Perang Tabuk Versi lain dari Tsaniyyatul Wada'
5 days ago
1 views

Perang Tabuk

Versi lain dari Tsaniyyatul Wada' (ثَنِيَّةُ الْوَدَاع)

Hubungan Tsaniyyatul Wada' (ثَنِيَّةُ الْوَدَاع) dengan Perang Tabuk adalah salah satu pembahasan yang sering dijelaskan oleh para ahli sejarah Islam.

1. Mengapa dinamakan Tsaniyyatul Wada'?

Kata الثنية berarti jalan mendaki atau celah gunung, sedangkan الوداع berarti perpisahan atau pelepasan.

Tempat ini menjadi lokasi kaum Muslimin mengantar (melepas) dan menyambut rombongan yang keluar masuk Madinah dari arah utara (arah Syam).

2. Apa hubungannya dengan Perang Tabuk?

Banyak ahli sejarah berpendapat bahwa ketika Rasulullah ﷺ berangkat menuju Tabuk pada tahun ke-9 Hijriah, beliau dan pasukan kaum muslimin melewati Tsaniyyatul Wada', karena Tabuk berada di sebelah utara Madinah.

Demikian pula ketika beliau kembali dari Tabuk, beliau melewati jalan yang sama.

Sebagian ulama sirah menjelaskan bahwa syair "Ṭala‘al Badru ‘Alainā" lebih mungkin dinyanyikan saat kepulangan Rasulullah ﷺ dari Tabuk, bukan ketika hijrah ke Madinah. Alasannya, Tsaniyyatul Wada' berada di arah utara Madinah, sedangkan Rasulullah ﷺ saat hijrah datang dari arah selatan (jalur Makkah melalui Quba). Karena itu, banyak ahli hadits menilai penisbatan syair tersebut kepada peristiwa hijrah tidak memiliki sanad yang shahih.

3. Apa pelajaran yang dapat diambil?

  1. Memeriksa kebenaran riwayat sejarah. Tidak semua kisah yang terkenal memiliki sanad yang shahih.

  2. Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus dibangun di atas ilmu, bukan sekadar cerita yang populer.

  3. Perang Tabuk menunjukkan pengorbanan para sahabat. Mereka dilepas dari Madinah melalui Tsaniyyatul Wada' menuju perjalanan yang sangat berat, sehingga tempat itu menjadi saksi semangat jihad dan ketaatan mereka.

  4. Setiap kali melewati Tsaniyyatul Wada' saat city tour, hendaknya jamaah mengingat perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat dalam menegakkan agama, bukan melakukan amalan atau keyakinan khusus terhadap tempat tersebut karena tidak ada dalil yang shahih tentang keutamaannya.

Dengan demikian, hubungan yang paling kuat antara Tsaniyyatul Wada' dan Perang Tabuk adalah bahwa tempat tersebut merupakan jalur keluar-masuk Madinah menuju arah Tabuk, dan menurut pendapat banyak ahli sirah, di sanalah syair "طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا" lebih mungkin dilantunkan ketika Rasulullah ﷺ kembali dari Tabuk daripada saat hijrah ke Madinah.

Wallāhu a'lam.

Kajian City Tour Madinah:

Pelajaran dari Perang Tabuk

Berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salafus Shalih

Pendahuluan

Perang Tabuk (غزوة تبوك) merupakan ekspedisi militer terbesar yang dipimpin langsung oleh Rasulullah ﷺ. Perang ini menjadi ujian besar keimanan kaum muslimin, karena mereka harus berangkat dalam kondisi yang sangat berat.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kalian, 'Berangkatlah (berjihad) di jalan Allah,' kalian merasa berat dan ingin tetap tinggal di bumi? Apakah kalian lebih menyukai kehidupan dunia daripada akhirat? Padahal kenikmatan dunia dibanding akhirat hanyalah sedikit."

(QS. At-Taubah: 38)

1. Kapan Perang Tabuk terjadi?

Perang Tabuk terjadi pada:

  • Bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah.

  • Sekitar Oktober 630 M.

Saat itu Rasulullah ﷺ berangkat dari Madinah menuju Tabuk yang berjarak sekitar 700 km.

2. Berhadapan dengan siapa?

Kaum muslimin bersiap menghadapi pasukan Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) beserta kabilah-kabilah Arab Nasrani yang menjadi sekutunya.

Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Tabuk, pasukan Romawi tidak jadi maju sehingga tidak terjadi pertempuran terbuka. Meskipun demikian, ekspedisi ini menunjukkan kekuatan kaum muslimin dan memperluas pengaruh Islam di Jazirah Arab.


3. Berapa jumlah pasukan?

Kaum Muslimin

Sekitar 30.000 orang.

Di antaranya terdapat sekitar 10.000 pasukan berkuda, menjadikannya pasukan terbesar yang pernah dipimpin Rasulullah ﷺ.

Karena beratnya keadaan, pasukan ini dikenal sebagai:

جَيْشُ الْعُسْرَةِ

"Pasukan dalam masa kesulitan."

Hal ini diisyaratkan Allah:

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ

"Sungguh Allah telah menerima taubat Nabi, kaum Muhajirin dan Anshar yang mengikutinya pada masa kesulitan."

(QS. At-Taubah: 117)

4. Mengapa disebut Perang yang sangat berat?

Karena bersamaan dengan:

  • musim panas yang sangat terik,

  • musim panen kurma,

  • paceklik dan kekurangan makanan,

  • kekurangan kendaraan,

  • perjalanan sangat jauh,

  • menghadapi kekuatan besar Romawi.

Kadang satu ekor unta dipakai bergantian oleh beberapa orang.

5. Bagaimana Rasulullah ﷺ memotivasi para sahabat?

Berbeda dengan peperangan lain yang biasanya dirahasiakan tujuannya, pada Perang Tabuk Rasulullah ﷺ secara terbuka mengumumkan tujuan keberangkatan agar kaum muslimin dapat mempersiapkan bekal.

Beliau menganjurkan infak di jalan Allah. Para sahabat berlomba-lomba:

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq membawa seluruh hartanya.

  • Umar bin Al-Khattab membawa setengah hartanya.

  • Utsman bin Affan menyumbangkan ratusan unta lengkap dengan perlengkapannya serta sejumlah besar dinar.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang Utsman:

مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ

"Tidak akan membahayakan Utsman apa yang ia lakukan setelah hari ini."

(HR. At-Tirmidzi, dinilai hasan oleh sejumlah ulama)

Allah juga memuji orang-orang yang tidak mampu ikut perang karena tidak memiliki bekal:

وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ

"(Tidak berdosa pula) orang-orang yang datang kepadamu agar engkau memberi mereka kendaraan, lalu engkau berkata: 'Aku tidak mempunyai kendaraan untuk kalian.' Mereka kembali dengan mata bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan."

(QS. At-Taubah: 92)

6. Tiga sahabat yang tidak ikut Perang Tabuk

Mereka bukan orang munafik, tetapi sahabat yang lalai menunda keberangkatan hingga akhirnya tertinggal.

Mereka adalah:

  1. Ka'ab bin Malik

  2. Hilal bin Umayyah

  3. Murarah bin ar-Rabi'

Mereka tidak membuat alasan palsu ketika Rasulullah ﷺ pulang.

Mereka berkata jujur.

7. Ayat tentang mereka

Kisah mereka terdapat dalam:

QS. At-Taubah ayat 118

Allah berfirman:

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

"Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubatnya), hingga ketika bumi yang luas terasa sempit bagi mereka dan jiwa mereka pun terasa sempit serta mereka yakin tidak ada tempat berlindung dari Allah selain kepada-Nya. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap bertaubat. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

8. Bagaimana sikap ketiga sahabat itu?

Rasulullah ﷺ memerintahkan kaum muslimin untuk tidak berbicara dengan mereka selama 50 hari.

Bahkan istri-istri mereka diperintahkan untuk berpisah sementara.

Namun mereka:

  • tidak marah,

  • tidak membenci Rasulullah ﷺ,

  • tidak meninggalkan jamaah,

  • tidak menyalahkan orang lain,

  • terus shalat berjamaah,

  • terus menangis,

  • memperbanyak taubat,

  • tetap berharap rahmat Allah.

Kisah lengkap ini terdapat dalam dan termasuk hadits yang sangat panjang serta penuh pelajaran.

9. Pelajaran dari Perang Tabuk

  1. Keimanan diuji pada saat keadaan sulit, bukan hanya saat lapang.

  2. Kejujuran menyelamatkan, walaupun awalnya terasa berat. Ketiga sahabat itu selamat karena berkata jujur, sedangkan orang-orang munafik datang dengan alasan dusta.

  3. Infak di jalan Allah merupakan sebab kemenangan umat.

  4. Taat kepada pemimpin kaum muslimin dalam perkara yang ma'ruf adalah bagian dari agama.

  5. Hukuman (hajr) yang dilakukan Rasulullah ﷺ kepada tiga sahabat merupakan bentuk pendidikan, bukan karena kebencian pribadi. Tujuannya agar mereka bertaubat, dan ini dilakukan dengan wahyu serta dalam kondisi yang memiliki maslahat syar'i.

  6. Taubat yang jujur menghapus dosa, sebesar apa pun kesalahan seorang mukmin.

  7. Jangan menunda kebaikan. Ketiga sahabat itu tertinggal bukan karena menolak berjihad, tetapi karena terus menunda hingga kesempatan berlalu.

  8. Pertolongan Allah datang setelah kesabaran dan kejujuran.

Penutup

Perang Tabuk mengajarkan bahwa kemenangan tidak selalu diukur dengan terjadinya pertempuran, tetapi juga dengan ketaatan kepada Allah, pengorbanan harta dan jiwa, kejujuran dalam mengakui kesalahan, serta kesabaran dalam menerima ujian. Kisah ini menjadi teladan bagi setiap muslim agar tidak menunda ketaatan, selalu jujur, dan tetap berharap kepada rahmat Allah dalam setiap keadaan.

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
💬
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Artikel Terbaru Fauzi Basulthana