Kompas Kehidupan di Tengah Fitnah Zaman
Wasiat-wasiat Nabi ﷺ
Faedah dari kajian bersama Ustadz Lutfi Maricar حفظه الله
Flex Space Frutta Gelato • Kajian Rutin Sabtu
Mukadimah: Mensyukuri Nikmat Sehat, Iman, dan Ilmu
Segala puji bagi Allah ‘azza wa jalla yang telah melimpahkan begitu banyak kenikmatan kepada kita, hingga kita bisa hadir di majelis ilmu ini. Kehadiran kita di sini semata karena nikmat Allah — di antaranya dua nikmat besar yang sering terlupa: nikmat sehat dan nikmat iman. Betapa banyak orang yang sehat dan punya waktu luang, namun hatinya tidak digerakkan untuk hadir di kajian, untuk beribadah, atau untuk shalat berjamaah. Maka selayaknya kita bersyukur, sebab dengan syukur Allah menjanjikan tambahan nikmat:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
La-in syakartum la-azīdannakum, wa la-in kafartum inna ‘adzābī lasyadīd
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Ustadz mengingatkan keutamaan duduk di majelis ilmu. Tidaklah suatu kaum berkumpul di sebuah rumah Allah untuk membaca dan mempelajari Kitab Allah, melainkan turun kepada mereka ketenangan (sakinah), diliputi rahmat, dikelilingi para malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Bayangkan: boleh jadi seseorang tidak dikenal di bumi, namun namanya harum di kalangan penduduk langit. Maka jalan termudah meraih itu adalah dengan menghadiri kajian dan menuntut ilmu.
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
Wa mā ijtama‘a qaumun fī baitin min buyūtillāhi yatlūna kitāballāhi wa yatadārasūnahu bainahum illā nazalat ‘alaihimus-sakīnatu wa ghasyiyat-humur-rahmatu wa haffat-humul-malā-ikatu wa dzakarahumullāhu fīman ‘indah
“Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah, membaca Kitab Allah dan saling mempelajarinya, melainkan turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan (makhluk) yang ada di sisi-Nya.” (HR. Muslim no. 2699)
Beliau menegaskan bahwa menuntut ilmu agama hukumnya wajib bagi setiap muslim — apa pun profesinya, baik dokter, polisi, pejabat, maupun tukang becak. Adapun ilmu dunia seperti kedokteran hukumnya fardhu kifayah: bila di suatu daerah sudah ada yang menguasainya, gugur kewajiban atas yang lain; tetapi bila tidak ada sama sekali, semua berdosa. Berbeda dengan ilmu agama yang fardhu ‘ain, wajib atas setiap individu.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Thalabul-‘ilmi farīdhatun ‘alā kulli muslim
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah no. 224)
Dan menuntut ilmu adalah jalan termudah menuju surga:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Man salaka tharīqan yaltamisu fīhi ‘ilman sahhalallāhu lahu bihi tharīqan ilal-jannah
Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)
Wasiat-wasiat Nabi ﷺ sebagai Kompas Kehidupan
Inti kajian ini adalah wasiat-wasiat Rasulullah ﷺ kepada para sahabat dan umatnya. Wasiat adalah perkara penting; ia menjadi kompas yang menuntun kita melewati fitnah akhir zaman. Berikut wasiat-wasiat itu satu per satu.
1. Memperbanyak Tilawah Al-Qur’an dan Tidak Banyak Tertawa
Dari Abu Dzarr al-Ghifari radhiyallāhu ‘anhu — yang nama aslinya Jundab bin Junādah — beliau meminta wasiat kepada Rasulullah ﷺ. Maka Nabi ﷺ mewasiatkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Bagi yang belum bisa membaca, jangan gengsi untuk belajar mengaji; lebih baik malu belajar di dunia daripada menyesal di akhirat. Bila enggan belajar di tempat umum, bisa mengundang guru privat ke rumah. Jangan sampai kita hidup sekali namun tidak bisa membaca Kitab Allah.
عَلَيْكَ بِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فَإِنَّهُ نُورٌ لَكَ فِي الْأَرْضِ وَذُخْرٌ لَكَ فِي السَّمَاءِ
Alaika bitilāwatil-Qur’āni fa-innahu nūrun laka fil-ardhi wa dzukhrun laka fis-samā’
“Hendaklah engkau memperbanyak tilawah Al-Qur’an, karena ia menjadi cahaya bagimu di bumi dan simpanan (tabungan) bagimu di langit.” (HR. Ibnu Hibban; dinilai sahih oleh para ulama)
Wasiat berikutnya dalam hadits yang sama: jangan banyak tertawa. Tertawa boleh, namun yang berlebihan tidak baik — sebab banyak tertawa mematikan hati. Beliau mengingatkan bahwa segala yang berlebihan itu tidak baik, bahkan dalam urusan agama sekalipun. Contoh berlebihan dalam beragama adalah kaum Nasrani yang mengangkat Nabi Isa ‘alaihis-salām hingga menyebutnya anak Tuhan, sehingga mereka tersesat.
لَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ
Lā tuktsiridh-dhahika fa-inna katsratadh-dhahiki tumītul-qalb
“Janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa itu mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah no. 4193; hasan)
2. Mengamalkan Kitab Allah
Dari Thalhah bin Musharrif, beliau bertanya kepada Abdullah bin Abi Aufa radhiyallāhu ‘anhu, apakah dahulu Nabi ﷺ pernah berwasiat. Beliau menjawab bahwa Nabi ﷺ berwasiat dengan Kitab Allah. Imam an-Nawawi rahimahullāh menjelaskan bahwa makna berwasiat dengan Kitab Allah adalah mengamalkan isi yang ada di dalamnya.
أَوْصَى بِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
Awshā bikitābillāhi ‘azza wa jall
“Beliau (Nabi ﷺ) berwasiat dengan Kitab Allah ‘azza wa jalla.” (Muttafaqun ‘alaih — HR. Bukhari no. 2740 & Muslim no. 1634)
Sebagai catatan ilmu, beliau menyelipkan bahwa “HR. Bukhari dan Muslim” bila disingkat menjadi “Muttafaqun ‘alaih”. Nama Imam Bukhari adalah Muhammad bin Ismail al-Bukhari (dinisbahkan ke daerah Bukhara), nama Imam Muslim adalah Muslim bin al-Hajjaj, dan nama Imam Syafi‘i adalah Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i. Beliau juga menyentil fenomena masa kini: ada yang hafal dan fasih membaca Al-Qur’an, tetapi akhlaknya tidak mencerminkan isinya. Maka membaca Al-Qur’an harus disertai memahami dan mengamalkan kandungannya.
3. Shalat pada Waktunya
Dari Abu Dzarr radhiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ berwasiat untuk menunaikan shalat pada waktunya.
الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا
Ash-shalāta liwaqtihā
“(Tunaikanlah) shalat pada waktunya.” (HR. Bukhari no. 527 & Muslim no. 85, dari Abdullah bin Mas‘ud)
Yang afdal, sebagian besar shalat ditunaikan di awal waktu: Subuh di awal, Zhuhur di awal (kecuali saat cuaca sangat panas, maka diundur hingga lebih sejuk), Ashar di awal, dan Maghrib di awal. Adapun Isya, yang afdal justru diakhirkan, sebagaimana Nabi ﷺ pernah mengakhirkannya hingga sebagian sahabat tertidur.
Tentang mengundur Zhuhur saat panas, beliau membawakan sabda Nabi ﷺ:
إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلَاةِ فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ
Idzasy-taddal-harru fa-abridū bish-shalāti fa-inna syiddatal-harri min faihi jahannam
“Jika cuaca sangat panas, tunaikanlah shalat (Zhuhur) saat sudah lebih sejuk, karena teriknya panas itu berasal dari hembusan Jahannam.” (HR. Bukhari no. 533 & Muslim no. 615)
Mengenai keutamaan mengakhirkan Isya, Nabi ﷺ pernah menundanya hingga larut, lalu setelah shalat beliau bersabda bahwa inilah waktu yang afdal seandainya tidak memberatkan umat. Justru karena kasih sayang kepada umat — yang sejak pagi telah bekerja — beliau jarang mengakhirkannya. Dari sini para ulama juga membahas fikih: tidur dalam keadaan duduk (bersila) yang tidak memungkinkan keluarnya angin tidaklah membatalkan wudhu. Maka di tempat kita, bila kaum muslimin menunaikan Isya tepat waktu secara berjamaah, ikutilah berjamaah, sebab maslahat berjamaah lebih besar; mengakhirkan dilakukan hanya bila ada kondisi yang menuntut, seperti kajian di pesantren.
4. Takwa kepada Allah dan Taat kepada Pemimpin
Dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallāhu ‘anhu: suatu hari Rasulullah ﷺ menasihati para sahabat setelah Subuh dengan nasihat yang mendalam, hingga air mata bercucuran dan hati bergetar. Seorang sahabat berkata, “Ini seperti nasihat orang yang hendak berpisah, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?” Beliau pun berwasiat untuk bertakwa kepada Allah serta mendengar dan taat kepada pemimpin, sekalipun yang memimpin adalah seorang budak dari Habasyah.
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Ūshīkum bitaqwallāhi was-sam‘i wath-thā‘ati wa in ta-ammara ‘alaikum ‘abdun habasyiyyun, fa-innahu man ya‘isy minkum fa-sayarā ikhtilāfan katsīran, fa-‘alaikum bisunnatī wa sunnatil-khulafā-ir-rāsyidīnal-mahdiyyīn, ‘adhdhū ‘alaihā bin-nawājidz“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat (kepada pemimpin) walaupun yang memerintah kalian seorang budak Habasyah. Sungguh, siapa di antara kalian yang berumur panjang akan menyaksikan banyak perselisihan. Maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang lurus; gigitlah ia dengan gigi geraham.” (HR. Abu Dawud no. 4607 & Tirmidzi no. 2676; sahih)
Beliau melanjutkan bahwa hadits ini berakhir pada peringatan terhadap perkara baru dalam agama:
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Wa iyyākum wa muhdatsātil-umūri fa-inna kulla muhdatsatin bid‘atun wa kulla bid‘atin dhalālah
“Hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru (yang diada-adakan dalam agama), karena setiap yang diada-adakan itu bid‘ah, dan setiap bid‘ah adalah kesesatan.” (Bagian dari HR. Abu Dawud no. 4607 & Tirmidzi no. 2676)
Nabi ﷺ telah mengabarkan bahwa perpecahan pasti terjadi sepeninggal beliau, maka solusinya bukan sekadar menyeru “mari bersatu”, melainkan bersatu di atas Tauhid dan mengikuti sunnah beliau serta sunnah Khulafa’ur Rasyidin. Beliau lalu menjawab syubhat “bid‘ah hasanah” yang kerap dikaitkan dengan Umar bin al-Khaththab radhiyallāhu ‘anhu pada shalat tarawih berjamaah: sesungguhnya yang pertama kali menyelenggarakan tarawih berjamaah adalah Rasulullah ﷺ sendiri, lalu beliau berhenti karena khawatir diwajibkan atas umatnya. Umar hanya menghidupkan kembali sunnah itu — dan andai pun itu perkara baru, ia tercakup dalam perintah mengikuti sunnah Khulafa’ur Rasyidin. Beliau juga menyinggung realita di sebagian daerah: masjid sepi saat shalat lima waktu, namun ramai pada acara-acara yang tidak dituntunkan, serta masih adanya praktik kesyirikan seperti “memandikan” keris atau benda pusaka yang diyakini memiliki kekuatan.
5. Negeri Kita: Negara Islam atau Bukan?
Dalam bingkai wasiat takwa dan taat kepada pemimpin, Ustadz mengangkat diskusi: apakah negeri kita negara Islam? Secara hukum formal memang bukan negara Islam, namun bila ditimbang dari tegaknya syiar Islam — dua kalimat syahadat dan urusan keagamaan yang diurus negara, shalat lima waktu dengan banyaknya masjid dan jadwal waktu shalat, lembaga zakat, pengelolaan puasa Ramadan, hingga penyelenggaraan haji — maka secara umum (global) negeri ini lebih dekat kepada negara Islam. Tetap, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki, dan itu kembali kepada diri kita masing-masing.
Kunci memperbaiki keadaan, termasuk mendapatkan pemimpin yang baik, adalah memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Innallāha lā yughayyiru mā biqaumin hattā yughayyirū mā bi-anfusihim
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11)
6. Wasiat Takwa bagi yang Hendak Bersafar
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu — yang nama aslinya Abdurrahman bin Shakhr ad-Dausi, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits — ada seseorang yang hendak bersafar dan meminta wasiat kepada Rasulullah ﷺ. Maka beliau mewasiatkan takwa kepada Allah, karena takwa adalah inti dari segala perkara. Takwa hendaknya kita jaga di mana pun: di rumah, di jalan, dan di tempat kerja, termasuk dalam menunaikan hak keluarga, atasan, maupun bawahan.
أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَإِنَّهُ رَأْسُ كُلِّ شَيْءٍ
Ūshīka bitaqwallāhi fa-innahu ra’su kulli syai’
“Aku wasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, karena ia adalah pangkal dari segala perkara.” (HR. Ahmad; hasan)
Beliau memperingatkan bahaya kezaliman (mazhlamah), khususnya kepada bawahan yang mungkin tidak berani menyuarakan keluhannya, sehingga ia mengadu langsung kepada Allah — dan itu perkara yang berat. Maka hendaknya kita sering meminta maaf dan menanyakan keadaan mereka. Ibnu Rajab rahimahullāh menjelaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin kaum muslimin mengandung kebahagiaan dunia, sebab dengannya urusan banyak orang menjadi teratur dan memudahkan mereka menegakkan agama. Karena itu, terhadap pemimpin yang kurang sesuai sekalipun, sikap kita adalah mendoakan kebaikan — bukan sekadar menghujat. Beliau mencontohkan para khatib di Saudi yang senantiasa menyelipkan doa bagi pemimpin dalam khutbah Jumat.
7. Witir, Puasa Tiga Hari Tiap Bulan, dan Dua Rakaat Dhuha
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, kekasihnya Rasulullah ﷺ mewasiatkan tiga perkara yang tidak pernah beliau tinggalkan hingga wafat: puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan witir sebelum tidur.
أَوْصَانِي خَلِيلِي ﷺ بِثَلَاثٍ: صِيَامِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ
Awshānī khalīlī ﷺ bitsalātsin: shiyāmi tsalātsati ayyāmin min kulli syahrin, wa rak‘atayidh-dhuhā, wa an ūtira qabla an anām
“Kekasihku ﷺ mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat Dhuha, dan agar aku berwitir sebelum tidur.” (Muttafaqun ‘alaih — HR. Bukhari no. 1981 & Muslim no. 721)
Puasa tiga hari itu utamanya pada ayyamul bidh (tanggal 13, 14, 15), namun yang penting tetap terlaksana tiga hari setiap bulan. Untuk Dhuha, hendaknya dirutinkan minimal dua rakaat — sebab amalan yang sedikit namun rutin lebih dicintai Allah daripada banyak tetapi terputus. Adapun witir, bila khawatir tidak bangun, tunaikan sebelum tidur sebagaimana Abu Bakar radhiyallāhu ‘anhu; bila yakin bisa bangun, mengakhirkannya setelah tidur lebih baik sebagaimana Umar radhiyallāhu ‘anhu.
8. Mencintai Para Sahabat
Umar bin al-Khaththab radhiyallāhu ‘anhu pernah berkhutbah, “Wahai manusia, aku berdiri di hadapan kalian sebagaimana Rasulullah ﷺ dahulu berdiri di hadapan kami,” lalu beliau menyampaikan wasiat Nabi ﷺ untuk berpegang pada para sahabat, kemudian generasi sesudah mereka, lalu generasi sesudahnya lagi. Inilah yang dijalankan ahlus sunnah wal jamaah: mencintai para sahabat, mendoakan kebaikan bagi mereka, dan mengikuti jalan hidup mereka. Maka golongan mana pun yang membenci para sahabat patut ditinggalkan, sebab Islam mengajarkan kita mencintai mereka yang telah berjuang membela dakwah dan menolong Rasulullah ﷺ.
أُوصِيكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Ūshīkum bi-ashhābī tsummal-ladzīna yalūnahum tsummal-ladzīna yalūnahum
“Aku wasiatkan kepada kalian (untuk menjaga kehormatan) para sahabatku, kemudian generasi sesudah mereka, kemudian generasi sesudahnya lagi.” (HR. Tirmidzi no. 2165)
9. Doa di Penghujung Shalat
Wasiat terakhir adalah dari Mu‘adz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu: Rasulullah ﷺ memerintahkannya agar tidak meninggalkan bacaan ini di setiap akhir shalat.
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَىٰ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Allāhumma a‘innī ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik
“Ya Allah, tolonglah aku untuk berzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud no. 1522 & Nasa’i no. 1303; sahih)
Beliau menjelaskan kaidah dari Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullāh: bila lafal yang disebutkan “di akhir shalat” berbentuk doa, maka dibaca sebelum salam; bila berbentuk zikir, dibaca setelah salam. Doa ini berbentuk permohonan, maka utamanya dibaca sebelum salam. Namun ini ijtihad ulama; siapa yang membacanya setelah salam pun tidak mengapa, sebab shalat pada hakikatnya juga berisi doa.
Catatan dari Sesi Tanya Jawab
Bolehkah menghadiri undangan pernikahan teman yang murtad?
Boleh. Bahkan teman yang murtad sebaiknya jangan ditinggalkan begitu saja, selama ada peluang untuk mendakwahinya kembali. Jika dengan kita menjauh ia justru semakin jauh, maka tetap rangkul ia dan jadikan itu ladang semangat berdakwah. Sebab bila seseorang mendapat hidayah lewat perantara kita, pahalanya sangat besar:
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
Fawallāhi la-an yahdiyallāhu bika rajulan wāhidan khairun laka min humrin-na‘am
“Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah kepada satu orang lewat (perantara)mu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (Muttafaqun ‘alaih — HR. Bukhari no. 3701 & Muslim no. 2406)
Unta merah adalah harta termewah pada masa itu. Maka datanglah ke undangan tersebut sambil menyelipkan nasihat dari waktu ke waktu, dengan catatan: jangan ikut serta dalam ritual keagamaan mereka, dan bila ragu terhadap makanannya, tidak perlu dimakan.
Di pesawat: tayamum lalu shalat, atau tunggu mendarat lalu dijamak?
Bila kita akan mendarat dan waktu shalat masih tersisa, lebih baik menunaikannya setelah mendarat. Namun bila penerbangan panjang — misalnya sepuluh jam ke Saudi — maka shalatlah di pesawat. Bila kondisi sehat dan memungkinkan berdiri (seperti area shalat di sebagian pesawat menuju Saudi), tunaikan sambil berdiri.
Bagaimana agar tetap istiqamah dan semangat menghadiri kajian?
Caranya adalah mencari teman-teman yang saleh yang rajin menghadiri kajian, sebab teman sangat memengaruhi. Teman yang baik akan menarik kita kepada kebaikan, menegur saat kita keliru, bukan mendiamkan. Intinya, semua itu perlu dipaksa pada awalnya. Dan ketika sedang gundah, jangan melampiaskannya ke tempat-tempat yang dilarang; tetaplah berada dalam koridor syariat.
Tentang shalat Dhuha untuk memperbanyak rezeki
Luruskan niatnya: kita shalat Dhuha karena Allah ‘azza wa jalla, dan dengan memperbanyak ibadah, Allah tidak akan menyia-nyiakan kita. Jangan sampai logikanya terbalik — meninggalkan Dhuha hanya karena rezeki dirasa belum datang — sebab itu pertanda ibadah bukan karena Allah, melainkan karena mengejar harta. Allah menjamin urusan dunia bahkan bagi yang tidak bertakwa, apalagi bagi hamba yang bertakwa; maka mustahil Dia menyia-nyiakan kita.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Jika ada kebenaran, ia dari Allah; jika ada kekeliruan, ia dari kelemahan diri kami.
Berikut Kajian lengkapnya:
https://www.youtube.com/live/zH-3f4ovPVw?si=bF7bW20fWfV4VnWX