Ucapan Selamat Nyepi oleh Pejabat
a month ago
47 views

Ucapan Pejabat: Selamat Hari Raya Non-Muslim

Bismillah... As salamualaikum wa rahmatullahi wa barokatuhu

Ustadzi ada pertanyaan

Apa boleh kita mengucapkan Hari Raya Nyepi tahun caka

Tw, Dps 20260318

UFB menjawab

Bismillah
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Jawaban ringkas:
Dalam pemahaman para ulama Salafus Shalih, tidak diperbolehkan mengucapkan selamat pada hari raya agama lain, termasuk Hari Raya Nyepi (tahun Saka), karena hal itu termasuk bentuk pengakuan atau ridha terhadap syiar agama selain Islam.

📖 Dalil dari Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman:

1. Larangan ridha terhadap kekufuran

وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

“Dan Dia tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya.”
(QS. Az-Zumar: 7)

➡️ Mengucapkan selamat hari raya agama lain mengandung makna ridha atau persetujuan terhadap syiar kekufuran, walaupun tidak diniatkan demikian.

2. Ciri hamba Allah tidak menghadiri/ikut serta dalam perayaan batil

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ

“Dan orang-orang yang tidak menghadiri (menyaksikan) az-zur (kebatilan).”
(QS. Al-Furqan: 72)

➡️ Sebagian salaf menafsirkan az-zur di sini termasuk hari raya orang-orang musyrik.

📜 Dalil dari Hadis

1. Larangan tasyabbuh (menyerupai orang kafir)

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Abu Dawud)

➡️ Mengucapkan selamat hari raya mereka termasuk bentuk tasyabbuh dalam syiar agama.

🧭 Penjelasan Ulama Salaf & Ahlus Sunnah

1. Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

“Adapun mengucapkan selamat terhadap syiar kekufuran yang khusus bagi mereka, maka haram secara ijma’…”
(Ahkam Ahludz Dzimmah)

Contohnya seperti:

  • “Selamat hari raya”

  • “Happy Nyepi”
    ➡️ Ini termasuk pengakuan terhadap syiar agama mereka.

2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata:

“Tidak halal bagi kaum muslimin menyerupai mereka dalam perkara yang menjadi kekhususan hari raya mereka...”
(Iqtidha’ Shirathil Mustaqim)

⚖️ Kesimpulan

Tidak boleh mengucapkan:

  • “Selamat Hari Raya Nyepi”

  • atau ucapan lain yang mengagungkan hari raya tersebut

✔️ Namun tetap boleh:

  • Berbuat baik dalam muamalah

  • Bersikap adil dan tidak zalim

  • Menjaga hubungan sosial tanpa melanggar akidah

Allah ﷻ berfirman:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ... أَنْ تَبَرُّوهُمْ

“Allah tidak melarang kalian berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kalian dalam agama...”
(QS. Al-Mumtahanah: 8)

🤝 Sikap yang lebih tepat

Jika ingin menjaga hubungan sosial, cukup dengan ucapan umum seperti:

  • “Semoga sehat selalu”

  • “Semoga dalam kebaikan”

Tanpa mengaitkan dengan hari raya mereka.

Semoga Allah menjaga akidah kita di atas tauhid dan sunnah.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Akhukum filLah

UFB

Lanjut pertanyaan

Lalu bagaimana kalau dia itu pejabat publik ...

Dengan alasan ada pada bab

الولاء و البراء

Yang mana boleh المدارة dan tidak boleh المداهنة

UFB menjawab

Bismillah
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Pertanyaan ini bagus, karena memang masuk ke pembahasan penting: الولاء والبراء dan perbedaan antara المداراة (bersikap lembut demi maslahat) dan المداهنة (mengorbankan agama).

🧭 Kaidah Dasar: الولاء والبراء

Allah ﷻ berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Tidak akan engkau dapati kaum yang beriman… berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.”
(QS. Al-Mujadilah: 22)

➡️ Ini menunjukkan tidak boleh ada loyalitas (wala’) dalam perkara agama kepada kekufuran.

Namun di sisi lain:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ… أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ
(QS. Al-Mumtahanah: 8)

➡️ Boleh berbuat baik dan adil (birr & qist) dalam muamalah dunia.

⚖️ Perbedaan Penting:

المداراة vs المداهنة

1. المداراة (yang dibolehkan)

➡️ Bersikap lembut untuk menolak mudarat atau meraih maslahat duniawi tanpa mengorbankan agama.

Contoh:

  • Senyum

  • Ucapan umum: “Semoga sehat”

  • Diplomasi sosial/politik tanpa menyentuh syiar agama

📌 Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan:

المداراة: بذل الدنيا لصلاح الدنيا أو الدين
“Mudarah adalah mengorbankan urusan dunia demi maslahat dunia atau agama.”

2. المداهنة (yang haram)

➡️ Mengorbankan agama demi menyenangkan pihak lain.

Allah ﷻ berfirman:

وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ

“Mereka ingin agar engkau bermudah-mudahan (dalam agama), maka mereka pun akan bermudah-mudahan.”
(QS. Al-Qalam: 9)

📌 Ibnul Qayyim رحمه الله:

المداهنة: ترك الدين لصلاح الدنيا
“Mudahanah adalah meninggalkan agama demi dunia.”

🏛️ Bagaimana dengan Pejabat Publik (misalnya instansi pemerintah)?

Di sinilah perlu ketelitian:

✔️ Boleh (termasuk المداراة):

  • Mengucapkan kalimat umum (netral)

  • Hadir dalam forum resmi tanpa ikut syiar agama

  • Menjaga stabilitas dan kemaslahatan umat

❌ Tidak boleh:

  • Mengucapkan “Selamat Hari Raya Nyepi” atau semisalnya
    ➡️ karena ini masuk:

    • Pengakuan syiar agama lain

    • Bukan sekadar muamalah, tapi simbol agama (شعيرة)

➡️ Maka ini lebih dekat kepada المداهنة, bukan المداراة.

📌 Penegasan Ulama

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله menjelaskan bahwa:

  • Hari raya adalah syiar agama (من أعظم شعائر الدين)
    ➡️ sehingga tidak boleh ikut serta atau mengagungkannya.

🎯 Kesimpulan

➡️ Pejabat publik tetap terikat dengan hukum syariat
➡️ Dalih:

  • “toleransi”

  • “jabatan”

  • “maslahat politik”

tidak membolehkan masuk ke perkara yang mengandung persetujuan terhadap syiar agama lain

✔️ Yang benar:

  • Gunakan المداراة (diplomasi) tanpa melanggar akidah

  • Hindari المداهنة (kompromi agama)

🤝 Sikap Tengah yang Selamat

Seorang muslim—baik rakyat biasa atau pejabat:

  • Tetap berbuat baik

  • Menjaga hubungan sosial

  • Tanpa mengucapkan atau mengakui syiar agama lain

Semoga Allah memberi kita bashirah dalam menjaga tauhid di tengah fitnah zaman.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Lanjut pertanyaan

Assalamualaikum UFB

Utk saudara dan sahabatku khusus nya saudaraku yg merayakan *Hari Raya Nyepi*....semoga keheningan yg ada di hari ini ..akan mampu menghadirkan hati yg bersih yg jernih yg akan mampu mengantar kan diri kita utk menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat....aamiin.

👆narasi yg mencoba tdk bersinggungan atau menyentuh akidah. Bgmn komentar Ustadz? Syukran

Jyd, Dps 20260319

UFB menjawab

Bismillah
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Jawaban singkat:
Narasi tersebut tetap tidak dibolehkan, karena hakikatnya adalah ucapan selamat dan pengakuan terhadap hari raya agama lain, meskipun dibungkus dengan kalimat umum yang “netral”.

📌 Dalil dari Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ...
“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya...”
(QS. Al-Mujadilah: 22)

Dan firman-Nya:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ...
“Dan orang-orang yang tidak menghadiri az-zur (kebatilan)...”
(QS. Al-Furqan: 72)

Sebagian ulama Salaf seperti Mujahid dan Ibn Sirin menafsirkan az-zur di sini termasuk perayaan hari raya orang-orang musyrik.

📌 Dalil dari Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Abu Dawud, hasan)

📌 Penjelasan Ulama Salaf

1. Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق
“Adapun memberi ucapan selamat pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi mereka, maka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama.”
(Ahkam Ahl adz-Dzimmah)

📌 Analisis Narasi yang Ditanyakan

Kalimat:

“...khususnya saudaraku yg merayakan Hari Raya Nyepi...”

👉 Ini sudah ta’yin (penetapan) terhadap hari raya mereka, sehingga:

  • Tetap termasuk tahni’ah (ucapan selamat) secara makna

  • Mengandung bentuk muwâfaqah (persetujuan secara lahir)

  • Walaupun tidak menyebut akidah, tapi tetap mengakui momentum ibadah mereka

Kaidah penting:

العبرة بالمعاني لا بالألفاظ
“Yang dinilai adalah makna, bukan sekadar lafaz.”

📌 Perbedaan yang Perlu Dipahami

✅ Yang boleh (mudârât – تعامل duniawi)

  • Berbuat baik

  • Bermuamalah

  • Ucapan umum non-agama (misal: “semoga sehat” tanpa terkait hari raya)

Dalil:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ... أَنْ تَبَرُّوهُمْ
“Allah tidak melarang kalian berbuat baik kepada mereka yang tidak memerangi kalian...”
(QS. Al-Mumtahanah: 8)

❌ Yang tidak boleh (mudâhanah – kompromi akidah)

  • Mengucapkan selamat hari raya agama lain

  • Mengaitkan doa/kebaikan dengan perayaan mereka

  • Membuat narasi “netral” tapi tetap dalam konteks hari raya

📌 Kesimpulan

  • Narasi tersebut tidak dibolehkan

  • Karena tetap termasuk ucapan selamat hari raya agama lain secara makna

  • Meskipun dihaluskan dan tidak menyentuh akidah secara eksplisit

📌 Saran yang Lebih Selamat

Jika ingin menjaga hubungan:

✔ Ucapkan di hari biasa:
“Semoga selalu dalam kebaikan dan kesehatan.”

❌ Hindari mengaitkan dengan:

  • Hari raya mereka

  • Momentum ibadah mereka

Lanjut pertanyaan

Afwan Ustadzi... bagaimana dengan ucapan selamat pakai Bahasa Bali;

"Rahajeng, dumogi polih kesejahteraan, dan kedamaian"

Kesejahteraan bhs bali kerahayuan.

Kedamaian = shanti.

Ini soal bahasa, apakah jg maknawi?

Apakah boleh ucapan seperti ini?

Jadi, Dps 20260319

UFB menjawab

Bismillah

📌 Terjemahan ke Bahasa Bali

Kalimat:
“Rahajeng, dumogi polih kesejahteraan dan kedamaian”

Dengan penyesuaian yang antum sebutkan:

  • kesejahteraan = kerahayuan

  • kedamaian = shanti

👉 Maka terjemahannya:

“Rahajeng, dumogi polih kerahayuan miwah shanti.”

📌 Apakah ini sekadar bahasa atau juga maknawi?

Jawabannya: ini bukan sekadar bahasa, tapi juga maknawi.

Kenapa?

  • Kata “Rahajeng” dalam penggunaan umum di Bali sering dipakai dalam konteks ucapan selamat pada momen tertentu, termasuk hari raya.

  • Kata “shanti” memiliki nuansa religius dalam agama Hindu, bukan sekadar “damai” secara netral.

👉 Maka:

Walaupun bentuknya bahasa, ia membawa muatan makna (maknawi) yang terkait dengan konteks keagamaan jika diucapkan pada momentum hari raya mereka.

📌 Hukum Ucapan Ini

❗ Jika diucapkan dalam konteks hari raya (misalnya Nyepi)

➡️ Tidak diperbolehkan

Karena:

  • Termasuk tahni’ah (ucapan selamat) secara makna

  • Mengandung pengakuan terhadap syiar hari raya mereka

  • Ditambah adanya lafaz yang bernuansa religius (shanti)

Ini masuk dalam penjelasan para ulama:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق
“Memberi ucapan selamat pada syiar kekufuran yang khusus bagi mereka hukumnya haram berdasarkan kesepakatan ulama.”

✅ Jika diucapkan dalam konteks umum (bukan hari raya)

➡️ Boleh, dengan catatan:

  • Tidak terkait hari raya

  • Tidak dimaksudkan sebagai ucapan selamat ibadah mereka

  • Lebih aman jika menghindari lafaz yang khas agama mereka seperti “shanti”

👉 Lebih selamat:

“Semoga mendapatkan kebaikan dan ketenangan.”

📌 Kesimpulan

  • Kalimat tersebut secara bahasa benar

  • Namun secara makna bisa bermasalah jika:

    • Diucapkan saat hari raya mereka

    • Atau mengandung lafaz khas agama mereka

👉 Sehingga:

  • ❌ Dalam konteks Nyepi: tidak boleh

  • ✅ Di luar itu: boleh dengan kehati-hatian, dan lebih baik pakai lafaz yang netral

Sedikit tambahan penjelasan dari sejarah

berkenaan dengan interaksi muslim dan non muslim di zaman Rasulullah alaihi wasallam

Yang diinginkan oleh kafir Quraisy adalah *pengakuan dari Nabi kita* Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam walaupun secara implisit

tentang Ketuhanan yang mereka yakini atau ibadah yang mereka lakukan

makanya oleh Allah diturunkan surah al-kafirun sebagai bentuk sop bagi orang beriman bahwa semua interaksi dengan non muslim itu dibolehkan *kecuali* dua hal yaitu urusan *akidah dan ibadah*

Dan alhamdulillah MUI pusat telah mengeluarkan fatwanya

Wallohu A'lam bish-showab

Akhukum filLah

Ustadz Fauzi Basulthana

Mungkin saya berikan alternatif ucapan yang lebih selamat secara syar'i

Bismillah

Berikut beberapa versi ucapan Bahasa Bali yang aman secara syar‘i—yaitu netral, tidak terkait hari raya, dan tanpa lafaz yang bernuansa syiar agama:

📌 1. Versi Umum (Paling Aman)

“Dumogi sareng sami polih kaséhatan lan kebaikan ring sapunapi malih.”
(= Semoga semua mendapatkan kesehatan dan kebaikan dalam setiap keadaan)

📌 2. Versi Sopan & Halus

“Dumogi sareng sami prasida ngalanturang urip sane becik lan pinanggihang kabecikan.”
(= Semoga semua bisa menjalani hidup dengan baik dan mendapatkan kebaikan)

📌 3. Versi untuk Tetangga / Kenalan

“Dumogi sareng kulawarga polih kaséhatan lan kaayuban ring kahuripan.”
(= Semoga Anda dan keluarga mendapat kesehatan dan kebaikan dalam kehidupan)

📌 4. Versi Singkat (Chat)

“Dumogi polih kaséhatan lan kebaikan.”
(= Semoga mendapat kesehatan dan kebaikan)

📌 5. Versi Lebih Formal

“Dumogi sareng sami pinanggihang kaséhatan, kebaikan, lan kamudahan ring sapunapi malih.”
(= Semoga semua mendapatkan kesehatan, kebaikan, dan kemudahan dalam segala hal)

📌 Catatan Penting

Agar tetap sesuai syar‘i:

✅ Gunakan:

  • kaséhatan (kesehatan)

  • kebaikan / kabecikan (kebaikan)

  • kaayuban (kehidupan yang baik)

  • kamudahan (kemudahan)

❌ Hindari:

  • “Rahajeng” (jika dalam konteks ucapan hari raya)

  • “Shanti”

  • Penyebutan hari raya apa pun

📌 Intinya

Bahasa boleh lokal (Bali), tapi makna harus tetap netral dan tidak terkait syiar agama.

Wallohu A'lam bish-showab

Semoga Allah menjaga Akidah kita...

Barokallohu fiikum wa Jazakumullohu khairon atas partisipasi antum semua nya

Madinah, Idul Fitri 20260320

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
Belum ada komentar
Artikel Terbaru Fauzi Basulthana