwa dalam tradisi bahasa Arab, kata tunjuk dekat dan jauh terkadang bisa saling menggantikan. Karena itu, mereka menafsirkan ذَٰلِكَ الْكِتَابُ dengan makna: inilah kitab, tanpa ada pertentangan makna. Bahasa Arab tidak selalu kaku, tetapi hidup dan fleksibel mengikuti konteks.
Para ulama tidak berhenti pada penjelasan bahasa semata. Mereka justru melihat bahwa pemilihan kata ذَٰلِكَ menyimpan pesan yang lebih dalam. Dalam ilmu balaghah (keindahan bahasa), kata tunjuk jauh sering digunakan bukan untuk menunjukkan jarak fisik, tetapi untuk menunjukkan kedudukan yang tinggi dan mulia. Sesuatu yang agung, dihormati, dan ditinggikan, sering ditunjuk dengan kata “itu”, seolah-olah ia berada di tempat yang lebih tinggi dari jangkauan biasa. Maka ketika Allah berfirman ذَٰلِكَ الْكِتَابُ, seakan Allah sedang berkata: Inilah kitab yang kedudukannya sangat tinggi, agung, dan tidak bisa disamakan dengan kitab mana pun.
Sebagian ulama tafsir juga menjelaskan bahwa kata “itu” dalam ayat ini mengisyaratkan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks yang baru muncul di hadapan manusia, melainkan kitab yang telah ditetapkan sejak lama di sisi Allah. Ia telah tercatat di Lauh Mahfuzh, dijaga, dan dimuliakan sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Dengan kata lain, Al-Qur’an bukan kitab yang lahir dari ruang dan waktu manusia, tetapi wahyu yang berasal dari ketetapan Ilahi yang azali.
Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa kata ذَٰلِكَ digunakan untuk menarik perhatian manusia. Seakan-akan Allah berkata, “Perhatikan baik-baik kitab yang sedang kalian dengar ini. Jangan kalian anggap biasa.” Ungkapan ini mengajak pembaca Al-Qur’an untuk berhenti sejenak, menaruh rasa hormat, dan menyadari bahwa yang sedang dibaca bukanlah bacaan biasa, melainkan firman Allah yang penuh hikmah dan petunjuk.
Pesan terpenting dari lafaz ذَٰلِكَ الْكِتَابُ adalah bahwa Al-Qur’an tidak boleh diperlakukan seperti buku biasa. Ia bukan sekadar teks untuk dibaca cepat, dikutip seperlunya, atau diperdebatkan tanpa adab. Pemilihan kata “itu” mengajarkan jarak adab antara manusia dan wahyu. Bukan karena Al-Qur’an jauh dari manusia, tetapi karena manusia harus mendekat dengan sikap hormat, tunduk, dan rendah hati.
Satu frasa singkat di awal surah ini sudah mengajarkan banyak hal: tentang keagungan Al-Qur’an, tentang cara mendekatinya, dan tentang posisi manusia di hadapan wahyu. Sebelum Al-Qur’an berbicara tentang hukum, akhlak, dan petunjuk hidup, ia terlebih dahulu mendidik hati pembacanya agar tidak bersikap sembarangan. ذَٰلِكَ الْكِتَابُ adalah undangan halus agar manusia membuka hati, menundukkan ego, dan bersiap menerima kebenaran dari kitab yang agung.