Rahasia ‘Wa Ashlahnā’: Kunci Terkabulnya Doa Nabi Zakaria
4 days ago
39 views

Ada Hal Sangat Menarik atas Terkabulnya Doanya Nabi Zakaria

فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ يَحۡيَىٰ وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُۥۤۚ إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَاتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبࣰا وَرَهَبࣰاۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَاشِعِينَ

(QS. Al-Anbiya: 90)

Saya ambil dari beberapa referensi kitab tafsir. Saya ringkas saja. Ini dikarenakan setelah terkagum dengan ibarat yang Allah gunakan di lafaz "وأصلحنا", terjemah bebasnya "...dan Kami perbaiki." Nah, ini poin pentingnya.

Bahwa inti dari di-ijabhnya doa-doa Nabi Zakaria dan Allah karuniakan keduanya anak, sebagai berikut:

Memperbaiki hubungan keluarga itu sendiri. Hubungan suami istri harus dimulai dengan ketaatan dan kebaikan. Allah memberikan penekanan kepada Istri Nabi Zakaria. Bahwa disitu benar-benar perkara sangat serius.

Perbaikan yang dimaksud adalah Allah memperbaiki sisi fisik istrinya nabi Zakaria, hal ini yang menyebabkan istrinya mandul. Jadi, memperbaiki pola hidup adalah bagian dari sebab adanya keturunan. Dan ini senafas dengan ikhtiar medis.

Perbaikan yang kedua adalah memperbaiki akhlak, beberapa riwayat disebutkan bahwa ada karakter istri Nabi Zakaria yang sedikit keras, maka dengan memperbaiki akhlak menjadi wasilah mendatangkan keturunan. Kelemah lembutan istri di dalam keluarga adalah bagian sentral dan fundamental dalam memengaruhi datangnya keturunan.

Kemudian, keluarga harus hidup di dalam ekosistem kebaikan. Karena narasi yang dibangun oleh Qur'an adalah يسارعون في الخيرات yaitu bersegera di dalam kebaikan, bukan menuju kebaikan. Artinya apa ? Nabi Zakaria itu sudah hidup di dalam wilayah kebaikan, lalu mereka berlomba dan cepat di dalam kebaikan. Nabi Zakaria bukan orang yang baru mencari kebaikan, tapi orang yang sudah hidup di dalam kebaikan dan selalu bergerak cepat di dalamnya.

Ada pola spiritual yang perlu dibangun lagi, 1) produktif di dalam kebaikan; 2) keseimbangan di dalam ibadah, yaitu menumbuhkan rasa harapan kepada Allah, dan menanamkan rasa takut kepada Allah; 3) Memperbaiki kondisi hati, yang mana dituntut untuk selalu merendahkan diri dihadapan Allah dan selalu sadar akan kebesaran dan keagungan-Nya.

Maka, berdasarkan semua indikator di atas, keluarga harus kembali lagi membangun spirit kebaikan dan kesalehan. Dan selalu menjaga hubungan dirinya dengan suaminya, atau sebaliknya, dan memperbaiki hubungan dengan kerabatnya, dan lebih dalam lagi, memperbaiki hubungannya dengan Allah.

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
Belum ada komentar
Artikel Terbaru Riza Ashfari Mizan