Tyibah al-Nafs dalam Memberi dan Menerima
4 days ago
30 views

Dalam hidup sehari-hari, kita sering berbicara tentang rezeki, pemberian, dan hak. Tetapi ada satu sisi yang kadang luput diperhatikan yaitu bagaimana hati orang lain ketika sesuatu diambil darinya ? Islam ternyata sangat memperhatikan hal ini. Bahkan, mengambil sesuatu dari saudara sendiri pun tidak boleh dilakukan dengan cara yang membuat hatinya tidak rela.

Inilah yang dimaksud dengan "Tyibah an-Nafs" kelapangan jiwa dalam memberi dan menerima. Sederhananya, kalau kita menerima sesuatu dari orang lain, pastikan itu datang dari kerelaan yang tulus. Sebab, sesuatu yang diambil tanpa kerelaan hati sering kali tidak membawa berkah.

Al-Qur’an memberi isyarat yang sangat jelas tentang adab ini. Allah berfirman:

(وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوْا وَأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنْفِقُونَ)

[التوبة: 92]

Ayat ini berbicara tentang orang-orang yang datang kepada Nabi ﷺ agar diberi kendaraan untuk berjihad, tetapi beliau tidak menemukannya. Mereka pun pulang dengan air mata, karena sedih tidak mampu ikut berjuang. Dari sini terlihat bahwa hubungan dengan pemberian bukan hanya urusan benda, tetapi juga urusan hati. Ada adab, ada kejujuran, dan ada perasaan yang harus dijaga.

Makna inilah yang juga tampak dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Musa al-Asy'ary رضي الله عنه. Ia mengatakan bahwa para sahabat datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta kendaraan perang. Rasulullah bersabda bahwa beliau tidak memiliki apa yang bisa diberikan. Mereka pun pergi. Tetapi kemudian datang kendaraan dan beliau memanggil mereka lalu memberinya. Dalam perjalanan, sebagian sahabat berkata, “Kami telah meminta sesuatu dari Rasulullah ﷺ, lalu beliau memberikannya setelah bersumpah bahwa beliau tidak akan memberi.” Maka mereka kembali kepada Rasulullah ﷺ untuk memastikan bahwa mereka tidak mengambil sesuatu secara tidak benar.

Rasulullah ﷺ lalu menjelaskan:

إني والله ما حملتكم والله حملكم، وإني والله لا أحلف يمينًا فأرى غيرها خيرًا منها إلا كفرت عن يميني وأتيت الذي هو خير”
“Demi Allah, aku tidaklah membawa kalian; Allah-lah yang membawa kalian. Dan demi Allah, aku tidak bersumpah atas suatu sumpah lalu melihat yang selainnya lebih baik darinya, kecuali aku membayar kafarat sumpahku dan melakukan yang lebih baik.”

Di sini ada pelajaran yang sangat kuat, bahwa para sahabat sampai merasa perlu kembali, bukan karena mereka kehilangan harta, tetapi karena mereka khawatir jangan-jangan mereka mengambil sesuatu tanpa kerelaan yang sempurna. Mereka takut ada unsur mengambil di saat lengah. Sikap seperti ini menunjukkan betapa tingginya wara’ mereka.

Dan dari sinilah kita belajar untuk kehidupan sekarang. Jangan sampai kita mengambil sesuatu dari saudara kita, dari teman kita, atau dari siapa pun, dengan cara yang membuat hatinya tidak lapang. Jangan pula kita memanfaatkan kelengahan orang lain hanya demi keuntungan sesaat. Karena yang seperti itu mungkin terlihat menguntungkan di awal, tetapi sering berujung gelisah di akhir.

Banyak orang mengira bahwa kehati-hatian dan wara’ akan mengurangi rezeki. Padahal justru sebaliknya. Rezeki yang dicari dengan cara bersih dan hati yang tenang akan lebih membawa keberkahan. Sedangkan harta yang masuk lewat cara yang meragukan sering terasa tidak nyaman untuk dinikmati. Ada rasa waswas, ketakutan, dan kegelisahan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Karena itu, Islam mengajarkan bahwa kita tidak boleh tergesa-gesa mengejar dunia dengan mengorbankan adab. Rezeki memang sudah ditetapkan, tetapi itu bukan alasan untuk melanggar batas. Tidak perlu mengambil hak orang lain, tidak perlu memaksa, dan tidak perlu mencari jalan yang membuat kita jauh dari ridha Allah.

Prinsip ini juga selaras dengan semangat syariat yang menutup jalan menuju kezhaliman (saddu dzari'ah). Allah tidak menyukai harta yang diambil dengan cara batil, dan Islam selalu mendorong agar manusia saling ridha dalam muamalah.



0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
Belum ada komentar
Artikel Terbaru Riza Ashfari Mizan