Bisanya Komen mulu
Motor rusak, kita bawa ke bengkel.
Listrik konslet, kita panggil teknisi.
Urat keseleo, kita pergi ke tukang urut.
Setiap bidang memiliki spesialisnya masing-masing. Namun mengapa ketika berbicara tentang urusan negara yang jauh lebih kompleks, kita sering melupakan prinsip tersebut?
Sebagian besar dari kita hanya memperoleh informasi yang sangat terbatas melalui media sosial, sementara realitas sering kali memiliki "panggung depan" dan "panggung belakang" yang tidak semuanya diketahui publik.
Para ulama mengatakan:
الحكم على الشيء فرع عن تصوره
"Menghukumi sesuatu bergantung pada pemahaman yang benar terhadap hakikatnya."
Karena itu, tidak dalam setiap perkara kita harus berkomentar. Tidak semua persoalan membutuhkan pendapat kita. Bahkan dalam amar ma'ruf nahi mungkar, para ulama mensyaratkan adanya ilmu dan pemahaman terhadap keadaan agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin رحمه الله berkata dalam Syarh Riyadhus Shalihin:
وعامة الناس لا يصلحون لمثل هذه الأمور ولا لأمور السياسة، وليس لعامة الناس أن يلوكوا ألسنتهم بسياسة ولاة الأمور، السياسة لها أناس، والصحون والقدور لها أناس آخرون، ولو أن السياسة صارت تلاك بين ألسن عامة الناس فسدت الدنيا، لأن العامي ليس عنده علم، وعقله وفكره لا يتجاوز قدمه، ويدل لهذا قول الله تعالى: ﴿وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ﴾ ونشروه، قال تعالى: ﴿وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ﴾، دل هذا على أن العامة ليسوا كأولي الأمر وأولي الرأي والمشورة، فليس الكلام في السياسة من المجالات العامة، ومن أراد أن تكون العامة مشاركة لولاة الأمور في سياستها وفي رأيها وفكرها فقد ضل ضلالاً بعيداً، وخرج عن هدي الصحابة وهدي الخلفاء الراشدين وهدي سلف الأمة.
"Kebanyakan manusia tidak layak menangani perkara-perkara semacam ini dan tidak pula urusan politik. Tidak sepantasnya orang awam menjadikan politik para penguasa sebagai bahan pembicaraan di lidah mereka. Politik memiliki ahlinya sendiri, sebagaimana urusan dapur memiliki ahlinya sendiri. Seandainya politik menjadi bahan perbincangan seluruh orang awam, niscaya rusaklah kehidupan manusia. Sebab orang awam tidak memiliki ilmu yang memadai, dan akal serta cara pandangnya sangat terbatas.
Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala: 'Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka langsung menyebarkannya.' Kemudian Allah berfirman: 'Sekiranya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan kepada ulil amri di antara mereka, tentu orang-orang yang mampu mengambil kesimpulan akan mengetahuinya.'
Ayat ini menunjukkan bahwa orang awam tidak sama dengan para pemimpin, para ahli pendapat, dan para pemberi nasihat. Oleh karena itu, pembicaraan politik bukanlah ranah umum. Barang siapa menghendaki agar orang awam ikut serta bersama para pemimpin dalam mengatur kebijakan, pendapat, dan pemikiran politik, maka ia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh serta menyelisihi petunjuk para sahabat, Khulafaur Rasyidin, dan salaf umat ini."
Apakah ini berarti kita tidak berempati terhadap saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan?
Renungkanlah kisah Imam al-Buwaithi -rahimahullah-.
Ketika beliau dipenjara pada masa Khalifah al-Watsiq dalam fitnah Khalqul Qur'an, leher beliau dibelenggu, kedua kakinya diborgol, dan rantai besi menghubungkan keduanya.
Pada saat yang sama, Imam Muhammad bin Yahya adz-Dzuhali tetap mengadakan majelis periwayatan hadis. Beliau tidak menutup majelisnya lalu mengobrak-abrik keadaan politik yang sedang berlangsung.
Suatu ketika, al-Buwaithi mengirimkan surat kepada Muhammad bin Yahya adz-Dzuhali:
والذي أسألك أن تعرض حالي على إخواننا أهل الحديث لعل الله يخلصني بدعائهم، فإني في الحديد وقد عجزت عن أداء الفرائض من الطهارة والصلاة.
"Yang aku mohon darimu adalah agar engkau menyampaikan keadaanku kepada saudara-saudara kita dari kalangan ahli hadis. Semoga Allah membebaskanku melalui doa-doa mereka. Aku berada dalam belenggu besi dan telah lemah untuk menunaikan kewajiban-kewajiban seperti bersuci dan salat."
Maka orang-orang pun menangis dan mendoakan beliau.
Dari kisah ini kita belajar bahwa empati tidak selalu harus diwujudkan dengan komentar dan analisis terhadap setiap persoalan. Ada kalanya bentuk kepedulian yang paling mampu kita lakukan adalah doa.
Jadi, bukan berarti kita tidak berempati. Kita melakukan apa yang mampu kita lakukan. Adapun jika seseorang merasa telah mengetahui seluruh seluk-beluk suatu persoalan dan memiliki kapasitas untuk berbicara, maka itu urusan lain.
Yang jelas, tidak semua orang harus berkomentar tentang segala hal.