Sholat antara Hotel dan Masjidil Haram di Mekkah
Bismillah Assalamualaikum Ustadz,
Mau tanya,
Gimana hukumnya kalau sholat 5 waktunya selalu di Hotel? Apakah boleh?
Gusti AA, Mekkah 20260127
Ustadz Fauzi Basulthana menjawab;
Bismillah...Wa‘alaikumussalām warahmatullāhi wabarakātuh.
Ringkasnya:
👉 Shalat lima waktu di hotel dekat Masjidil Haram itu boleh dan sah.
Namun, shalat berjamaah di Masjidil Haram bagi laki-laki lebih utama dan sangat dianjurkan, selama mampu dan tidak ada udzur syar‘i.
Berikut penjelasan berdasarkan Al-Qur’an, hadis shahih, dan pemahaman Salafus Shalih:
---
⚠️1. Hukum asal shalat: sah di mana saja yang suci
Allah Ta‘ala berfirman:
> وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ
“Dirikanlah shalat.”
(QS. Al-Baqarah: 43)
Perintah ini tidak mensyaratkan tempat tertentu, selama tempat itu suci.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> جُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا
“Dijadikan untukku bumi ini sebagai masjid dan alat bersuci.”
(HR. Al-Bukhari no. 335, Muslim no. 521)
📌 Kesimpulan Salaf:
Shalat sah dilakukan di hotel, rumah, atau tempat lain yang suci, termasuk hotel di sekitar Masjidil Haram.
---
⚠️2. Keutamaan shalat di Masjidil Haram
Rasulullah ﷺ bersabda:
> صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ
“Shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di masjid lainnya.”
(HR. Ahmad no. 15184, Ibnu Majah no. 1406 — shahih)
📌 Ini menunjukkan keutamaan, bukan kewajiban.
---
⛔️3. Hukum meninggalkan jamaah di Masjid bagi laki-laki
Rasulullah ﷺ bersabda:
> لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ، ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ
(HR. Al-Bukhari no. 644, Muslim no. 651)
➡️ Hadis ini dipahami oleh para sahabat dan ulama Salaf sebagai dalil kuatnya kewajiban shalat berjamaah bagi laki-laki yang mampu dan tidak ada udzur.
---
⚠️4. Pendapat ulama Salaf & Ahlus Sunnah
🔹 Syaikh Ibnu Bāz رحمه الله:
> “Shalat di Masjidil Haram lebih utama, namun shalat di hotel tetap sah. Akan tetapi, meninggalkan jamaah tanpa udzur adalah kekurangan besar.”
🔹 Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله:
> “Jika seseorang mendengar adzan dan mampu, maka wajib baginya menghadiri jamaah, kecuali ada udzur.”
---
⚠️5. Kapan boleh shalat di hotel dan tidak ke Masjidil Haram?
Dibolehkan dan tidak berdosa jika ada udzur syar‘i, seperti:
↘️Sakit atau sangat lelah
↘️Lansia
↘️Mengurus anak kecil
↘️Keramaian ekstrem yang membahayakan
↘️Hujan deras / kondisi berbahaya
↘️Perempuan (shalat di tempatnya lebih utama)
Dalil:
> إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Jika seorang hamba sakit atau safar, dicatat baginya pahala seperti ketika ia sehat dan mukim.”
(HR. Al-Bukhari no. 2996)
---
*6. Kesimpulan Praktis*
✅ Shalat 5 waktu di hotel dekat Masjidil Haram: SAH
⚠️ Bagi laki-laki yang mampu tanpa udzur: meninggalkan jamaah di Masjidil Haram adalah perbuatan yang menyelisihi tuntunan Salaf
🌸 Bagi wanita: shalat di hotel tidak masalah, bahkan bisa lebih utama
---
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengagungkan syiar-Nya dan memanfaatkan keberadaan di tanah haram sebaik-baiknya.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Akhukum filLah
UFB
[27/1, 15.03] Gusti AA : Tak lihat ada speakernya juga nyambung dari suara imam di Masjid
[27/1, 17.04] Faùzi Basulthana: Bismillāh.
Pertanyaan ini penting dan sering terjadi di Makkah, dan para ulama Ahlus Sunnah sudah menjelaskannya dengan rinci.
*Ringkasnya*
👉 Jika musholla hotel benar-benar tersambung dengan shaf Masjidil Haram, maka shalatnya sah dan dihukumi shalat berjamaah di Masjidil Haram, insyā’ Allāh.
👉 Jika tidak tersambung shaf, maka tidak dihukumi shalat berjamaah di Masjidil Haram, meskipun masih sah sebagai shalat biasa.
Berikut penjelasan berdasarkan dalil dan pemahaman Salafus Shalih:
---
1. Syarat sah bermakmum (ittishāl ash-shufūf)
Para ulama menyebutkan syarat sah bermakmum adalah:
Mengetahui gerakan imam (melihat atau mendengar takbir)
Ada kesinambungan shaf (اتصال الصفوف)
Tidak ada penghalang yang memutus shaf secara ‘urf (kebiasaan)
Ini diambil dari praktik para sahabat رضي الله عنهم.
Dalil umum:
Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ
“Sesungguhnya imam dijadikan untuk diikuti.”
(HR. Al-Bukhari no. 722, Muslim no. 414)
Mengikuti imam menuntut adanya hubungan nyata, bukan sekadar niat.
---
2. Jika musholla hotel nyambung shaf sampai Masjidil Haram
Jika kenyataannya:
Shaf bersambung tanpa terputus dari dalam Masjidil Haram
Tidak ada jalan besar yang memutus shaf
Jamaah bergerak satu rangkaian shaf
Mendengar takbir imam secara langsung atau melalui pengeras suara
📌 Maka hukumnya SAH, dan:
Dihukumi jamaah Masjidil Haram
Mendapat keutamaan shalat di Masjidil Haram menurut banyak ulama
Pendapat ulama:
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله berkata (maknanya):
> “Jika shaf bersambung sampai di luar masjid, maka shalatnya sah, meskipun berada di bangunan lain.”
---
3. Jika musholla hotel tidak nyambung shaf
Contoh:
Ada jarak kosong lama
Ada jalan raya yang memutus shaf
Jamaah berdiri terpisah di ruangan sendiri
Hanya mengandalkan speaker / siaran
📌 Maka:
Shalatnya tetap sah
TIDAK dihukumi shalat berjamaah Masjidil Haram
Tidak mendapatkan pahala 100.000 menurut pendapat yang kuat
Dalil *larangan* bermakmum terpisah:
> لَا تُخَالِفُوا بَيْنَ الصُّفُوفِ
“Janganlah kalian memutus shaf-shaf.”
(HR. Abu Dawud no. 667 — hasan)
---
*4. Kesalahan yang sering terjadi*
❌ Mengira “asal dengar imam lewat speaker = sah jamaah Masjidil Haram”
❌ Shalat di kamar hotel sambil mengikuti imam Haram lewat TV
➡️ Ini tidak sah sebagai jamaah Masjidil Haram menurut ijma‘ ulama kontemporer
---
*5. Kesimpulan akhir*
*Kondisi & Hukum*
Musholla hotel nyambung shaf sampai Masjidil Haram ✅ Sah & dihukumi jamaah Haram
Musholla hotel tidak nyambung shaf ⚠️ Sah tapi bukan jamaah Haram
Hanya ikut lewat speaker/TV ❌ Tidak sah jamaah
---
📿 Nasihat Salaf:
Jika Allah mudahkan untuk turun dan masuk ke Masjidil Haram, maka itu lebih selamat dan lebih besar pahalanya. Musholla hotel hanya rukhsah, bukan pilihan utama.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Akhukum filLah
Ustadz Fauzi Basulthana