Ternyata Inilah Harta yang Disukai Allah: Utsman bin Affan pun Ingin Merasakannya!
7 months ago
27 views

Tanda harta yang penuh berkah adalah harta yang diperoleh dari usaha sendiri, dari keringatnya sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya:

"أي الكسب أطيب؟"

"Penghasilan apa yang paling baik?"

Beliau menjawab: "عمل الرجل بيده"

"Yaitu hasil dari usaha tangan seseorang sendiri." (HR. Al Bazzar, Dishahihkan oleh Al Hakim)

Dengan demikian, penghasilan yang paling baik dan paling berkah adalah yang lahir dari jerih payah pribadi.

Salah satu contoh nyata dapat ditemukan dalam kisah sahabat Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu. Ketika beliau hijrah ke Madinah, seluruh hartanya ditinggalkan sehingga hidup dalam keadaan miskin. Kaum Anshar kemudian menawarkan berbagai harta dan bantuan, tetapi semuanya ditolak. Abdurrahman hanya berkata:

"دلني على السوق"

"Tunjukkan aku pasar."

Ucapan ini mencerminkan keyakinan beliau bahwa keberkahan sejati terdapat pada usaha sendiri. Bahkan ketika menikah, mahar yang beliau berikan hanyalah sebutir emas, sebagai tanda kesederhanaan hidup beliau saat itu. Namun berkat kerja keras, ketekunan, dan keberkahan dari Allah, Abdurrahman bin Auf kemudian dikenal sebagai salah satu sahabat Nabi yang kaya raya.

Sejarah mencatat bahwa suatu ketika beliau membagikan hartanya kepada kaum muslimin. Sahabat mulia Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pun ikut serta dalam antrean. Ketika ditanya mengenai alasannya, Utsman menjawab:

"Aku ingin merasakan harta yang paling berkah yang pernah Allah turunkan melalui tangan Abdurrahman bin Auf."

Dari kisah ini dapat dipetik pelajaran penting, bahwa harta yang benar-benar berkah adalah hasil dari usaha dan jerih payah sendiri. Harta tersebut bukan berasal dari meminta-minta, bukan pula dari berpura-pura miskin agar dikasihani, atau mengeluh demi menarik simpati orang lain. Sikap-sikap demikian hendaknya dihindari, terlebih bagi seorang muslim yang menjadikan sahabat Nabi sebagai teladan hidup.

Salah satu adab mulia yang diajarkan Islam adalah menutupi kefakiran, tidak mengumbar kekurangan, dan tidak banyak mengeluh. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta‘ala:

"يحسبهم الجاهل أغنياء من التعفف"

"Orang yang tidak tahu menyangka mereka kaya, karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta)." (QS. al-Baqarah: 273)

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan:

أي إنهم من الانقباض وترك المسألة والتوكل على الله بحيث يظنهم الجاهل بهم أغنياء

"Mereka menjaga diri, menghindari dari meminta-minta, dan bertawakal kepada Allah, sehingga orang yang tidak mengenal mereka mengira mereka sebagai orang kaya." (Lihat: Tafsir al-Qurthubi, 3/341)

Sikap ini merupakan bagian dari ketakwaan kepada Allah. Istilah التعفف (ta‘affuf) digunakan dalam bentuk mubâlaghah (penekanan), yang menunjukkan adanya upaya penjagaan diri yang kuat, mendalam, dan penuh perjuangan. Hal ini mengandung makna bahwa meskipun seseorang berada dalam kondisi kekurangan, tetap menjaga kehormatan diri dari meminta-minta adalah amalan yang agung dan mulia, bahkan bagian dari ketaatan dengan derajat yang tinggi.

Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah:

"وأحسنوا إن الله يحب المحسنين"

"Berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik," (QS. al-Baqarah: 195)

beliau menegaskan:

ثم عطف بالأمر بالإحسان، وهو أعلى مقامات الطاعة

"Allah kemudian memerintahkan untuk berbuat ihsan, yaitu kedudukan tertinggi dalam ketaatan." (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir, 1/393)

Makna ihsan adalah terus berusaha melakukan kebaikan, meskipun dalam kondisi sulit. Sikap ini menunjukkan tingkat ketundukan dan ketaatan yang sangat tinggi kepada Allah Ta‘ala.

Dengan demikian, keberkahan harta bukan hanya dilihat dari jumlahnya, tetapi lebih pada bagaimana ia diperoleh. Usaha yang mandiri, penuh kesungguhan, disertai tawakal dan menjaga kehormatan diri dari meminta-minta, adalah kunci utama lahirnya keberkahan dalam harta seorang muslim.

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
Belum ada komentar
Artikel Terbaru Riza Ashfari Mizan