Menggapai Hidayah Melalui Al-Qur’an
3 hours ago
0 views
Ary Edithia

Menggapai Hidayah
Melalui Al-Qur’an

Faedah dari kajian bersama
Ustadz Ujie Effendi, BA., M.Pd حفظه الله

Kajian Rutin The Followers

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad ﷺ. Sungguh termasuk nikmat bahwa di tengah kesibukan dan rasa penat, kita masih disempatkan duduk dalam majelis ilmu. Menuntut ilmu bukanlah perkara “kalau sempat”, melainkan harus disempatkan — sebab ia adalah kewajiban (farīdhah) bagi setiap muslim, sebagaimana sabda Nabi ﷺ. Pada kesempatan ini kita membahas bagaimana cara menggapai hidayah, dengan fokus pada Al-Qur’an sebagai sumbernya.

Dua Jenis Hidayah

Para ulama menjelaskan bahwa hidayah terbagi menjadi dua. Pertama, hidāyah al-irsyād wal-bayān, yaitu hidayah berupa penjelasan dan penunjukan mana yang benar dan mana yang salah. Hidayah jenis ini dimiliki para nabi, para ulama, dan siapa pun yang mampu menerangkan kebenaran. Inilah yang ditegaskan dalam firman Allah kepada Nabi ﷺ:

وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Wa innaka latahdī ilā shirāthin mustaqīm

“Dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura: 52)

Kedua, hidāyah at-taufīq, yaitu hidayah yang menggerakkan hati seseorang untuk menerima kebenaran. Hidayah jenis ini adalah hak mutlak Allah semata, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Innaka lā tahdī man ahbabta wa lākinnallāha yahdī man yasyā’

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

Maka para ulama menyimpulkan: pada ayat pertama ada penetapan bahwa Nabi ﷺ mampu memberi hidayah dalam arti menerangkan; sedangkan pada ayat kedua, yang ditiadakan adalah hidayah dalam arti menggerakkan hati — dan itu hak Allah. Lalu mengapa ada orang yang belum diberi taufik? Itu adalah hikmah Allah Yang Maha Bijaksana, dan Dia tidak pernah berbuat zalim kepada hamba-Nya. Terkadang seseorang terhalang dari hidayah justru karena perbuatannya sendiri — ketika ia condong pada penyelewengan, Allah palingkan hatinya.

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

Falammā zāghū azāghallāhu qulūbahum

“Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (QS. Ash-Shaff: 5)

Sebaliknya, siapa yang bersungguh-sungguh mencari hidayah, Allah berjanji menunjukkan jalan-jalan-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Wal-ladzīna jāhadū fīnā lanahdiyannahum subulanā

“Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Banyak orang sebenarnya telah didatangi hidayah, namun gayung tak bersambut — karena hawa nafsu, pengaruh teman, atau sebab lain — sehingga ia berpaling.

Mengapa Kita yang Sudah Muslim Masih Meminta Hidayah?

Mungkin timbul pertanyaan: kita sudah masuk Islam, mengapa masih meminta hidayah dalam shalat? Jawabannya, ada hidayah untuk masuk Islam, dan ada hidayah ketika sudah di dalam Islam. Kita tidak mampu beramal, bertaubat, dan diterima taubatnya kecuali karena hidayah Allah yang memudahkan sebab-sebabnya. Maka tidak heran kita memintanya minimal 17 kali sehari dalam shalat:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Ihdinash-shirāthal-mustaqīm

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)

Para ulama menasihatkan agar para da‘i mengingatkan jamaah untuk tidak membaca Al-Fatihah sekadar lewat, sebab di dalamnya kita sedang memohon hidayah, keistiqamahan, dimudahkan beramal, dan dijauhkan dari perkara yang dimurkai Allah.

Sumber-sumber Hidayah dan Keistimewaan Al-Qur’an

Di antara sumber hidayah yang disebut dalam nas adalah Baitullah (Ka‘bah), Al-Qur’an, dan Nabi ﷺ beserta sunnah serta syariatnya. Tentang Ka‘bah, Allah berfirman bahwa ia penuh berkah dan menjadi petunjuk bagi semesta (QS. Ali ‘Imran: 96). Namun pembahasan kita fokus pada Al-Qur’an sebagai sumber hidayah: 

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

Inna hādzal-Qur’āna yahdī lillatī hiya aqwam

“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Dzālikal-kitābu lā raiba fīh, hudal lil-muttaqīn

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Pelajaran dari Jin yang Mendengar Al-Qur’an

Allah mengisahkan sekelompok jin yang mendengar Nabi ﷺ membaca Al-Qur’an, lalu mereka takjub:

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا • يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ

Qul ūhiya ilayya annahus-tama‘a nafarun minal-jinni fa-qālū innā sami‘nā qur’ānan ‘ajabā • yahdī ilar-rusydi fa-āmannā bih

“Katakanlah (Muhammad), telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an), lalu mereka berkata: Kami telah mendengar Al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya.” (QS. Al-Jinn: 1–2)

Yang paling ditekankan para jin itu bukan keindahan sastra atau nazamnya semata, melainkan bahwa Al-Qur’an memberi petunjuk kepada jalan yang lurus — “fa-āmannā bih” (maka kami beriman kepadanya). Bahkan mereka tidak berhenti pada diri sendiri; mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan (QS. Al-Ahqaf: 29–30). Ini menunjukkan betapa Al-Qur’an memberi dampak hidayah yang langsung menembus hati pendengarnya.

Ustadz menyelipkan ‘ibrah dari kisah Nabi Sulaiman ‘alaihis-salām: ketika hendak mendatangkan singgasana Ratu Balqis, seorang jin ‘ifrit menyanggupi mendatangkannya sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempat duduknya. Namun yang memiliki ilmu dari Kitab justru lebih hebat — ia sanggup mendatangkannya dalam sekejap mata (QS. An-Naml: 39–40). Ini menunjukkan keutamaan orang berilmu melampaui kekuatan jin sekalipun.

Membuka Hati untuk Menerima Hidayah Al-Qur’an

Al-Qur’an begitu agung; seandainya diturunkan kepada gunung, niscaya gunung itu tunduk terbelah karena takut kepada Allah (QS. Al-Hasyr: 21). Lalu mengapa kita membacanya namun seolah lewat begitu saja tanpa memetik petunjuk? Masalahnya ada pada diri kita: kita memberi porsi Al-Qur’an hanya untuk lisan, mata, dan telinga, tanpa menghadirkan hati. Padahal Allah menegur:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Afalā yatadabbarūnal-Qur’āna am ‘alā qulūbin aqfāluhā

“Maka tidakkah mereka menghayati (mentadaburi) Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Maka kunci hati harus dibuka dengan keikhlasan dan niat mencari hidayah saat membaca. Sebagaimana kita memberi porsi pada lisan, mata, dan telinga, berikan pula porsi untuk hati. Sebab hati butuh kehidupan, dan kehidupan itu ada pada Al-Qur’an yang Allah sebut sebagai ruh:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا

Wa kadzālika auhainā ilaika rūhan min amrinā

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami.” (QS. Asy-Syura: 52)

Ruh adalah yang membuat kita hidup; bila ia lepas dari jasad, kita mati. Kita begitu semangat menyehatkan badan — berolahraga, makan makanan sehat, berdiet — demi tubuh yang bugar. Mengapa kita tidak sesemangat itu memberi “suplemen” bagi hati, padahal suplemennya ada dalam Al-Qur’an? Sebagian ulama bahkan menyatakan, orang yang badannya hidup tetapi hatinya mati, lebih layak dishalati (ditakbiri empat kali). Ada pula syair bagi penuntut ilmu: bila engkau tidak membaca dan berusaha memahami, lalu siangmu bermain dan malammu tidur, maka perumpamaanmu di dunia ini seperti hewan ternak.

Tanda Hati yang Sakit: Hubungan dengan Shalat

Ibnul Qayyim rahimahullāh menyebutkan, salah satu tanda hati yang sakit adalah kondisinya terhadap shalat: bila seseorang tidak menyukai atau malas shalat, atau tidak bisa khusyuk menikmatinya, itu pertanda hatinya sedang sakit. Mengapa shalat? Karena setelah tauhid, shalat adalah amalan terpenting — rukun Islam kedua — yang saking pentingnya, perintahnya diterima Nabi ﷺ langsung di Sidratul Muntaha saat Mi‘raj, tidak melalui perantara wahyu biasa. Obatnya adalah dengan terus memaksa diri memperbaiki shalat hingga dapat menikmatinya, lalu meningkat kepada shalat-shalat sunnah, bahkan shalat malam.

Ustadz menyebut empat tahapan membiasakan shalat malam/witir, dari yang paling ringan: (1) dikerjakan setelah shalat sunnah rawatib ba‘diyah Isya; (2) sebelum tidur; (3) bangun sebelum Subuh; dan yang paling afdal (4) bangun di tengah malam untuk shalat di sepertiga malam terakhir. Jangan langsung melompat ke tingkatan tertinggi — biasakan bertahap, yang penting istiqamah. Abdullah bin al-Mubarak butuh 20 tahun untuk terbiasa shalat malam. Beliau juga mengingatkan dua shalat yang tidak pernah Nabi ﷺ tinggalkan baik saat mukim maupun safar: dua rakaat sebelum Subuh (fajar) dan shalat malam (witir) — sementara rawatib lain beliau tinggalkan ketika safar.

Al-Qur’an Menghidupkan Hati dan Rumah

Semakin dekat kita dengan Al-Qur’an, semakin hidup pula hati kita. Bahkan rumah pun terpengaruh, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Matsalul-baitil-ladzī yudzkarullāhu fīhi wal-baitil-ladzī lā yudzkarullāhu fīhi matsalul-hayyi wal-mayyit

“Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya, seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari no. 6407 & Muslim no. 779)

Dalam riwayat lain, orang yang tidak ada sedikit pun Al-Qur’an dalam dirinya diumpamakan seperti rumah yang roboh (HR. Tirmidzi). Maka seorang muslim sepatutnya tidak melewatkan harinya tanpa Al-Qur’an — minimal Al-Fatihah dalam shalat, namun semakin banyak membaca, semakin hidup hatinya. Jangan membatasi bacaan shalat hanya pada surat-surat pendek yang itu-itu saja kalau sebenarnya mampu; usahakan menghafal lebih, seperti dua ayat terakhir Al-Baqarah, Ayat Kursi, dan seterusnya. Terlebih bagi yang berkeluarga — perlihatkan kepada anak bahwa kita mencintai Al-Qur’an, sebab metode pendidikan terpenting adalah keteladanan (uswah), bukan sekadar perintah.

Al-Qur’an Penuh Keberkahan

Al-Qur’an disifati Allah sebagai kitab yang penuh berkah:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Kitābun anzalnāhu ilaika mubārakun liyaddabbarū āyātihi wa liyatadzakkara ulul-albāb

“(Inilah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah, agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29)

Keberkahan adalah perkara maknawi yang dirasakan, bukan kasat mata: yaitu sesuatu yang meski sedikit dapat menyamai, menandingi, bahkan melampaui yang banyak. Harta yang berkah adalah yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat; umur yang berkah adalah yang bermanfaat bagi keduanya. Lihatlah keberkahan umur para ulama: ada yang dalam satu malam mencatat dan menghafal ratusan hadits, Imam Syafi‘i menghafal Al-Muwaththa’ dalam semalam, dan ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an puluhan kali dalam satu Ramadan — padahal waktu mereka sama-sama 24 jam seperti kita.

Cara mengambil keberkahan Al-Qur’an bukan dengan mengusapkannya ke wajah atau sekadar menaruhnya di rumah/mobil, melainkan dengan mendekatkan diri kepadanya: membacanya, menjaganya, mentadaburinya, mengamalkannya, dan berakhlak dengan akhlak Al-Qur’an. Dan keberkahan terpenting dari Al-Qur’an adalah pahalanya — setiap satu huruf bernilai sepuluh kebaikan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Man qara-a harfan min kitābillāhi fa-lahu bihi hasanah, wal-hasanatu bi‘asyri amtsālihā

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.” (HR. Tirmidzi no. 2910; sahih)

Beliau merinci pula bentuk keberkahan lain: keberkahan rumah (cukup untuk berlindung dan beribadah, serta dibacakan Al-Qur’an), keberkahan istri (yang membantu suami beribadah dan mengingatkannya saat salah), keberkahan suami (mencari nafkah halal dan membimbing keluarga ke jalan Allah), dan keberkahan anak (yang saleh dan berbakti, seperti Nabi Ismail yang menolong ayahnya taat kepada Allah).

Al-Qur’an: Pengangkat Derajat dan Pemberi Syafaat

Termasuk keberkahan Al-Qur’an adalah ketinggian derajat di akhirat, sebagaimana sabda Nabi ﷺ kepada penghafal Al-Qur’an:

اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

Iqra’ wartaqi wa rattil kamā kunta turattilu fid-dunyā, fa-inna manzilataka ‘inda ākhiri āyatin taqra’uhā

“Bacalah dan naiklah (ke derajat surga), serta tartilkanlah sebagaimana engkau mentartilkannya di dunia, karena sesungguhnya kedudukanmu ada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud no. 1464 & Tirmidzi no. 2914; sahih)

Namun ironisnya, kita sering lebih betah memegang ponsel berjam-jam tanpa terasa, sedangkan membaca Al-Qur’an satu halaman saja sudah terasa berat. Padahal Al-Qur’an juga menjadi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat, terlebih surat Al-Baqarah dengan keutamaannya yang khusus. Al-Qur’an pun menjadi penyembuh — bukan hanya untuk gangguan sihir atau jin, tetapi juga untuk penyakit jasmani lainnya, sebagaimana kisah ruqyah dengan Al-Fatihah atas seseorang yang tersengat (HR. Bukhari & Muslim).

Ringkasan: Cara Meraih Hidayah dari Al-Qur’an

Beliau meringkas: pertama, hadirkan niat ikhlas karena Allah dan niatkan membaca Al-Qur’an untuk mencari hidayah — inilah kunci yang membuka hati. Kedua, tadaburi maknanya; bila belum menguasai bahasa Arab, minimal baca terjemahnya, sembari tekun belajar bahasa Arab. Ketiga, sediakan waktu khusus untuk Al-Qur’an, terutama di pagi hari — mulailah hari bukan dengan ngopi, melainkan dengan membaca dan mentadaburi Al-Qur’an, mengikuti amalan para sahabat, agar Allah memberkahi sisa hari kita.

Adapun tingkatan seseorang bersama Al-Qur’an: yang terendah, sekadar membaca agar khatam; yang tertinggi, menjadi shāhibul-Qur’ān yang senantiasa menyertainya — membacanya, berobat dengannya (hati maupun badan), mempelajarinya, mentadaburinya, dan menjadikannya penyejuk serta cahaya hati, bukan sekadar kebiasaan rutin.

Catatan dari Sesi Tanya Jawab

Hukum memelihara anjing dan kesucian liurnya

Yang diperintahkan dicuci tujuh kali (salah satunya dengan tanah) adalah bekas jilatan/liur anjing, sebagaimana hadits shahih. Adapun anggota badan lainnya, para ulama berselisih tentang kenajisannya, namun yang jelas tidak harus dicuci tujuh kali. Tentang memelihara anjing, malaikat (rahmat) tidak masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar makhluk bernyawa — sebagaimana kisah Malaikat Jibril yang menunda menemui Nabi ﷺ karena ada anak anjing di kolong ranjang. Lebih dari itu, siapa memelihara anjing bukan untuk berburu, menjaga ternak, atau menjaga kebun, maka setiap hari pahalanya berkurang satu qirath (digambarkan sebesar Gunung Uhud). Memelihara untuk menjaga rumah biasa tidak termasuk yang diberi keringanan, kecuali sebagian ulama membolehkan dengan tiga syarat sekaligus: daerah sangat rawan kejahatan, rumah berjauhan satu sama lain, dan anjing diletakkan di luar rumah — yang umumnya tidak terpenuhi di lingkungan padat dan aman.

Apakah membaca terjemah sama dengan membaca Al-Qur’an?

Berbeda. Yang disebut “membaca Al-Qur’an” adalah membaca teks Arabnya; pahala per huruf itu untuk lafal Arabnya. Membaca terjemah dilakukan untuk membantu mentadaburi karena keterbatasan memahami bahasa Arab. Bahkan perlu dicatat, Al-Qur’an pada hakikatnya tidak dapat “diterjemahkan” secara utuh karena kandungannya terlalu luas; yang ada adalah pendekatan tafsir — itulah sebabnya sebagian mushaf menuliskannya sebagai “tafsir Al-Qur’an dengan bahasa Indonesia”. Maka bacalah teks Arabnya, lalu terjemah/tafsirnya untuk memahami.

Lupa jumlah rakaat dalam shalat

Bila ragu jumlah rakaat, bangunlah di atas keyakinan (yang lebih sedikit). Misal ragu antara rakaat pertama dan kedua, anggap baru rakaat pertama; ragu antara tiga dan empat, ambil yang tiga, lalu sempurnakan dan tutup dengan sujud sahwi. Sering lupa rakaat bisa jadi karena memang pelupa, namun bila di luar shalat ingat sedangkan di dalam shalat selalu lupa, bisa jadi itu gangguan setan. Kiat agar tidak lupa: rencanakan sebelum shalat surat apa yang dibaca tiap rakaat, sehingga dari bacaan itu kita tahu sedang di rakaat keberapa.

Shalat saat di perjalanan atau terjebak macet

Bila benar-benar safar (perjalanan jauh yang memenuhi batasannya), boleh menjamak shalat hingga sampai tujuan. Namun bila tidak safar — sekadar terjebak macet — maka shalat tetap pada waktunya dan jangan sampai keluar waktu. Berdiri (al-qiyām) adalah rukun shalat; maka bila seseorang membawa kendaraan sendiri dan bisa menepi lalu berdiri (misalnya di rest area atau menggelar sajadah di tepi jalan), wajib ia berdiri. Adapun pada kendaraan umum yang tidak mungkin menepi, berlaku kaidah “bertakwalah kepada Allah semampu kalian” — bila hanya mampu shalat sambil duduk, lakukanlah, namun ini keringanan untuk kondisi darurat, bukan untuk bermudah-mudah.

Bagaimana mengusahakan hidayah bagi orang lain?

Hidayah taufik di tangan Allah, maka berdoalah memohonkannya. Namun jangan lupakan sebab: terkadang seseorang belum menerima karena cara kita menyampaikan kurang baik atau tutur kata kita kasar. Perbaiki cara, dan yang terpenting tampakkan akhlak yang baik — buktikan bahwa setelah mengenal sunnah, akhlak kita justru lebih mulia. Untuk keluarga atau orang tua yang sungkan dinasihati langsung, terkadang cukup meletakkan buku atau buletin ringan di ruang tamu; bisa jadi dari situ Allah datangkan hidayah. Ingatlah, bahkan Nabi ﷺ tidak kuasa memberi hidayah taufik kepada pamannya, dan istri Nabi Nuh tetap kafir — maka yang terpenting adalah berdoa kepada Allah.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Jika ada kebenaran, ia dari Allah; jika ada kekeliruan, ia dari kelemahan diri kami.

kajian lengkapnya disini: https://www.youtube.com/live/A332QNFyp_U?si=uJtxRCoGZlNVkF8f

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
Belum ada komentar
Artikel Terbaru Ary Edithia