Fenomena banyak da’i yang aktif membuat konten dakwah di media sosial tentu patut disyukuri. Namun, di sisi lain juga perlu diiringi dengan kehati-hatian, introspeksi, dan renungan mendalam. Sebab, siapa pun yang mengaku dirinya da’i atau berbicara atas nama dakwah akan dimintai pertanggungjawaban yang berat pada hari hisab dan hari pembalasan.
Dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras:
وَعَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ بْنِ حَارِثَةَ رضي الله عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقَ أَقْتَابَ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ فِي الرَّحَى فَيَجْتَمِعَ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلانُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلا آتِيهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ».
متفق عليه
Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pada hari kiamat ada seorang pria yang dilemparkan ke dalam neraka, lalu ususnya terburai keluar. Ia berputar-putar dengan ususnya itu sebagaimana keledai berputar di dalam penggilingan. Lalu para penghuni neraka mengelilinginya seraya berkata: ‘Wahai fulan, apa yang terjadi padamu? Bukankah dulu engkau memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran?’ Ia menjawab: *‘Benar, aku memang memerintahkan kebaikan tetapi tidak mengerjakannya, dan aku melarang kemungkaran tetapi justru melakukannya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam Shahih Ibn Hibban, Rasulullah ﷺ juga bersabda:
وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي رِجَالًا تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: الْخُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُونَ.
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pada malam Isra’, aku melihat sekelompok orang yang bibir mereka digunting dengan gunting dari api neraka. Aku bertanya: ‘Siapa mereka, wahai Jibril?’ Ia menjawab: *‘Mereka adalah para khatib dari umatmu yang memerintahkan manusia kepada kebaikan namun lupa pada diri mereka sendiri, padahal mereka membaca Al-Qur’an. Tidakkah mereka berpikir?’”
Syaikh Abdul Aziz as-Salman rahimahullah memberi komentar tajam tentang riwayat-riwayat ini:
وَإِنَّمَا يُضَاعَفْ عَذَابُ الْعَالِمِ فِي مَعْصِيَتِهِ لأَنَّهُ عَصَى عَنْ عِلْمٍ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾ وَلأَنَّهُ قُدْوَةٌ فَيَزِلُّ بِزَلَتِهِ خَلْقٌ كَثِيرُونَ، وَلِذَلِكَ قِيلَ: زَلَّةُ الْعَالِمِ زَلَّةُ الْعَالَمِ. وَقِيلَ: كَالسَّفِينَةِ إِذَا غَرِقَتْ غَرِقَ مَعَهَا أُمَمٌ لَا يُحْصِيهِمْ إِلَّا اللهُ.
“Azab seorang alim akan dilipatgandakan jika ia bermaksiat, karena ia berbuat dosa dengan penuh pengetahuan. Allah Ta’ala berfirman: ‘Katakanlah, apakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?’ (Az-Zumar: 9). Ia juga adalah teladan. Jika ia tergelincir, banyak orang ikut tergelincir. Maka dikatakan: ‘Zaltnya seorang alim adalah zaltnya umat.’ Dan ada pula yang berkata: *‘Seperti kapal, jika ia tenggelam maka banyak penumpang ikut tenggelam bersamanya, dan hanya Allah yang tahu jumlahnya.’”
Oleh karena itu, peran dakwah tidak hanya sebatas viralitas, sebatas ngonten, dan bahkan mengejar keuntungan duniawi semata, ada banyak konsekuensi yang perlu dipertanggungjawabkan di sisi Allah, ancaman yang disebutkan pada Riwayat di atas menunjukkan bahwa sikap seorang da’i sebaiknya mengedepankan nilai-nilai dakwah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, agar dakwah ini menjadi wasilah untuk menjemput hidayah Allah.
Referensi : Mawaridu Azd Zdamaan li Durusi az-Zaman, Juz 2, Halaman 16.
Penulis : Ustadz. Riza Ashfari Mizan, BA.