Nafkah Suami dan Standar Hidup
23 days ago
80 views

Nafkah Suami dan Standar Hidup

Bismillah,

Assalamu'alaikum ust, izin mau bertanya

Misalkan ada lelaki yang menikahi perempuan yang dimana perempuan itu sebelum menikah bisa mencukupi kebutuhannya sendiri tetapi ketika menikah laki2 tsb hanya mampu memberi nafkah setengah dari penghasilan perempuan sebelum menikah dengan dalih "bersyukur" sehingga sang perempuannya menjadi menurunkan standar hidupnya dari sebelum menikah.

Apakah laki2 tsb dapat dibilang berbuat dzolim kepada perempuan yang dinikahi? karna beliau tau seperti apa gaya hidup perempuan itu sebelum menikah dan tau bahwa perempuan dari keluarga berada tetapi tetap dengan percaya diri menikahi perempuan tsb.

Dan karena banyaknya kasus seperti diatas apakah kita sebagai perempuan yang belum menikah dan melihat kondisi tsb salah jika berpikir "Lebih baik tidak menikah daripada menikah dengan pria yang menurunkan standar hidup kita" karna sebelum menikah kehidupan kita sebagai perempuan lebih terjamin. Bukan bermaksud merendahkan atau tidak percaya dengan rezeki yang diberikan oleh Allah tetapi jika perempuan diiming2i dengan kalimat bersyukur atas nafkah yang diberikan sedangkan sang suami tidak berusaha memenuhi kebutuhan istri seperti sebelum menikah bagaimana hukumnya?

Fulanah, Jatim 20260327

UFB menjawab

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh.

Bismillah, semoga Allah memberkahi pertanyaan ini—karena ini menyentuh realita banyak rumah tangga dan butuh dilihat dengan adil, bukan hanya dari perasaan tapi dari dalil.

1. Kewajiban nafkah dalam Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِن سَعَتِهِۦ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُۥ فَلْيُنفِقْ مِمَّآ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadanya.”
(QS. Ath-Thalaq: 7)

Dan juga:

وَعَلَى ٱلْمَوْلُودِ لَهُۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para istri dengan cara yang ma’ruf.”
(QS. Al-Baqarah: 233)

2. Standar nafkah menurut sunnah

Dalam hadis Hindun binti ‘Utbah radhiyallahu ‘anha, ia mengadu bahwa suaminya pelit, maka Nabi ﷺ bersabda:

خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

“Ambillah (dari hartanya) yang mencukupi untukmu dan anakmu dengan cara yang ma’ruf.”
(HR. Bukhari & Muslim)

➡️ Ini menunjukkan ukuran nafkah adalah:

  • Kecukupan (الكفاية)

  • Secara ma’ruf (kebiasaan yang wajar di masyarakat)

  • Sesuai kemampuan suami

3. Apakah suami berdosa jika menurunkan standar hidup istri?

Jawabannya perlu dirinci (ini penting):

✔️ Tidak otomatis zalim, jika:

  • Suami memberi nafkah sesuai kemampuannya

  • Kebutuhan pokok terpenuhi (makan, pakaian, tempat tinggal)

  • Tidak menelantarkan

Karena Islam tidak mewajibkan suami menyamai gaya hidup sebelum menikah, tapi: ➡️ wajib memberi nafkah yang layak menurut kemampuannya

❌ Bisa menjadi zalim, jika:

  • Suami mampu tapi sengaja pelit

  • Tidak berusaha bekerja atau mencari nafkah

  • Menjadikan “bersyukur” sebagai alasan untuk malas atau menahan hak istri

Rasulullah ﷺ bersabda:

كَفَىٰ بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَعُولُ

“Cukuplah seseorang berdosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.”
(HR. Abu Dawud, hasan)

➡️ Jadi patokannya:

  • Kemampuan nyata suami

  • Usaha dan tanggung jawabnya

  • Apakah hak istri terpenuhi atau tidak

4. Apakah “bersyukur” boleh dijadikan dalih?

Bersyukur itu wajib, tapi tidak boleh dipakai untuk menutup kezaliman.

Para ulama Salaf menjelaskan:

  • Syukur tidak menghapus kewajiban

  • Suami tetap wajib menunaikan hak istri

➡️ Jadi:

  • Istri disuruh sabar & syukur → boleh

  • Tapi suami berhenti berusaha → tidak boleh

5. Bolehkah perempuan berpikir “lebih baik tidak menikah”?

Ini juga perlu diluruskan dengan adil.

✔️ Boleh berhati-hati dalam memilih pasangan

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَتَاكُم مَّن تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ

“Jika datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah.”
(HR. Tirmidzi)

➡️ Ukuran utama:

  • Agama

  • Akhlak

  • (termasuk tanggung jawab nafkah)

❌ Tapi tidak tepat jika menjadikan standar:

“Harus sama atau lebih tinggi dari sebelum menikah”

Karena:

  • Rezeki itu berubah setelah menikah

  • Banyak rumah tangga justru diberkahi setelah menikah

  • Nabi ﷺ bersabda:

ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ... وَالنَّاكِحُ يُرِيدُ الْعَفَافَ

“Tiga golongan yang Allah pasti tolong… di antaranya orang yang menikah untuk menjaga kehormatan.”
(HR. Tirmidzi)

6. Sikap pertengahan (ini yang paling selamat)

Jangan condong ke dua ekstrem:

❌ Ekstrem 1:

  • “Yang penting nikah, nafkah kecil tidak masalah” → bisa berujung penyesalan

❌ Ekstrem 2:

  • “Harus setara gaya hidup sebelum menikah” → ini juga bukan standar syariat

✔️ Sikap yang benar:

  • Pilih laki-laki yang:

    • Bertakwa

    • Bertanggung jawab

    • Punya kemampuan & usaha memberi nafkah

  • Bicarakan sejak awal:

    • Ekspektasi hidup

    • Kondisi finansial

  • Realistis + tawakkal

Kesimpulan singkat

  • Suami tidak wajib menyamai standar hidup sebelum menikah

  • Tapi wajib memberi nafkah yang layak sesuai kemampuan

  • Jika mampu tapi pelit → zalim

  • Jika memang terbatas tapi sudah berusaha → tidak zalim

  • Perempuan boleh selektif, tapi standarnya agama & tanggung jawab, bukan semata gaya hidup

Kalau boleh jujur ya…
Masalah seperti ini sering bukan soal “kurang uang”, tapi soal: ➡️ kurang tanggung jawab atau kurang komunikasi sejak awal

Wallohu A'lam bish-showab

Akhukum filLah UFB 🙏

Lanjut pertanyaan

Lalu bagaimana tanda-tanda Laki-laki yang serius mau Bertanggung jawab?

Pertanyaan ini “kena banget”—karena yang sering bikin masalah bukan sekadar berapa penghasilan, tapi seberapa serius dia memikul tanggung jawab nafkah.

Aku rangkumkan tanda-tandanya berdasarkan prinsip Al-Qur’an, hadis, dan pemahaman ulama Salaf—biar kamu bisa lihat dengan jernih, bukan cuma perasaan.

🌿 Tanda-Tanda Laki-Laki yang Serius dalam Nafkah

1. Punya rasa tanggung jawab (bukan sekadar niat)

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban…”
(HR. Bukhari & Muslim)

🔍 Ciri nyata:

  • Dia bicara tentang nafkah sebagai kewajiban, bukan beban

  • Tidak menggantungkan hidup pada orang lain

  • Tidak santai dengan kondisi “belum siap”

2. Sudah atau sedang berusaha (bukan menunggu)

Allah berfirman:

فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ

“Berjalanlah di bumi dan carilah rezeki-Nya…”
(QS. Al-Mulk: 15)

🔍 Tanda jelas:

  • Punya pekerjaan (walau sederhana)

  • Atau sedang serius membangun usaha

  • Tidak pasif, tidak banyak alasan

⚠️ Red flag:

“Nanti juga ada rezeki setelah nikah”
➡️ Tapi sekarang tidak ada usaha nyata

3. Realistis tentang kemampuan dirinya

Dia tidak:

  • Gengsi

  • Tidak juga mengkhayal

🔍 Ciri:

  • Bisa jelaskan kondisi keuangan apa adanya

  • Tidak menjanjikan hal yang di luar kemampuan

➡️ Ini tanda jujur dan amanah

4. Tidak pelit, tapi juga tidak boros

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari & Muslim)

🔍 Artinya:

  • Dia ingin memberi, bukan bergantung

Ciri:

  • Mau mengeluarkan uang untuk hal yang wajib

  • Tidak perhitungan dalam hal kebutuhan dasar

  • Tapi tetap bijak dalam pengeluaran

5. Tidak menjadikan “bersyukur” sebagai tameng

Ini penting banget.

🔍 Laki-laki yang benar:

  • Mengajak istri bersyukur ✅

  • Tapi tetap berusaha meningkatkan nafkah

⚠️ Red flag:

  • “Terima aja, harus bersyukur”

  • Tapi dia tidak ada usaha memperbaiki kondisi

6. Punya rencana ke depan

🔍 Ciri:

  • Ada target (meski sederhana)

  • Punya arah hidup

Contoh:

  • “Sekarang segini, insyaAllah 2–3 tahun ingin naik”

  • “Saya sedang belajar skill ini untuk tambah penghasilan”

➡️ Ini tanda growth mindset

7. Menghormati hak istri dalam nafkah

Allah berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Pergaulilah mereka (istri) dengan cara yang baik.”
(QS. An-Nisa: 19)

🔍 Ciri:

  • Tidak meremehkan kebutuhan istri

  • Tidak menyuruh istri “hidup seadanya” tanpa alasan

  • Paham bahwa nafkah itu hak istri

8. Tidak bergantung pada penghasilan istri

Walaupun istri boleh bekerja, tapi:

🔍 Laki-laki serius:

  • Tidak menjadikan itu sebagai “andalan utama”

  • Tidak menikah dengan niat “dibantu finansial”

⚠️ Red flag:

  • “Nanti kita sama-sama aja ya cari uang” ➡️ Padahal dia sendiri belum siap

9. Cara dia memperlakukan uang sekarang

Ini sering paling jujur.

🔍 Lihat:

  • Apakah dia boros?

  • Sering foya-foya?

  • Atau bisa mengatur keuangan?

➡️ Cara dia mengelola uang sekarang = gambaran setelah menikah


⚖️ Kesimpulan yang jujur

Laki-laki serius dalam nafkah itu bukan: ❌ yang sudah kaya
❌ yang penghasilannya besar

Tapi: ✔️ yang bertanggung jawab
✔️ yang berusaha
✔️ yang jujur & realistis
✔️ yang tidak lari dari kewajiban


🌱 Kalimat sederhana untuk menguji (ini praktis banget)

Coba perhatikan responnya saat ditanya:

“Menurut kamu, nafkah itu kewajiban utama suami atau tidak?”

👉 Kalau dia jawab:

  • Tegas: “Iya, itu tanggung jawab saya” → ✅ bagus

  • Ngeles / bercanda / dialihkan → 🚨 hati-hati

Kalau boleh jujur ya…
Seringkali perempuan bukan salah “pilih orang miskin”
Tapi salah tidak membaca keseriusan laki-laki dari awal

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
Belum ada komentar
Artikel Terbaru Fauzi Basulthana