Perbedaan Klasik Terawih dan Ied
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Masalah perbedaan taraweh antara 11 dan 23 rakaat.
Mana yg lbh masyhur.
Perbedaan penentuan sholat id.
Apakah kita lbh afdol mengikuti Amir/pemerintah.
Sekian.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Zuf, Bwi 20260317
UFB menjawab
Wa’alaikumussalām warahmatullāhi wabarakātuh.
Berikut penjelasan dua masalah tersebut berdasarkan Al-Qur’an, hadis dengan teks Arab, serta penjelasan para ulama yang mengikuti pemahaman Salafus Shalih.
1️⃣ Perbedaan Jumlah Shalat Tarawih (11 atau 23 rakaat)
Dalil hadis tentang 11 rakaat
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah (shalat malam) di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan lebih dari sebelas rakaat.”
(HR. Bukhari no. 1147, Muslim no. 738)
Hadis ini menunjukkan kebiasaan Nabi ﷺ adalah 11 rakaat (8 tarawih + 3 witir).
Dalil bahwa jumlahnya tidak dibatasi
Nabi ﷺ juga bersabda:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى
“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat.”
(HR. Bukhari no. 990, Muslim no. 749)
Hadis ini tidak membatasi jumlah rakaatnya.
Riwayat 23 rakaat pada zaman sahabat
Pada masa ‘Umar bin Khattab radhiyallāhu ‘anhu, kaum muslimin shalat tarawih 23 rakaat.
Diriwayatkan:
عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ قَالَ:
كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً
“Pada zaman Umar bin Khattab, manusia melaksanakan qiyam Ramadhan sebanyak 23 rakaat.”
(HR. Malik dalam Al-Muwaththa no. 250)
Penjelasan ulama Salaf
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:
“Jika seseorang shalat tarawih 20 rakaat seperti yang masyhur dari mazhab Ahmad, Syafi’i dan Abu Hanifah maka itu baik. Jika ia shalat 36 rakaat juga baik. Jika ia shalat 11 atau 13 rakaat juga baik. Semua itu luas.”
(Majmu’ Fatawa 23/113)
Syaikh Ibn Baz رحمه الله berkata:
“Jumlah rakaat tarawih tidak dibatasi. Yang paling utama adalah mengikuti cara Nabi yaitu 11 atau 13 rakaat, namun jika dilakukan 20 atau lebih maka tidak mengapa.”
(Majmu’ Fatawa Ibn Baz)
✅ Kesimpulan
Yang paling sesuai dengan praktik Nabi ﷺ adalah 11 rakaat.
23 rakaat juga masyhur karena diamalkan para sahabat di masa Umar.
Kedua-duanya boleh dan tidak boleh saling menyalahkan.
2️⃣Perbedaan Penentuan Hari Raya (Id)
Dalam masalah penetapan awal Ramadhan dan Syawal, syariat memerintahkan bersatu dan mengikuti jamaah kaum muslimin.
Dalil Al-Qur’an
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan pemimpin di antara kalian.”
(QS An-Nisa: 59)
Dalil hadis
Nabi ﷺ bersabda:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
“Puasa adalah hari ketika kalian semua berpuasa, berbuka (Idul Fitri) adalah hari ketika kalian semua berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika kalian semua berkurban.”
(HR. Tirmidzi no. 697)
Maknanya: mengikuti jamaah kaum muslimin dan pemimpin mereka.
Penjelasan ulama Salaf
Imam Ahmad رحمه الله berkata:
“Berpuasa dan berhari raya bersama imam dan jamaah kaum muslimin.”
Syaikh Ibn Utsaimin رحمه الله berkata:
“Jika pemerintah telah menetapkan awal Ramadhan atau Syawal maka wajib diikuti, karena itu termasuk persatuan kaum muslimin.”
(Fatawa Arkanul Islam)
✅ Kesimpulan
Dalam penentuan shalat Id dan awal Ramadhan, yang lebih baik adalah mengikuti pemerintah/Amir kaum muslimin.
Hal ini untuk menjaga persatuan dan menghindari perpecahan.
Dalilnya adalah perintah taat kepada pemimpin dan hadis tentang puasa bersama jamaah.
✔ Ringkasnya
Tarawih 11 rakaat → sesuai praktik Nabi ﷺ.
Tarawih 23 rakaat → juga masyhur dari praktik sahabat.
Penentuan Id sebaiknya mengikuti pemerintah/Amir kaum muslimin demi persatuan.
Wallohu A'lam bish-showab
Lalu apa penyebabnya⁉️
Dalam masalah perbedaan jumlah rakaat tarawih (11 dan 23) serta perbedaan penentuan hari raya, para ulama menjelaskan ada beberapa kesalahan yang sering terjadi di tengah kaum muslimin.
Berikut 3 kesalahan besar yang perlu dihindari:
1. Menganggap salah satu jumlah rakaat tarawih sebagai bid’ah
Sebagian orang mengatakan tarawih 23 rakaat bid’ah, sementara yang lain mengatakan tarawih 11 rakaat tidak benar. Ini adalah sikap yang keliru.
Karena kedua-duanya memiliki dasar.
Dalil praktik Nabi (11 rakaat)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah di Ramadhan maupun di luar Ramadhan lebih dari 11 rakaat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalil praktik sahabat (23 rakaat)
كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً
“Manusia pada zaman Umar melakukan qiyam Ramadhan 23 rakaat.”
(Riwayat Malik dalam Al-Muwaththa).
✅ Maka menyalahkan salah satunya adalah kesalahan, karena keduanya pernah diamalkan oleh generasi terbaik.
2. Berpecah belah dan bertengkar karena jumlah rakaat
Sebagian kaum muslimin sampai bertengkar bahkan memecah jamaah masjid hanya karena masalah jumlah rakaat.
Padahal Islam melarang perpecahan.
Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.”
(QS Ali Imran: 103)
Para ulama menjelaskan bahwa masalah jumlah tarawih adalah masalah ijtihad, sehingga tidak boleh menjadi sebab perpecahan.
3. Tidak mengikuti imam atau pemerintah dalam penentuan Id
Kesalahan berikutnya adalah membuat penetapan Id sendiri-sendiri sehingga satu negeri bisa berbeda hari raya.
Padahal syariat memerintahkan bersama jamaah kaum muslimin.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
“Puasa adalah hari ketika kalian berpuasa bersama, Idul Fitri adalah hari ketika kalian berbuka bersama, dan Idul Adha adalah hari ketika kalian berkurban bersama.”
(HR. Tirmidzi)
Para ulama menjelaskan maknanya: mengikuti jamaah kaum muslimin dan pemimpin mereka.
Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله berkata:
“Manusia hendaknya berpuasa bersama pemerintahnya dan berhari raya bersama pemerintahnya agar tidak terjadi perpecahan.”
Kesimpulan
Tiga kesalahan yang sering terjadi:
Menganggap salah satu jumlah tarawih (11 atau 23) sebagai bid’ah.
Bertengkar dan memecah persatuan karena masalah jumlah rakaat.
Menetapkan Id sendiri tanpa mengikuti jamaah atau pemerintah.
Yang benar adalah lapang dada dalam masalah ijtihad dan menjaga persatuan kaum muslimin.
Wallohu A'lam bish-showab
Lalu solusinya?
Bismillāh....
Berikut salah satu kisah yang sering disebut para ulama tentang sikap ulama Salaf dan para imam Ahlus Sunnah dalam menyikapi perbedaan jumlah rakaat tarawih. Kisah ini menunjukkan kelapangan dada dan perhatian mereka terhadap persatuan umat.
Kisah Sikap Imam Ahmad terhadap Tarawih
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله pernah ditanya tentang seseorang yang shalat tarawih bersama imam yang melaksanakan 20 rakaat, sementara ia berpendapat 11 rakaat lebih utama.
Beliau tetap menganjurkan mengikuti imam sampai selesai.
Dalilnya sabda Nabi ﷺ:
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Barangsiapa shalat bersama imam sampai imam selesai maka dicatat baginya pahala shalat satu malam penuh.”
(HR. Abu Dawud no. 1375, Tirmidzi)
Karena itu Imam Ahmad berkata:
يُصَلِّي مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ
“Dia shalat bersama imam sampai imam selesai.”
Disebutkan oleh para ulama dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah.
Artinya: walaupun seseorang memiliki pendapat sendiri tentang jumlah rakaat, tetap lebih baik menjaga kebersamaan jamaah.
Kisah Ulama Salaf dalam Perbedaan Tarawih
Sebagian ulama tabi’in juga pernah melihat kaum muslimin shalat tarawih dengan jumlah yang berbeda-beda, namun mereka tidak saling menyalahkan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله menjelaskan:
“Barangsiapa shalat 20 rakaat maka itu baik, dan barangsiapa shalat 11 rakaat maka itu juga baik. Semua itu pernah dilakukan oleh para Salaf.”
(Majmu’ Fatawa 23/113)
Hikmah dari sikap para ulama Salaf
Dari kisah-kisah ini para ulama menjelaskan beberapa pelajaran:
Persatuan umat lebih didahulukan daripada perdebatan masalah cabang.
Masalah jumlah tarawih adalah masalah ijtihad.
Mengikuti imam sampai selesai lebih utama daripada memisahkan diri dari jamaah.
Hal ini sesuai dengan sabda Nabi ﷺ:
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Tangan (pertolongan) Allah bersama jamaah.”
(HR. Tirmidzi)
✅ Kesimpulan
Sikap para ulama Salaf dalam masalah ini adalah:
Tidak saling membid’ahkan.
Tetap shalat bersama imam.
Mengutamakan persatuan kaum muslimin.
Wallohu A'lam bish-showab
Akhukum filLah
Ustadz Fauzi Basulthana