Setiap Allah ﷻt yang Allah berikan seharusnya melahirkan syukur. Syukur itu tidak cukup hanya di hati, tetapi juga tampak dalam lisan dan perbuatan. Semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula kewajiban untuk menggunakannya dalam ketaatan kepada-Nya.
Allah berfirman:
إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ * فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ
“Sesungguhnya Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.”
(QS. Al-Kautsar: 1-2)
Ayat ini menunjukkan bahwa syukur kepada Allah tidak hanya diwujudkan dengan ucapan, tetapi juga dengan ibadah. Salat adalah bentuk syukur melalui hati dan badan. Sementara itu, kurban adalah bentuk syukur melalui harta. Dengan berkurban, seseorang rela mengeluarkan harta terbaik yang ia miliki, sekaligus melawan kecintaan berlebihan terhadap harta dan sifat kikir yang sering melekat pada manusia.
Dalam penjelasan Tafsir Taisir al-Karim ar-Rahman halaman 1195, dijelaskan bahwa ibadah kurban juga menjadi sarana untuk mengokohkan rasa syukur dan menundukkan kecenderungan hati kepada dunia.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah juga menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga pilar utama. Jika seseorang ingin benar-benar mengoptimalkan nikmat Allah, maka tiga hal ini harus diperhatikan.
Pertama, mengakui dalam hati bahwa semua nikmat itu datangnya semata-mata dari Allah. Tidak ada nikmat yang berdiri sendiri. Semua yang kita miliki, baik kesehatan, rezeki, ilmu, maupun kesempatan, semuanya berasal dari-Nya.
Kedua, tahadduts bin ni‘mah secara lahir, yaitu menyampaikan atau menunjukkan nikmat itu dengan cara yang benar kepada saudara muslim. Maksudnya bukan pamer, tetapi mengakui bahwa semua yang didapat adalah karunia Allah semata.
Ketiga, membelanjakan nikmat itu dalam keridhaan-Nya. Harta, tenaga, ilmu, dan waktu hendaknya digunakan untuk jalan yang diridhai Allah. Bisa diberikan kepada keluarga, kepada orang yang berhak menerimanya, dan kepada mereka yang membutuhkan.
Dengan demikian, nikmat Allah tidak hanya dinikmati, tetapi juga dioptimalkan. Syukur bukan sekadar ucapan, melainkan sikap hidup. Ia dimulai dari pengakuan dalam hati, lalu diwujudkan dalam amal, dan akhirnya dipakai untuk mendekat kepada Allah.
Jika seseorang mampu melakukannya, maka nikmat itu tidak berhenti menjadi kesenangan sesaat. Ia berubah menjadi jalan menuju keberkahan, ketenangan, dan pahala yang terus mengalir.