Yang Telah Tertakar Takkan Tertukar
18 days ago
20 views
Ary Edithia

Berbaik Sangka kepada Allah جل جلاله di Tengah Ujian Rezeki

Kajian Rutin, Flex Space  •  The Followers

Nikmat yang Sering Terlupa

Segala puji bagi Allah جل جلاله atas limpahan nikmat-Nya, sehingga kita masih diberi kesempatan berjalan di atas Islam dan sunnah Nabi Muhammad ﷺ. Beliau mengingatkan pentingnya bersyukur:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Man ashbaha minkum āminan fī sirbihi, mu‘āfan fī jasadihi, ‘indahu qūtu yaumihi, fa-ka’annamā hīzat lahud-dunyā

“Barangsiapa di antara kalian bangun pagi dalam keadaan aman di lingkungannya, sehat badannya, dan memiliki makanan pokok untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Tirmidzi no. 2346; hasan)

Kenikmatan bukan hanya diukur dari uang — rasa aman, kesehatan, dan waktu luang pun adalah nikmat besar yang wajib disyukuri.

Keutamaan Berkumpul dalam Majelis Ilmu

Menuntut ilmu agama hukumnya fardhu bagi setiap muslim. Betapa banyak orang berbondong-bondong saat ada pembagian sembako, namun sedikit yang tergerak hatinya menghadiri majelis ilmu — maka hadir di tempat ini adalah karunia yang harus disyukuri.

Nabi ﷺ menjanjikan keutamaan bagi yang berkumpul membaca Kitab Allah جل جلاله: diturunkan ketenteraman, diliputi rahmat, dinaungi malaikat, dan disebut namanya di hadapan penduduk langit.

Pelajaran Pertama: Berbaik Sangka (Husnuzhan) kepada Allah جل جلاله

Di tengah keluhan tentang ekonomi — daya beli menurun, BBM naik, dolar melonjak — sikap pertama yang harus dikedepankan seorang mukmin adalah husnuzhan kepada Allah جل جلاله. Bila kepada sesama manusia yang mungkin saja berbuat salah kita diperintahkan berprasangka baik, terlebih lagi kepada Allah جل جلاله. Allah جل جلاله berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Wa ‘asā an takrahū syai’an wa huwa khairun lakum, wa ‘asā an tuhibbū syai’an wa huwa syarrun lakum, wallāhu ya‘lamu wa antum lā ta‘lamūn

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Banyaknya manusia yang frustrasi dan mengeluh bukan karena sedikitnya rezeki yang Allah جل جلاله berikan, melainkan karena tipisnya husnuzhan mereka kepada-Nya — padahal nikmat yang diterima jauh lebih banyak daripada ujian yang menimpa. Dalam hadits qudsi, Allah جل جلاله berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

Anā ‘inda zhanni ‘abdī bī

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari no. 7405 & Muslim no. 2675)

Bila prasangka kita buruk, seakan itulah yang kita dapatkan; bila kita berbaik sangka, boleh jadi ada hikmah di balik kesempitan itu — sebagaimana pernah disampaikan seorang ustadz: rezeki saat kurs 6 ribu maupun 18 ribu, yang memberi makan tetap Allah جل جلاله.

Contoh keteladanan husnuzhan tertinggi ada pada Nabi Ibrahim ‘alaihis-salam, yang digelari Abul Anbiya' (bapak para nabi) dan Imamul Muwahhidin (pemimpin ahli tauhid). Ketika Raja Namrudz hendak melemparkannya ke dalam api yang sangat besar, Malaikat Jibril mendatanginya dan bertanya apakah ia butuh bantuan. Beliau menjawab:

أَمَّا إِلَيْكَ فَلَا، وَأَمَّا إِلَى رَبِّي فَنَعَمْ

Ammā ilaika falā, wa ammā ilā rabbī fana‘am

“Adapun kepadamu, tidak. Namun kepada Tuhanku, ya (aku butuh).” (Kisah masyhur ujian Nabi Ibrahim; lihat tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Anbiya’: 69)

Inilah puncak tauhid: hanya kepada Allah جل جلاله kita bergantung dalam kesulitan — bukan kepada atasan, sepupu yang kaya, atau siapa pun. Ikhtiar tetap dilakukan, namun permohonan pertama harus tertuju kepada-Nya.

Pelajaran Kedua: Bersemangat Mencari Rezeki yang Halal

Allah جل جلاله telah menjamin rezeki setiap hamba, sebagaimana firman-Nya:

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ * إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Mā urīdu minhum mir-rizqin wa mā urīdu ay-yuth‘imūn, innallāha huwar-razzāqu dzul-quwwatil-matīn

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, yang memiliki kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat: 57–58)

Ustadz mengambil permisalan cicak yang hidup di tembok/atap sementara makanannya (nyamuk) terbang bebas — namun tak pernah dijumpai cicak frustrasi karena tak dapat makan, sebab rezekinya telah dijamin Allah جل جلاله. Ditegaskan pula:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Wa mā min dābbatin fil-ardhi illā ‘alallāhi rizquhā

“Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi ini melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Namun jaminan ini bukan alasan untuk bermalas-malasan dan hanya duduk beribadah tanpa berikhtiar — itu bukan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ. Ketika mendapat rezeki lapang, ucapkanlah syukur; ketika diuji, tetaplah memuji Allah جل جلاله dengan ucapan alhamdulillahi ‘ala kulli hal. Allah جل جلاله berjanji:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

La’in syakartum la’azīdannakum, wa la’in kafartum inna ‘adzābī lasyadīd

“Jika kamu bersyukur, niscaya akan Aku tambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Orang yang pandai bersyukur akan dibangunkan Allah جل جلاله sebuah rumah di surga bernama Baitul Hamdi (rumah bagi ahli syukur).

Rezeki bukan tolok ukur ketaatan seseorang

Ustadz mengingatkan agar tidak menjadikan satu contoh orang yang rajin ibadah namun rezekinya seret, atau sebaliknya orang yang jarang shalat namun kaya, sebagai tolok ukur umum — sebab bisa jadi ada faktor lain (misalnya warisan keluarga) yang tidak diketahui. Yang benar, secara umum orang yang semakin taat kepada Allah جل جلاله akan semakin ditambah nikmatnya; sedangkan kenikmatan yang datang kepada pelaku maksiat tanpa mereka sadari bisa jadi adalah istidraj — pemberian yang justru menjauhkan mereka dari Allah جل جلاله. Sebaliknya, ujian yang menimpa orang beriman adalah tanda kasih sayang dan kerinduan Allah جل جلاله kepada hamba-Nya agar semakin dekat kepada-Nya, sebagaimana Allah جل جلاله berfirman:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Wa qalīlun min ‘ibādiyasy-syakūr

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Dua jenis rezeki: yang kita cari dan yang mencari kita

Rezeki yang kita cari adalah hasil usaha — bekerja lalu mendapat upah. Namun banyak yang melupakan rezeki yang mencari kita: kesehatan, napas yang berjalan, tetangga yang tiba-tiba mengetuk pintu memberi makanan, ajakan makan dari teman yang tak terduga, harta warisan, bahkan hadiah umrah yang datang tanpa diminta. Semua itu adalah karunia Allah جل جلاله yang datang ketika kita menunaikan hak-hak-Nya dan berprasangka baik kepada-Nya.

Nabi ﷺ menegaskan:

لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّىٰ تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا

Lan tamūta nafsun hattā tastakmila rizqahā

“Suatu jiwa tidak akan mati hingga ia menyempurnakan (menerima seluruh) rezekinya.” (HR. Ibnu Majah no. 2144; hasan sahih (bagian dari hadits panjang riwayat Ibnu Mas‘ud))

Beliau juga menekankan agar memperbaiki cara mencari rezeki: mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.

Takdir rezeki telah tertulis sejak azali

Segala rezeki, jodoh, hidup, dan mati telah dicatat Allah جل جلاله sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Kataballāhu maqādīral-khalā’iqi qabla an yakhluqas-samāwāti wal-ardha bi-khamsīna alfa sanah

“Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari Abdullah bin ‘Amr)

Sekalipun demikian, kita tetap diperintahkan berdoa dan berikhtiar — sebab doa itu sendiri termasuk bagian dari takdir yang telah ditetapkan, dan disebutkan bahwa doa adalah sarana yang dapat “menolak” takdir yang buruk atas izin Allah جل جلاله.

Bahaya harta haram

Nabi ﷺ memperingatkan keras:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ، النَّارُ أَوْلَىٰ بِهِ

Lā yadkhulul-jannata lahmun nabata min suht, an-nāru aulā bih

“Tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta haram; neraka lebih pantas baginya.” (HR. Ahmad & Tirmidzi; hasan)

Yang halal sudah jelas, yang haram pun jelas; adapun perkara yang syubhat (rancu/meragukan) lebih baik ditinggalkan, sebagaimana anjuran memilih usaha yang jelas kehalalannya (bersertifikat halal), bukan sekadar menduga-duga.

Wasiat Nabi ﷺ kepada Ibnu ‘Abbas

Sebagai penutup, Ustadz membawakan hadits agung dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma — sepupu Nabi ﷺ yang didoakan beliau agar dipahamkan dalam agama dan diajarkan tafsir Al-Qur'an. Suatu ketika ia diboncengi Nabi ﷺ:

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَىٰ أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَىٰ أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

Yā ghulām, innī u‘allimuka kalimāt: ihfazhillāha yahfazhka, ihfazhillāha tajidhu tujāhak, idzā sa’alta fas’alillāh, wa idzasta‘anta fasta‘in billāh, wa‘lam annal-ummata lawijtama‘at ‘alā ay yanfa‘ūka bisyai’in lam yanfa‘ūka illā bisyai’in qad katabahullāhu lak, wa lawijtama‘ū ‘alā ay yadhurrūka bisyai’in lam yadhurrūka illā bisyai’in qad katabahullāhu ‘alaik, rufi‘atil-aqlāmu wa jaffatish-shuhuf

“Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia selalu di hadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu mencelakaimu kecuali dengan apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran (takdir) telah kering.” (HR. Tirmidzi no. 2516; hasan sahih)

Menjaga hak Allah جل جلاله artinya menunaikan kewajiban beribadah kepada-Nya semata, sesuai firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya‘budūn

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Allah جل جلاله sama sekali tidak butuh ibadah hamba-Nya — sebagaimana ditegaskan dalam hadits qudsi bahwa sekalipun seluruh jin dan manusia dari yang pertama hingga terakhir bermaksiat kepada-Nya, hal itu tidak mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun. Namun karena Allah جل جلاله bersifat Asy-Syakur (Maha Mensyukuri), Dia membalas ketaatan hamba dengan pahala berlipat, sebagaimana halnya perusahaan memberi bonus kepada pegawai teladan.

Catatan dari Sesi Tanya Jawab

Apakah takdir bisa berubah dengan doa?

Ulama menjelaskan bahwa jika ada yang dapat “mengalahkan” atau mengubah takdir, itu adalah doa — namun doa itu sendiri sesungguhnya juga telah ditakdirkan Allah جل جلاله. Maka jangan pernah berhenti berdoa hanya karena merasa “sudah cukup meminta kemarin”; perbanyak dan ulangi permohonan, sebab semakin seorang hamba memohon, semakin Allah جل جلاله cintai kesungguhannya, dan semakin besar peluang doa itu dikabulkan. Rasulullah ﷺ mengingatkan kita berdoa memohon keteguhan hati (istiqamah) minimal 17 kali sehari lewat bacaan Al-Fatihah dalam shalat.

Bagaimana agar keyakinan pada takdir terasa nyata, tidak hanya di lisan — misalnya saat melihat orang lain lebih beruntung?

Perasaan sesak melihat kenikmatan orang lain adalah penyakit hati akibat kurangnya mengingat Allah جل جلاله. Obatnya: perbanyak istighfar dan zikir, sebab yang dapat membolak-balikkan hati hanyalah Allah جل جلاله. Alihkan pikiran kepada nikmat yang telah kita terima, dan banyak-banyak menoleh kepada orang yang kondisinya di bawah kita agar tumbuh rasa syukur, bukan kepada yang di atas kita hingga menimbulkan iri.

Ragu terhadap sumber penghasilan di tempat kerja yang diduga tidak sesuai akad/berisiko riba atau kecurangan

Bila seseorang benar-benar mengetahui bahwa perusahaannya melakukan kecurangan, risywah (suap), atau kezaliman terhadap hak orang lain, maka sepatutnya ia meninggalkannya, karena penghasilan dari hal tersebut adalah haram. Namun bila tidak mengetahui secara pasti, tidak perlu mencari-cari tahu hingga menimbulkan keraguan berlebihan — yang halal jelas, yang haram jelas, dan yang syubhat sebaiknya dijauhi bila memang telah diketahui. Meninggalkan sesuatu karena Allah جل جلاله pasti akan diganti dengan yang lebih baik, sebagaimana disabdakan Rasulullah ﷺ. Ustadz juga membagikan kesaksian bahwa hilangnya kenikmatan dalam beribadah (shalat dan umrah terasa hampa) bisa menjadi tanda bahwa ada penghasilan atau lingkungan yang perlu dievaluasi dan diperbaiki — sebab keberkahan lebih utama daripada banyaknya harta tanpa rasa cukup.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb. Jika ada kebenaran, ia dari Allah جل جلاله; jika ada kekeliruan, ia dari kelemahan diri kami.

simak kajian lengkapnya disini:
https://www.youtube.com/live/8hljh-eMHjA?si=edhplmMIaGOgoAIG

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
💬
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Artikel Terbaru Ary Edithia