Tips Istiqomah Di Zaman Fitnah
a month ago
31 views
Ary Edithia

Tips Istiqomah di Zaman Fitnah

Pemateri: Ustadz Ahmad Hudzaifah B.A. hafizahullah

Bab 1: Hakikat dan Urgensi Istiqomah

Istiqomah secara bahasa berarti lurus dan konsisten berada di jalan yang benar. Bagi seorang mukmin yang telah mengenal hidayah dan syariat Allah ﷻ, istiqomah adalah keharusan mutlak dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan ujian, baik dari godaan setan maupun hawa nafsu diri sendiri.

Allah ta’ala berfirman mengenai keutamaan orang yang beristikamah dalam Surah Fussilat ayat 30:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Innal-ladzīna qālū rabbunallāhu thummas-taqāmū tatanazzalu 'alaihimul-malā'ikatu allā takhāfū wa lā taḥzanū wa abshirū bil-jannatillatī kuntum tū'adūn.

"Sesungguhnya orang-orang yang berkata: 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata: 'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa bersedih; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'" (QS. Fussilat: 30)

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa malaikat akan mendatangi orang yang istiqomah pada saat sakratul maut untuk memberikan kabar gembira, menenangkan rasa takut akan alam akhirat yang akan dihadapi, serta menghilangkan kesedihan atas urusan dunia yang ditinggalkan. Karena sesungguhnya amalan seseorang dinilai dari penutup kehidupannya (husnul khatimah).

Ciri Utama Istiqomah: Keikhlasan Niat

Setan telah berjanji untuk memalingkan manusia dari jalan Allah ﷻ . Satu-satunya benteng yang membuat bisikan dan tipu daya setan tidak mempan adalah keikhlasan dalam beribadah. Orang yang ikhlas beribadah semata-mata mengharapkan ridha Allah ﷻ  memiliki ketahanan spiritual yang kuat untuk bertahan dalam keistiqomahan.

Bab 2: Kedudukan Istiqomah Menurut Para Ulama

1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمة الله menegaskan betapa tingginya nilai keistiqomahan dibandingkan hal-hal supranatural atau karamah fisik:

"Keistiqomahan itu lebih baik daripada seribu karamah." (Al-Istiqamatu a'dzamu min alfi karamah)

Sebaik-baik karamah bagi seorang hamba yang saleh adalah keistiqomahan yang terus-menerus (Dawamul istiqamah). Karamah sejati bukanlah kemampuan terbang atau kebal dari senjata, melainkan keteguhan diri untuk selalu taat di jalan Allah ﷻ .

Beliau juga menyebutkan sebagaimana dikutip dalam kitab Al-Iksir (Muhtashar Madarijus Salikin):

وَأَنَّ اللَّهَ لَمْ يُكْرِمْ عَبْدَهُ بِكَرَامَةٍ أَعْظَمَ مِنْ مُوَافَقَتِهِ فِيمَا يُحِبُّهُ وَيَرْضَاهُ وَهُوَ طَاعَتُهُ وَطَاعَةُ رَسُولِهِ

Wa annallāha lam yukrim 'abdahū bikarāmatin 'aẓama min muwāfaqatihī fīmā yuḥibbuhū wa yarḍāh, wa huwa ṭā'atuhū wa ṭā'atu rasūlih.

"Dan sesungguhnya Allah tidak memuliakan hamba-Nya dengan kemuliaan (karamah) yang lebih besar daripada menyelaraskan dirinya dengan apa yang dicintai dan diridhai-Nya, yaitu taat kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya."

2. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah

Dalam kitab Madarijus Salikin, Imam Ibnul Qayyim menjelaskan realita yang dihadapi orang yang beristikamah: ketika seseorang mantap berjalan di atas jalan yang lurus, mayoritas manusia di sekitarnya yang lalai justru akan berpaling, mencela, atau menjulidinya dengan sebutan seperti "sok alim" atau "sok suci". Ini merupakan ujian keimanan yang pasti dialami.

3. Al-Hasan Al-Bashri

Imam Al-Hasan Al-Bashri رحمة الله memberikan pencerahan mengenai tanda kedatangan fitnah:

"Apabila fitnah itu datang, hanya orang alim (yang berilmu) saja yang bisa mengetahuinya. Namun apabila fitnah itu telah berlalu, barulah orang-orang jahil menyadarinya."

Bab 3: Realita Memegang Bara Api di Zaman Fitnah

Rasulullah SAW telah menggambarkan betapa beratnya mempertahankan keistiqomahan di akhir zaman melalui sabdanya dalam HR. At-Tirmidzi:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Ya'tī 'alan-nāsi zamānun aṣ-ṣābiru fīhim 'alā dīnihī kal-qābiḍi 'alal-jamri.

"Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar di antara mereka dalam berpegang teguh pada agamanya adalah seperti orang yang memegang bara api." (HR. At-Tirmidzi no. 2260)

Di zaman modern ini, fitnah tidak hanya ada di luar rumah, tetapi telah masuk ke dalam ruang-ruang paling privat melalui gawai (smartphone) dan media sosial. Fitnah pemikiran, syubhat penyimpangan moral (seperti propaganda LGBT yang dikemas manis), serta tekanan lingkungan pekerjaan menjadi ujian nyata bagi orang yang idealis dalam keimanan.

Kisah Nyata: Ujian Keistiqomahan dalam Pekerjaan

Sebuah contoh riil terjadi pada seorang jamaah yang bekerja di sebuah instansi di Bali. Ketika diminta oleh atasannya untuk melakukan mark-up (pengegelembungan) laporan keuangan, ia menolak dengan tegas karena takut kepada Allah ﷻ . Akibat ketegasannya memegang prinsip kejujuran, ia dipindahkan tugas ke daerah terpencil di ujung Bali yang membutuhkan waktu tempuh bolak-balik 3 hingga 4 jam setiap hari.

Meskipun secara fisik dan mental terasa panas seperti "memegang bara api", setiap detik dan langkah dalam perjalanan panjang tersebut bernilai ganjaran pahala yang terus mengalir karena ia memilih istiqomah di jalan Allah ﷻ .

Bab 4: Panduan Praktis dan Tips Beristiqomah

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin رحمة الله, untuk dapat bertahan di zaman fitnah, seorang mukmin membutuhkan dua pilar utama:

  1. Ilmu Syar'i: Sebagai kompas penerang untuk membedakan secara jelas mana yang haq (benar) dan mana yang batil (syubhat). ilmu diperoleh dengan tekun duduk di majelis ilmu dan berguru kepada ustadz yang lurus.

  2. Kesabaran: Sebagai pendorong jiwa agar mampu menanggung beratnya ketidaknyamanan saat memegang teguh syariat Allah ﷻ .

Hal ini sejalan dengan pilar keselamatan yang tertuang dalam Surah Al-'Asr, yaitu saling menasihati dalam kebenaran (tawaashau bil-haqqi) dan saling menasihati dalam kesabaran (tawaashau bish-shabr).

Tips Utama: Memilih Lingkungan dan Teman Saleh

Imam Ibnul Qayyim menegaskan bahwa seorang manusia tidak akan mampu berjalan di atas jalan yang lurus secara sendirian tanpa bantuan lingkungan yang kondusif. Allah ﷻ  mengaitkan doa memohon hidayah dan istiqomah dalam Surah Al-Fatihah (Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, ṣirāṭalladhīna an'amta 'alaihim...) dengan golongan orang-orang yang diberi nikmat.

Siapakah orang-orang yang diberi nikmat tersebut? Allah ﷻ  menjelaskannya dalam Surah An-Nisa ayat 69:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Wa may yuṭi'illāha war-rasūla fa ulā'ika ma'alladhīna an'amallāhu 'alaihim minan-nabiyyīna waṣ-ṣiddīqīna wash-shuhadā'i waṣ-ṣāliḥīna wa ḥasuna ulā'ika rafīqā.

"Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (QS. An-Nisa: 69)

Karena kita tidak mungkin berteman langsung dengan para Nabi yang telah wafat, maka kawan terbaik yang dapat mendampingi kita dalam beristiqomah hari ini adalah orang-orang yang beriman dan orang-orang saleh.

Rasulullah SAW menggambarkan pengaruh teman dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ

Mathalul-jalīsiṣ-ṣāliḥi was-sū'i ka ḥāmili-miski wa nāfikhil-kīr.

"Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan peniup ubupan tukang besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan memberimu minyak wangi, atau engkau membelinya, atau minimal engkau mendapatkan aroma wangi darinya. Sedangkan peniup ubupan tukang besi bisa jadi membakar pakaianmu atau engkau mendapat bau yang tidak sedap." (HR. Al-Bukhari no. 5534 & Muslim no. 2628)

Kata Hikmah (Mahfuzhat):

"Teman yang baik adalah teman yang membuatmu menangis karena mengingatkan dosa-dosamu, bukan teman yang hanya mengajakmu tertawa dalam hura-hura dunia."

Allah ﷻ  juga memerintahkan kita untuk bersabar berada di tengah komunitas orang-orang saleh dalam Surah Al-Kahf ayat 28:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

Wasbir nafsaka ma'alladhīna yad'ūna rabbahum bil-ghadāti wal-'ashiyyi yurīdūna wajhah.

"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya..." (QS. Al-Kahf: 28)

Bab 5: Ringkasan Tanya Jawab & Poin Inti Kajian (Q&A)

Bagaimana jika kita dicela atau dijulidi oleh rekan kerja saat menolak kemaksiatan?

Sadarilah bahwa itu adalah bagian dari sunnatullah saat "memegang bara api". Tetaplah bersabar, karena celaan manusia tidak merugikan di hadapan Allah ﷻ , dan setiap kesulitan bernilai pahala berlipat ganda.

Bagaimana cara mengenali syubhat atau ajaran menyimpang yang dikemas secara manis?

Dengan terus menuntut ilmu syar'i secara rutin di majelis ilmu. Orang berilmu dapat mengenali fitnah sejak awal sebelum fitnah itu merusak akidah masyarakat.

Bagaimana sikap kita terhadap orang yang baru saja hijrah?

Doakan keistiqomahannya dan doakan diri kita sendiri. Jangan terlalu memuji secara berlebihan hingga menganggap hidayahnya sudah final, sebab ujian keistiqomahan berlangsung hingga akhir hayat.

Siapa teman terbaik untuk menjaga konsistensi ibadah?

Orang-orang saleh yang mengajak kepada ketakwaan, mengingatkan akan dosa, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
والله اعلم بالصواب

kajian lengkapnya: https://www.youtube.com/live/0sT0yB_xzZM?si=dFl0xpcc6H3WhPWC

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
💬
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Artikel Terbaru Ary Edithia