Pemahaman Salaf dalam Atribusi Sifat Allah
Syaikh Nashir bin Abd al Karim dalam karyanya “Syarh Aqidah as-Salaf Ashab al Hadits” membahas pemahaman salaf menganai sifat-sifat Allah.
Corak penulisannya dan gagasannya mengacu kepada konsep itsbat (penetapan) sifat Allah sebagaimana adanya tanpa tahrif, ta’til, takyif, maupun tamtsil.
Fokus kajian beliau adalah memahami kaedah “ "إﺟراء اﻟﻠﻔظ ﻋﻠﻰ اﻟظﺎھر
secara konseptual. Bagaimana memahami atau memfungsikan lafaz sesuai dengan makna zahirnya, yang mana ini menjadi prinsip utama dalam pendekatan Salaf terhadap
sifat-sifat Allah.
Dalam konteks ini, beliau menyuguhkan kajian kritis terkait cara memahami perbedaan perspektif tentang makna zahir.
■ Pertama, makna zahir yang dianut oleh Salaf yaitu makna hakiki yang sesuai dengan kebesaran Allah.
اﻟﺣﻘﯾﻘﺔ اﻟﺗﻲ ﺗﻠﯾق ﺑﺎ
Contoh, dalam QS. Al-Maidah:64, kata “tangan” ( (ﯾدdipahami sebagai sifat yang hakiki, tetapi tidak menyerupai tangan makhluk.
Hal ini sesuai dengan prinsip
إﺛﺑﺎت ﺑﻼ ﺗﺷﺑﯾﮫ
“Menetapkan sifat tanpa menyerupakan.”
■ Kedua, makna yang ditolak oleh Salaf, yaitu makna lughowiyah. Berangkat dari ini, ﯾد" “ akan melahirkan makna yang menyerupai makhluk, misalnya menafsirkan sebagai tangan secara fisik seperti manusia. Jika dipahami secara lughowiyah maka akan membawa kepada tajsim (penjisim-an Allah).
Oleh karena itu, kelompok Jahmiyah dan Asy’ariyah melakukan takwil dan menolak pemaknaan zahir.Dalam hal ini beliau menegaskan bahwa ada kekeliruan dalam memahami makna zahir
Penulis : Ustadz. Riza Ashfari Mizan, BA.