Nafkah Suami dan Standar Hidup
Bismillah,
Assalamu'alaikum ust, izin mau bertanya
Misalkan ada lelaki yang menikahi perempuan yang dimana perempuan itu sebelum menikah bisa mencukupi kebutuhannya sendiri tetapi ketika menikah laki2 tsb hanya mampu memberi nafkah setengah dari penghasilan perempuan sebelum menikah dengan dalih "bersyukur" sehingga sang perempuannya menjadi menurunkan standar hidupnya dari sebelum menikah.
Apakah laki2 tsb dapat dibilang berbuat dzolim kepada perempuan yang dinikahi? karna beliau tau seperti apa gaya hidup perempuan itu sebelum menikah dan tau bahwa perempuan dari keluarga berada tetapi tetap dengan percaya diri menikahi perempuan tsb.
Dan karena banyaknya kasus seperti diatas apakah kita sebagai perempuan yang belum menikah dan melihat kondisi tsb salah jika berpikir "Lebih baik tidak menikah daripada menikah dengan pria yang menurunkan standar hidup kita" karna sebelum menikah kehidupan kita sebagai perempuan lebih terjamin. Bukan bermaksud merendahkan atau tidak percaya dengan rezeki yang diberikan oleh Allah tetapi jika perempuan diiming2i dengan kalimat bersyukur atas nafkah yang diberikan sedangkan sang suami tidak berusaha memenuhi kebutuhan istri seperti sebelum menikah bagaimana hukumnya?
Fulanah, Jatim 20260327
UFB menjawab
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh.
Bismillah, semoga Allah memberkahi pertanyaan ini—karena ini menyentuh realita banyak rumah tangga dan butuh dilihat dengan adil, bukan hanya dari perasaan tapi dari dalil.
1. Kewajiban nafkah dalam Al-Qur’an
Allah Ta’ala berfirman:
لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِن سَعَتِهِۦ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُۥ فَلْيُنفِقْ مِمَّآ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَا
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadanya.”
(QS. Ath-Thalaq: 7)
Dan juga:
وَعَلَى ٱلْمَوْلُودِ لَهُۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ
“Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para istri dengan cara yang ma’ruf.”
(QS. Al-Baqarah: 233)
2. Standar nafkah menurut sunnah
Dalam hadis Hindun binti ‘Utbah radhiyallahu ‘anha, ia mengadu bahwa suaminya pelit, maka Nabi ﷺ bersabda:
خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ
“Ambillah (dari hartanya) yang mencukupi untukmu dan anakmu dengan cara yang ma’ruf.”
(HR. Bukhari & Muslim)
➡️ Ini menunjukkan ukuran nafkah adalah:
Kecukupan (الكفاية)
Secara ma’ruf (kebiasaan yang wajar di masyarakat)
Sesuai kemampuan suami
3. Apakah suami berdosa jika menurunkan standar hidup istri?
Jawabannya perlu dirinci (ini penting):
✔️ Tidak otomatis zalim, jika:
Suami memberi nafkah sesuai kemampuannya
Kebutuhan pokok terpenuhi (makan, pakaian, tempat tinggal)
Tidak menelantarkan
Karena Islam tidak mewajibkan suami menyamai gaya hidup sebelum menikah, tapi: ➡️ wajib memberi nafkah yang layak menurut kemampuannya
❌ Bisa menjadi zalim, jika:
Suami mampu tapi sengaja pelit
Tidak berusaha bekerja atau mencari nafkah
Menjadikan “bersyukur” sebagai alasan untuk malas atau menahan hak istri
Rasulullah ﷺ bersabda:
كَفَىٰ بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَعُولُ
“Cukuplah seseorang berdosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.”
(HR. Abu Dawud, hasan)
➡️ Jadi patokannya:
Kemampuan nyata suami
Usaha dan tanggung jawabnya
Apakah hak istri terpenuhi atau tidak
4. Apakah “bersyukur” boleh dijadikan dalih?
Bersyukur itu wajib, tapi tidak boleh dipakai untuk menutup kezaliman.
Para ulama Salaf menjelaskan:
Syukur tidak menghapus kewajiban
Suami tetap wajib menunaikan hak istri
➡️ Jadi:
Istri disuruh sabar & syukur → boleh
Tapi suami berhenti berusaha → tidak boleh
5. Bolehkah perempuan berpikir “lebih baik tidak menikah”?
Ini juga perlu diluruskan dengan adil.
✔️ Boleh berhati-hati dalam memilih pasangan
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا أَتَاكُم مَّن تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ
“Jika datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah.”
(HR. Tirmidzi)
➡️ Ukuran utama:
Agama
Akhlak
(termasuk tanggung jawab nafkah)
❌ Tapi tidak tepat jika menjadikan standar:
“Harus sama atau lebih tinggi dari sebelum menikah”
Karena:
Rezeki itu berubah setelah menikah
Banyak rumah tangga justru diberkahi setelah menikah
Nabi ﷺ bersabda:
ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ... وَالنَّاكِحُ يُرِيدُ الْعَفَافَ
“Tiga golongan yang Allah pasti tolong… di antaranya orang yang menikah untuk menjaga kehormatan.”
(HR. Tirmidzi)
6. Sikap pertengahan (ini yang paling selamat)
Jangan condong ke dua ekstrem:
❌ Ekstrem 1:
“Yang penting nikah, nafkah kecil tidak masalah” → bisa berujung penyesalan
❌ Ekstrem 2:
“Harus setara gaya hidup sebelum menikah” → ini juga bukan standar syariat
✔️ Sikap yang benar:
Pilih laki-laki yang:
Bertakwa
Bertanggung jawab
Punya kemampuan & usaha memberi nafkah
Bicarakan sejak awal:
Ekspektasi hidup
Kondisi finansial
Realistis + tawakkal
Kesimpulan singkat
Suami tidak wajib menyamai standar hidup sebelum menikah
Tapi wajib memberi nafkah yang layak sesuai kemampuan
Jika mampu tapi pelit → zalim
Jika memang terbatas tapi sudah berusaha → tidak zalim
Perempuan boleh selektif, tapi standarnya agama & tanggung jawab, bukan semata gaya hidup
Kalau boleh jujur ya…
Masalah seperti ini sering bukan soal “kurang uang”, tapi soal: ➡️ kurang tanggung jawab atau kurang komunikasi sejak awal
Wallohu A'lam bish-showab
Akhukum filLah UFB 🙏
Lanjut pertanyaan
Lalu bagaimana tanda-tanda Laki-laki yang serius mau Bertanggung jawab?
Pertanyaan ini “kena banget”—karena yang sering bikin masalah bukan sekadar berapa penghasilan, tapi seberapa serius dia memikul tanggung jawab nafkah.
Aku rangkumkan tanda-tandanya berdasarkan prinsip Al-Qur’an, hadis, dan pemahaman ulama Salaf—biar kamu bisa lihat dengan jernih, bukan cuma perasaan.
🌿 Tanda-Tanda Laki-Laki yang Serius dalam Nafkah
1. Punya rasa tanggung jawab (bukan sekadar niat)
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban…”
(HR. Bukhari & Muslim)
🔍 Ciri nyata:
Dia bicara tentang nafkah sebagai kewajiban, bukan beban
Tidak menggantungkan hidup pada orang lain
Tidak santai dengan kondisi “belum siap”
2. Sudah atau sedang berusaha (bukan menunggu)
Allah berfirman:
فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ
“Berjalanlah di bumi dan carilah rezeki-Nya…”
(QS. Al-Mulk: 15)
🔍 Tanda jelas:
Punya pekerjaan (walau sederhana)
Atau sedang serius membangun usaha
Tidak pasif, tidak banyak alasan
⚠️ Red flag:
“Nanti juga ada rezeki setelah nikah”
➡️ Tapi sekarang tidak ada usaha nyata
3. Realistis tentang kemampuan dirinya
Dia tidak:
Gengsi
Tidak juga mengkhayal
🔍 Ciri:
Bisa jelaskan kondisi keuangan apa adanya
Tidak menjanjikan hal yang di luar kemampuan
➡️ Ini tanda jujur dan amanah
4. Tidak pelit, tapi juga tidak boros
Rasulullah ﷺ bersabda:
يَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari & Muslim)
🔍 Artinya:
Dia ingin memberi, bukan bergantung
Ciri:
Mau mengeluarkan uang untuk hal yang wajib
Tidak perhitungan dalam hal kebutuhan dasar
Tapi tetap bijak dalam pengeluaran
5. Tidak menjadikan “bersyukur” sebagai tameng
Ini penting banget.
🔍 Laki-laki yang benar:
Mengajak istri bersyukur ✅
Tapi tetap berusaha meningkatkan nafkah ✅
⚠️ Red flag:
“Terima aja, harus bersyukur”
Tapi dia tidak ada usaha memperbaiki kondisi
6. Punya rencana ke depan
🔍 Ciri:
Ada target (meski sederhana)
Punya arah hidup
Contoh:
“Sekarang segini, insyaAllah 2–3 tahun ingin naik”
“Saya sedang belajar skill ini untuk tambah penghasilan”
➡️ Ini tanda growth mindset
7. Menghormati hak istri dalam nafkah
Allah berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Pergaulilah mereka (istri) dengan cara yang baik.”
(QS. An-Nisa: 19)
🔍 Ciri:
Tidak meremehkan kebutuhan istri
Tidak menyuruh istri “hidup seadanya” tanpa alasan
Paham bahwa nafkah itu hak istri
8. Tidak bergantung pada penghasilan istri
Walaupun istri boleh bekerja, tapi:
🔍 Laki-laki serius:
Tidak menjadikan itu sebagai “andalan utama”
Tidak menikah dengan niat “dibantu finansial”
⚠️ Red flag:
“Nanti kita sama-sama aja ya cari uang” ➡️ Padahal dia sendiri belum siap
9. Cara dia memperlakukan uang sekarang
Ini sering paling jujur.
🔍 Lihat:
Apakah dia boros?
Sering foya-foya?
Atau bisa mengatur keuangan?
➡️ Cara dia mengelola uang sekarang = gambaran setelah menikah
⚖️ Kesimpulan yang jujur
Laki-laki serius dalam nafkah itu bukan: ❌ yang sudah kaya
❌ yang penghasilannya besar
Tapi: ✔️ yang bertanggung jawab
✔️ yang berusaha
✔️ yang jujur & realistis
✔️ yang tidak lari dari kewajiban
🌱 Kalimat sederhana untuk menguji (ini praktis banget)
Coba perhatikan responnya saat ditanya:
“Menurut kamu, nafkah itu kewajiban utama suami atau tidak?”
👉 Kalau dia jawab:
Tegas: “Iya, itu tanggung jawab saya” → ✅ bagus
Ngeles / bercanda / dialihkan → 🚨 hati-hati
Kalau boleh jujur ya…
Seringkali perempuan bukan salah “pilih orang miskin”
Tapi salah tidak membaca keseriusan laki-laki dari awal