"Muslim Itu Berperan, Bukan Baperan"
Dalam sesi bincang santai yang penuh wawasan, Ustadz Muhammad Halid Syar'ie, Lc. حفظه الله membahas sebuah fenomena yang sangat relevan dengan interaksi sosial modern: "baper" atau bawa perasaan. Kajian ini menggarisbawahi pentingnya bagi seorang Muslim untuk beralih dari sikap mudah tersinggung menjadi pribadi yang proaktif dan mengambil peran positif di tengah masyarakat.
Memahami Konsep "Baper" dalam Timbangan Islam
Ustadz Halid Syar'ie حفظه الله membuka dengan penjelasan bahwa "baper" adalah konsekuensi alami dari kehidupan sosial, di mana manusia akan selalu berinteraksi dan berpotensi mengalami gesekan. Namun, Islam memberikan panduan jelas mengenai kapan perasaan tersebut layak untuk diperhatikan dan kapan harus diabaikan.
"Baper" yang Terpuji (Positif): Perasaan marah atau tersinggung menjadi bernilai positif ketika dipicu oleh pelanggaran terhadap hal-hal prinsipil dalam agama. Contohnya adalah ketika Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ, Al-Qur'an, atau kehormatan keluarga dan kaum Muslimin dihina. Sikap ini menunjukkan adanya ghirah (kecemburuan) dalam beragama dan merupakan bagian dari iman.
"Baper" yang Tercela (Negatif): Ini adalah jenis "baper" yang menjadi fokus utama kajian. Perasaan ini muncul dari urusan-urusan pribadi yang sepele, di mana seseorang merasa setiap perkataan atau tindakan orang lain selalu ditujukan untuk menyindir atau merendahkan dirinya.
Nabi Muhammad ﷺ adalah teladan terbaik dalam mengelola perasaan. Beliau memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi cemoohan dan gangguan, yang menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan dakwahnya.
Akar Masalah "Baper" Negatif
Ustadz mengidentifikasi dua penyakit hati utama yang menjadi akar dari sifat mudah "baper":
Su'udzon (Prasangka Buruk): Ini adalah sumber utama "baper". Seseorang yang didominasi oleh su'udzon akan selalu menafsirkan ucapan netral sebagai serangan pribadi. Hatinya sibuk menerka-nerka niat buruk orang lain, sehingga ia menjadi lelah secara emosional dan hubungannya dengan sesama menjadi rusak.
Kibr (Sombong): Kesombongan membuat seseorang merasa dirinya istimewa dan tidak pantas menerima kritik atau perlakuan yang dianggapnya tidak sesuai dengan statusnya. Orang yang sombong sulit menerima nasihat dan cenderung memandang rendah orang lain, sehingga mudah tersinggung ketika merasa tidak dihargai. Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ "Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim)
Terapi Islami untuk Mengatasi "Baper"
Islam tidak hanya mendiagnosis masalah, tetapi juga menawarkan solusi yang praktis dan spiritual:
TAGHAFUL (Seni Mengabaikan): Ini adalah sikap cerdas di mana seseorang memilih untuk sengaja tidak peduli pada hal-hal kecil yang tidak krusial. Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa sembilan dari sepuluh akhlak yang baik terletak pada taghaful. Sikap ini adalah kunci kebahagiaan, terutama dalam kehidupan rumah tangga, di mana pasangan memilih untuk tidak mempermasalahkan setiap kekurangan kecil pasangannya.
Meningkatkan Spiritualitas: Ketika hati terasa sesak akibat perkataan orang lain, solusi terbaik adalah kembali kepada Allah. Perbanyak zikir dan doa. Allah berfirman dalam Al-Qur'an untuk menenangkan Nabi-Nya, yang juga berlaku bagi kita: "Dan Kami sungguh tahu bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau di antara orang-orang yang sujud." (QS. Al-Hijr: 97-98).
Fokus pada Peran: Daripada menghabiskan energi untuk "baper", seorang Muslim didorong untuk bertanya pada dirinya sendiri, "Peran apa yang bisa aku ambil?" Contoh agung ditunjukkan oleh Khalid bin Walid. Ketika posisinya sebagai panglima perang tertinggi dicopot oleh Khalifah Umar bin Khattab, ia tidak "baper", tidak mengeluh, dan tidak menarik diri. Ia hanya berkata, "Aku berperang karena Allah, bukan karena Umar." Ia segera mengambil peran baru sebagai prajurit biasa dan terus berjuang dengan semangat yang sama.
Kesimpulannya, menjadi Muslim yang ideal berarti menjadi pribadi yang memiliki ketangguhan mental dan spiritual, yang tidak mudah goyah oleh hal-hal sepele, dan senantiasa fokus untuk memberikan kontribusi terbaik bagi agamanya dan masyarakat luas.
https://youtu.be/UGZ9Jb3xOTY