Perang Uhud
Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis sesuai Pemahaman Salafus Shalih
Mukadimah
Perang Uhud adalah pelajaran besar tentang ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, pentingnya mengikuti pemimpin, bahaya cinta dunia, serta bagaimana Allah mendidik kaum mukmin melalui ujian.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنۢ بَعْدِ مَا أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الْآخِرَةَ﴾
"Dan sungguh Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian ketika kalian membinasakan mereka dengan izin-Nya, sampai ketika kalian lemah, berselisih dalam urusan itu, dan mendurhakai perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada yang menghendaki akhirat."
(QS. Ali 'Imran: 152)
1. Apa sebab terjadinya Perang Uhud?
Perang Uhud terjadi pada bulan Syawwal tahun ke-3 Hijriah.
Sebab utamanya:
Kaum Quraisy ingin membalas kekalahan mereka dalam Perang Badar.
Tokoh-tokohnya:
Abu Sufyan bin Harb
Shafwan bin Umayyah
Ikrimah bin Abu Jahl
Khalid bin Walid (saat itu masih musyrik)
Mereka mengumpulkan seluruh kekuatan untuk menghancurkan Madinah.
2. Berapa jumlah pasukan?
Kaum Quraisy
3.000 tentara
700 berbaju besi
200 pasukan berkuda
sekitar 3.000 unta
(Ibnu Hisyam, Ibnu Katsir)
Kaum Muslimin
Awalnya:
1.000 orang
Di tengah perjalanan:
300 orang munafik dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul pulang (desersi).
Allah berfirman:
﴿وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ نَافَقُوا﴾
"Agar Allah mengetahui orang-orang munafik."
(QS. Ali Imran: 167)
Sehingga yang tersisa:
700 orang sahabat.
3. Mengapa Abdullah bin Ubay pulang?
Karena pendapatnya tidak dipakai.
Ia ingin bertahan di Madinah.
Mayoritas sahabat yang muda ingin keluar menghadapi musuh.
Ketika Nabi memilih keluar, Abdullah bin Ubay marah lalu membawa pulang 300 orang munafik.
4. Bagaimana Rasulullah ﷺ mempersiapkan perang?
Beliau:
bermusyawarah
memilih lokasi terbaik
memakai dua lapis baju besi
menyusun strategi
menempatkan pasukan pemanah di bukit
Ini menunjukkan pentingnya sebab-sebab dunia meskipun bertawakal kepada Allah.
5. Siapa saja yang diajak musyawarah?
Di antara sahabat:
Abu Bakar Ash-Shiddiq
Umar bin Khattab
para Muhajirin
para Anshar
terutama para veteran Badar
Awalnya Rasulullah ﷺ lebih memilih bertahan di Madinah.
Namun mayoritas sahabat yang belum ikut Badar mengusulkan keluar menghadapi Quraisy.
Setelah memakai baju perang beliau bersabda:
«مَا كَانَ لِنَبِيٍّ إِذَا لَبِسَ لَأْمَتَهُ أَنْ يَضَعَهَا حَتَّى يَقَاتِلَ»
"Tidak pantas bagi seorang nabi apabila telah mengenakan baju perangnya untuk melepasnya hingga Allah memutuskan peperangan."
(HR. Ahmad, dinilai hasan oleh para ulama)
6. Siapa pemimpin pasukan pemanah?
Rasulullah ﷺ menunjuk:
Abdullah bin Jubair Al-Anshari radhiyallahu 'anhu.
Jumlah mereka:
50 orang pemanah.
Pesan Nabi:
"Jangan tinggalkan tempat kalian walaupun kalian melihat kami menang atau kalah."
(HR. Al-Bukhari)
7. Siapa yang perang tanding?
Di awal perang terjadi duel.
Di antara para pemberani kaum Muslimin:
Hamzah bin Abdul Muththalib
Ali bin Abi Thalib
Abu Dujanah
Az-Zubair bin Al-Awwam
Thalhah bin Ubaidillah
Mereka berhasil memukul mundur pasukan Quraisy.
8. Mengapa kaum Muslimin hampir menang?
Karena:
disiplin
taat kepada Nabi
strategi berhasil
Kaum Quraisy mulai mundur.
Harta rampasan mulai terlihat.
9. Apa sebab kekalahan kaum Muslimin?
Allah telah menjelaskan sendiri penyebabnya.
Sebab pertama
Melanggar perintah Rasulullah ﷺ.
Para pemanah turun dari bukit.
Sebab kedua
Ingin mengambil ghanimah.
Sebab ketiga
Terjadi perselisihan.
Sebab keempat
Tidak menaati komandan.
10. Siapa yang menyerang dari belakang?
Pasukan berkuda dipimpin oleh:
Khalid bin Walid
Saat itu beliau masih musyrik.
Melihat bukit pemanah kosong, beliau memutari gunung lalu menyerang dari belakang.
Inilah titik balik Perang Uhud.
11. Siapa yang melindungi Rasulullah ﷺ?
Di antaranya:
Abu Bakar Ash-Shiddiq
Umar bin Khattab
Ali bin Abi Thalib
Thalhah bin Ubaidillah
Az-Zubair bin Al-Awwam
Sa'ad bin Abi Waqqash
Abu Dujanah
Ummu 'Umarah (Nusaibah binti Ka'ab)
Tentang Thalhah, Nabi bersabda:
«أَوْجَبَ طَلْحَةُ»
"Thalhah telah memperoleh surga."
(HR. At-Tirmidzi)
Beliau melindungi Nabi hingga tangannya lumpuh.
12. Siapa yang membunuh Hamzah?
Hamzah dibunuh oleh:
Wahsyi bin Harb
Ia seorang budak milik Jubair bin Muth'im.
Ia melempar tombak hingga mengenai Hamzah.
Setelah itu:
Hindun binti Utbah memutilasi jasad Hamzah karena dendam atas kematian ayah dan saudaranya di Badar.
13. Apakah Nabi ﷺ membenci Perang Uhud?
Tidak.
Bahkan beliau bersabda tentang Gunung Uhud:
«هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ»
"Ini adalah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Beliau juga sering mendoakan syuhada Uhud.
14. Bagaimana sikap Nabi kepada orang-orang yang dahulu memerangi beliau lalu masuk Islam?
Inilah akhlak Rasulullah ﷺ.
Beliau memaafkan mereka.
Contohnya:
Khalid bin Walid
Masuk Islam tahun ke-8 Hijriah.
Nabi bersabda:
"Khalid adalah salah satu pedang Allah."
Ikrimah bin Abu Jahl
Masuk Islam.
Menjadi mujahid besar.
Syahid di Perang Yarmuk.
Abu Sufyan
Masuk Islam saat Fathu Makkah.
Dimaafkan Rasulullah ﷺ.
Hindun binti Utbah
Masuk Islam.
Nabi menerima baiatnya.
Wahsyi bin Harb
Masuk Islam.
Rasulullah ﷺ menerima keislamannya.
Namun beliau berkata:
"Sembunyikanlah wajahmu dariku."
Karena setiap melihat Wahsyi beliau teringat pamannya Hamzah.
Wahsyi kemudian berjihad dan membunuh Musailamah Al-Kadzdzab.
15. Berapa jumlah syuhada Uhud?
Mayoritas ulama menyebut:
70 orang syahid.
Allah berfirman:
﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ﴾
"Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka dan diberi rezeki."
(QS. Ali 'Imran: 169)
16. Siapa saja sahabat yang gugur di Perang Uhud?
Di antara syuhada yang paling masyhur adalah:
Hamzah bin Abdul Muththalib
Abdullah bin Jahsy
Mush'ab bin Umair
Hanzhalah bin Abu 'Amir (Ghasilul Malaikah)
Anas bin An-Nadhr
Sa'ad bin Ar-Rabi'
Abdullah bin 'Amr bin Haram (ayah Jabir)
'Amr bin Al-Jamuh
Khaitsamah bin Al-Harits
Syammas bin Utsman
Abdullah bin Jubair (pemimpin pasukan pemanah)
Malik bin Sinan
Nu'man bin Malik
Rifa'ah bin Waqsy
Tsaqif bin 'Amr
Dan masih banyak lagi hingga jumlah mereka sekitar 70 syuhada, terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar.
Pelajaran Penting dari Perang Uhud
Ketaatan kepada Allah dan Rasul adalah sebab kemenangan.
Satu pelanggaran terhadap perintah pemimpin dapat membawa musibah besar.
Cinta dunia dapat menghilangkan keberkahan kemenangan.
Musyawarah adalah sunnah Rasulullah ﷺ sebelum mengambil keputusan.
Ujian merupakan sarana penyucian iman.
Seorang mukmin memaafkan orang yang bertaubat, sebagaimana Rasulullah ﷺ memaafkan banyak musuhnya yang kemudian masuk Islam.
Para syuhada memperoleh kedudukan yang tinggi di sisi Allah.
Kekalahan di Uhud bukanlah kegagalan dakwah, tetapi pendidikan ilahi agar kaum mukmin tidak bersandar pada jumlah dan kekuatan, melainkan pada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Rujukan utama: Al-Qur'an (khususnya QS. Ali 'Imran ayat 121–180), hadis-hadis sahih dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, serta penjelasan para ulama Ahlus Sunnah seperti Ibnu Jarir Ath-Thabari, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar Al-'Asqalani, Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad, dan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah An-Nabawiyyah.
Lanjutan nya
Apakah benar Nabi shallaullohu ‘alayhi wa sallama memerintahkan untuk mengejar dengan sisa kekuatan pasukan quraisy sampai sampai ada shahabat yang masih terluka tetap bersemangat untuk berperang?
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh.
Bismillah.
Ya, benar. Setelah Perang Uhud, Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk keluar mengejar pasukan Quraisy, meskipun banyak di antara mereka sedang terluka parah. Peristiwa ini dikenal dalam sirah sebagai Perang (Ekspedisi) Hamrā' al-Asad (حمراء الأسد), yang terjadi sehari setelah Perang Uhud.
Allah Ta'ala mengabadikan sikap para sahabat tersebut dalam Al-Qur'an.
Dalil dari Al-Qur'an
Allah berfirman:
﴿الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنۢ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ﴾
"(Yaitu) orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul setelah mereka mendapat luka-luka. Bagi orang-orang yang berbuat baik di antara mereka dan bertakwa, tersedia pahala yang besar."
(QS. Ali 'Imran: 172)
Ayat ini turun mengenai para sahabat yang memenuhi panggilan Rasulullah ﷺ untuk keluar mengejar Quraisy setelah Uhud, padahal tubuh mereka masih dipenuhi luka.
Allah juga berfirman:
﴿الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ﴾
"(Yaitu) orang-orang yang ketika ada yang berkata kepada mereka, 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, maka takutlah kepada mereka,' justru hal itu menambah keimanan mereka, dan mereka berkata, 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.'"
(QS. Ali 'Imran: 173)
Kemudian Allah menutup kisah tersebut dengan firman-Nya:
﴿فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ﴾
"Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, tidak ada bencana yang menimpa mereka."
(QS. Ali 'Imran: 174)
Hadis tentang perintah Rasulullah ﷺ
Dalam riwayat-riwayat sirah yang sahih disebutkan bahwa setelah kembali dari Uhud, Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يَخْرُجَنَّ مَعَنَا إِلَّا مَنْ شَهِدَ الْقِتَالَ»
"Jangan ada yang keluar bersama kami kecuali orang yang telah ikut berperang (di Uhud)."
Diriwayatkan dalam kitab-kitab sirah dengan sanad yang hasan maknanya, di antaranya oleh Imam Ibnu Ishaq, Al-Baihaqi, dan dikuatkan oleh para ulama seperti Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah.
Artinya, pasukan cadangan tidak dipanggil. Yang diperintahkan keluar hanyalah para sahabat yang baru saja bertempur dan terluka.
Benarkah para sahabat yang terluka tetap berangkat?
Ya.
Inilah salah satu bukti keimanan mereka.
Di antara yang disebutkan oleh para ahli tafsir adalah:
Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu
Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu
Az-Zubair bin Al-'Awwam radhiyallahu 'anhu
Thalhah bin 'Ubaidillah radhiyallahu 'anhu yang mengalami luka sangat banyak
Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu
Dan para sahabat lain yang masih mampu bergerak meskipun terluka.
Bahkan sebagian mereka berjalan dengan tubuh penuh luka dan perban, namun tetap memenuhi panggilan Rasulullah ﷺ.
Mengapa Rasulullah ﷺ memerintahkan pengejaran?
Para ulama seperti Ibnu Katsir, Ibnul Qayyim (Zadul Ma'ad), dan Ibnu Hajar menjelaskan beberapa hikmah:
Menunjukkan bahwa kaum Muslimin masih kuat, sehingga Quraisy tidak berani kembali menyerang Madinah.
Menghilangkan kesan bahwa kaum Muslimin telah hancur total.
Mengangkat kembali semangat pasukan Muslim setelah ujian di Uhud.
Memberikan tekanan psikologis kepada Quraisy, sehingga mereka memilih terus kembali ke Makkah.
Hasilnya, pasukan Quraisy tidak berani berbalik arah untuk menyerang Madinah lagi dan melanjutkan perjalanan pulang ke Makkah.
Pelajaran bagi kaum Muslimin
Peristiwa Hamrā' al-Asad menunjukkan beberapa pelajaran besar:
Seorang mukmin tidak larut dalam kekalahan, tetapi segera bangkit kembali.
Ketaatan kepada Rasulullah ﷺ lebih diutamakan daripada rasa sakit dan keletihan.
Semangat jihad para sahabat lahir dari keimanan, bukan sekadar keberanian fisik.
Allah memuji mereka secara langsung dalam Al-Qur'an karena memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya meskipun masih terluka.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang segera memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya dalam setiap keadaan, sebagaimana para sahabat radhiyallahu 'anhum. Aamiin.