Tahrīr Mahall al-Khilāf
Para ulama sepakat tentang kesunnahan salat witir. Mereka juga sepakat bahwa salat witir dianjurkan (yustahabbu) untuk dilaksanakan dengan tiga rakaat. Adapun perbedaan pendapat muncul terkait hukum witir dengan jumlah rakaat yang lebih sedikit dari tiga, serta mengenai apakah tiga rakaat witir dilakukan dengan dipisah salam atau disambung dengan satu salam.
Pendapat Pertama: Imam Mālik
Imam Mālik berpendapat bahwa apabila witir dilaksanakan tiga rakaat, maka yang lebih afdhal adalah memisahnya dengan salam.
Dalil:
Hadis Ibn Abi Qais:
عن عبدِ اللَّهِ بنِ أبي قيسٍ قالَ: قلتُ لعائشةَ رضيَ اللَّهُ عنها: بِكَم كانَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يوترُ؟ قالَت: كانَ يوترُ بأربعٍ وثلاثٍ وستٍّ وثلاثٍ وثمانٍ وثلاثٍ وعشرٍ وثلاثٍ، ولم يَكُن يوتِرُ بأنقصَ من سبعٍ ولا بأكْثرَ من ثلاثَ عشرةَ.
“Dari Abdullah bin Abi Qais, ia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah ra, ‘Dengan berapa rakaat Rasulullah ﷺ berwitir?’ Aisyah menjawab: ‘Beliau berwitir dengan empat dan tiga rakaat, enam dan tiga rakaat, delapan dan tiga rakaat, sepuluh dan tiga rakaat. Beliau tidak pernah berwitir dengan kurang dari tujuh rakaat dan tidak lebih dari tiga belas rakaat.’”
Imam Mālik juga beristidlāl bahwa hakikat witir adalah satu rakaat yang didahului dengan salat genap. Oleh karena itu, jumlah rakaat dalam hadis disebut secara bersamaan antara salat genap dan witir, lalu diakhiri dengan satu rakaat witir sebagai penutup. Dengan demikian, disebutkan: “Beliau ﷺ berwitir dengan apa yang telah beliau shalatkan sebelumnya.”
Pendapat Kedua: Imam Abū Hanīfah
Imam Abū Ḥanīfah berpendapat bahwa salat witir dikerjakan tiga rakaat sekaligus dengan satu salam (tanpa dipisah).
Dalil:
Qiyās dengan hadis Ibn Umar:
صَلاةُ المَغرِبِ وِترُ النَّهارِ
“Salat maghrib adalah witir pada siang hari.”
Maka sebagaimana salat maghrib dilakukan tiga rakaat dengan satu salam, demikian pula witir pada malam hari dilakukan tiga rakaat dengan satu salam.
Hadis Aisyah ra:
كان رسول الله ﷺ يوتر بثلاث لا يسلم إلا في آخرهن
“Rasulullah ﷺ berwitir tiga rakaat, dan tidak salam kecuali pada rakaat terakhir.”
Riwayat lain:
كان رسول الله ﷺ يوتر بثلاث لا يجلس إلا في آخرهن
“Rasulullah ﷺ berwitir tiga rakaat, dan tidak duduk (tasyahhud) kecuali pada rakaat terakhir.”
Riwayat lain lagi:
كان رسول الله ﷺ لا يسلم في ركعتي الوتر
“Rasulullah ﷺ tidak salam pada dua rakaat pertama witir.”
Takhrij Imam Ahmad:
كان يوتر بثلاث لا يفصل بينهن
“Beliau ﷺ berwitir tiga rakaat tanpa memisahkan di antaranya.”
Takhrij Al-Hākim:
كان يوتر بثلاث لا يقعد بينهن
“Beliau ﷺ berwitir tiga rakaat tanpa duduk (tasyahhud) di antaranya.”
Pendapat Ketiga: Imam al-Syāfi‘ī dan Imam Aḥmad
Kedua imam ini berpendapat bahwa salat witir tiga rakaat boleh dilakukan dengan dua cara:
Ittiṣāl (disambung dengan satu salam), atau
Infishāl (dipisah dengan dua salam).
Dengan kata lain, menurut Imam al-Syāfi‘ī dan Imam Aḥmad, keduanya sah dilakukan.
Kesimpulan:
Dari uraian di atas dapat disimpulkan:
Para ulama sepakat bahwa salat witir hukumnya sunnah dan dianjurkan tiga rakaat.
Perbedaan pendapat (khilāfiyyah) muncul pada teknis pelaksanaan:
Imam Mālik lebih mengutamakan dipisah dengan salam.
Imam Abū Ḥanīfah berpendapat tiga rakaat dengan satu salam.
Imam al-Syāfi‘ī dan Imam Aḥmad memberikan kelonggaran, yaitu boleh dipisah atau disambung.
Perbedaan ini menunjukkan keluasan fiqh Islam serta fleksibilitas ibadah, sehingga seorang Muslim dapat memilih salah satu pendapat ulama sesuai kondisi dan keyakinannya.
Rujukan:
Ibn Rusyd, Bidāyatu al-Mujtahid wa Nihāyatu al-Muqtaṣid, 1/363
Al-Kāsānī, Badā’i‘ al-Ṣanā’i‘, 1/447
Al-Mawṣilī, Al-Ikhtiyār, 1/55
Al-Mudawwanah, 1/126
Al-Kharqī, Al-Iqnā‘, 2/358
Al-Nawawī, Rawḍatu al-Ṭālibīn, 1/328