Beberapa Pandangan Ulama Terkait Malam Nisfu Sya'ban.
Pertama, ajuran menghidupkan malam nisfu Sya'ab.
1. Kitab: Al-Bahr al-Ra'iq Syarh Kanz al-Daqa'iq 2/56,
ومن المندوبات إحياء ليالي العشر من رمضان وليلتي العيدين وليالي عشر ذي الحجة وليلة النصف من شعبان كما وردت به الأحاديث وذكرها في الترغيب والترهيب
"Di antara hal-hal yang dianjurkan adalah menghidupkan malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadan, malam-malam kedua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), malam-malam sepuluh hari pertama Dzulhijah, dan malam pertengahan bulan Syaban, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis-hadis dan dijelaskan secara rinci dalam buku Targhib wa Tarhib.
2. Hasyiyah Ibn Abidin 2/511
ونقل ط عن بعض الشافعية: أن أفضل الليالي ليلة مولده - صلى الله عليه وسلم - ثم ليلة القدر، ثم ليلة الإسراء والمعراج، ثم ليلة عرفة، ثم ليلة الجمعة، ثم ليلة النصف من شعبان، ثم ليلة العيد.
"Dan telah dikutip dari sebagian ulama Syafi'i: bahwa malam yang terbaik adalah malam kelahiran Nabi - صلى الله عليه وسلم - kemudian malam Lailatul Qadar, kemudian malam Isro' dan Mi'raj, kemudian malam Arafah, kemudian malam Jumat, kemudian malam pertengahan bulan Syaban, dan kemudian malam hari raya."
3. Marāqī al-Falāḥ Syarḥ Nūr al-Iḍāḥ, hal. 151
" ندب إحياء "ليلة النصف من شعبان
"Disunnahkan untuk menghidupkan malam pertengahan bulan Syaban."
4. Mawāhib al-Jalīl fī Sharḥ Mukhtaṣar Khalīl 2/193
قال في جمع الجوامع للشيخ جلال الدين السيوطي «من أحيا ليلتي العيدين وليلة النصف من شعبان لم يمت قلبه يوم تموت القلوب»
disebutkan bahwa dalam Jama' al-Jawāmi' karya Sheikh Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī terdapat hadis yang berbunyi:
"Barang siapa yang menghidupkan dua malam Idul Fitri, malam Idul Adha, dan malam pertengahan bulan Sya'ban, maka tidak akan mati hatinya pada hari dimana hati-hati manusia mati."
Menunjukkan banyak melakukan amal sunnah pada waktu tersebut.
وقال ابن الفرات: استحب إحياء ليلة العيد بذكر الله تعالى والصلاة وغيرها من الطاعات للحديث «من أحيا ليلة العيد لم يمت قلبه يوم تموت القلوب» وروي مرفوعا وموقوفا وكلاهما ضعيف لكن أحاديث الفضائل يتسامح فيها.
Dalam kutipan tersebut, Ibn al-Furāt menyebutkan bahwa disunnahkan untuk menghidupkan malam Idul Fitri dan Idul Adha dengan berzikir kepada Allah, shalat, dan berbagai amal kebajikan lainnya. Ini berdasarkan hadis yang berbunyi:
"Barang siapa yang menghidupkan malam Idul Fitri dan Idul Adha, maka tidak akan mati hatinya pada hari di mana hati-hati manusia mati."
Ibn al-Furāt menjelaskan bahwa hadis ini diriwayatkan baik secara marfū' (dari Nabi ﷺ langsung) maupun mawkūf (dari sahabat). Namun, ia juga mencatat bahwa kedua riwayat tersebut lemah, tetapi menurut kaidah dalam ilmu hadis, hadis-hadis yang berkaitan dengan keutamaan atau fadā'il (keutamaan amal) sering kali bisa diterima meskipun memiliki kelemahan dalam sanadnya, selama tidak mencapai derajat yang sangat lemah atau munkar.
Kedua, tata cara menghidupkan malam nisfu Sya'ban sesuai panduan dari ulama,
1. Kitab: Al-Bahr al-Ra'iq Syarh Kanz al-Daqa'iq 2/56,
والمراد بإحياء الليل قيامه وظاهره الاستيعاب ويجوز أن يراد غالبه ويكره الاجتماع على إحياء ليلة من هذه الليالي في المساجد قال في الحاوي القدسي ولا يصلى تطوع بجماعة غير التراويح وما روي من الصلوات في الأوقات الشريفة كليلة القدر وليلة النصف من شعبان وليلتي العيد وعرفة والجمعة وغيرها تصلى فرادى انتهى ومن هنا يعلم كراهة الاجتماع على صلاة الرغائب التي تفعل في رجب
Yang dimaksud dengan "menghidupkan malam" adalah dengan mengerjakan ibadah pada malam tersebut, dan secara zahirnya mencakup seluruh malam. Namun, bisa juga dimaksudkan sebagian besar malamnya.
Disunnahkan untuk tidak mengadakan pertemuan di masjid untuk menghidupkan malam-malam tertentu dengan berjamaah, seperti yang disebutkan dalam al-Hāwī al-Qudsī, bahwa tidak boleh melakukan shalat sunnah berjamaah kecuali tarawih. Sementara itu, shalat-shalat sunnah yang dilakukan pada waktu-waktu mulia, seperti malam Lailatul Qadr, malam Nisfu Sya'ban, malam Idul Fitri, malam Idul Adha, malam Arafah, dan malam Jumat, semuanya sebaiknya dikerjakan secara individu (sendiri), bukan berjamaah. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa mengadakan pertemuan untuk shalat Ragha'ib (shalat yang dilakukan pada malam Jumat pertama di bulan Rajab) dengan berjamaah adalah sesuatu yang tidak dianjurkan (makruh).
2. Marāqī al-Falāḥ Syarḥ Nūr al-Iḍāḥ, hal. 151
وعن ابن عباس بصلاة العشاء في جماعة والعزم على صلاة الصبح جماعة كما إحياء ليلتي العيدين, وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل ومن صلى الصبح في جماعة فكأنما قام الليل كله" رواه مسلم.
Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan bahwa menghidupkan malam Nisfu Sya'ban dan dua malam Idul Fitri dan Idul Adha dapat dilakukan dengan cara melaksanakan shalat Isya' berjamaah dan berniat untuk shalat Subuh berjamaah. Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang shalat Isya' berjamaah, seolah-olah dia telah mengerjakan shalat malam setengah malam, dan barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, seolah-olah dia telah mengerjakan shalat sepanjang malam." (HR. Muslim).
ويكره الاجتماع على إحياء ليلة من هذه الليالي" المتقدم ذكرها "في المساجد" وغيرها لأنه لم يفعله النبي صلى الله عليه وسلم ولا الصحابة فأنكره أكثر العلماء من أهل الحجاز منهم عطاء وابن أبي مليكة وفقهاء أهل المدينة وأصحاب مالك وغيرهم وقالوا ذلك كله بدعة ولم ينقل عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه إحياء ليلتي العيدين جماعة واختلف علماء الشم في صفة إحياء ليلة النصف من شعبان على قولين أحدهما أنه استحب إحياؤها بجماعة في المسجد طائفة من أعيان التابعين كخالد بن معدان ولقمان بن عامر ووافقهم اسحق بن راهويه والقول الثاني أنه يكره الاجتماع لها في المساجد للصلاة وهذا قول الأوزاعي إمام أهل الشام وفقيههم وعالمهم.
"Dianjurkan untuk tidak mengadakan pertemuan bersama untuk menghidupkan malam dari malam-malam yang telah disebutkan sebelumnya, baik di masjid maupun tempat lainnya, karena hal tersebut tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ maupun oleh para sahabat.
Oleh karena itu, hal ini dianggap sebagai bid'ah oleh sebagian besar ulama dari kalangan ahli Hijaz, seperti 'Atha', Ibn Abi Mulaikah, para fuqaha' Madinah, dan para pengikut mazhab Malik serta lainnya. Mereka mengatakan bahwa tidak ada riwayat dari Nabi ﷺ atau dari para sahabat yang menunjukkan bahwa mereka menghidupkan malam Idul Fitri dan Idul Adha berjamaah.
Adapun dalam perbedaan pendapat mengenai cara menghidupkan malam Nisfu Sya'ban, ada dua pandangan di kalangan para ulama.
Pendapat pertama menyatakan bahwa disunahkan untuk menghidupkannya dengan berjamaah di masjid, dan ini diterima oleh sebagian besar tokoh-tokoh besar dari kalangan tabiin seperti Khalid bin Ma'dan dan Luqman bin 'Aamir, serta disetujui oleh Ishaq bin Rahwayh.
Sedangkan pendapat kedua, yang dipegang oleh al-Auza'i, seorang imam dan ahli fiqh dari Syam, menyatakan bahwa pertemuan bersama untuk menghidupkan malam tersebut di masjid tidak dianjurkan."
Demikian yang disampaikan oleh beberapa ulama terkait anjuran menghidupkan malam nisfu Sya'ban.
Pada nukilan di atas menunjukkan bahwa mayoritas fuqoha menganjurkan untuk menghidupkan malam nisfu Sya'ban dengan memperhatikan rambu-rambu yang dilarang.
Dan termasukan juga jumhur fuqoha memakruhkan berkumpul di masjid dalam rangka menghidupkan malam nisfu Sya'ban
Allahu 'Alam