Bencana alam yang terjadi merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah. Al-Qur’an mengajarkan bahwa tanda-tanda kekuasaan-Nya dapat menjadi sarana bagi manusia untuk kembali mengingat, takut, dan tunduk kepada-Nya. Allah berfirman:
وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
“Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.”
(QS. al-Isra’: 59)
Ayat-ayat Allah tidak hanya berupa ayat yang dibaca, tetapi juga ayat-ayat yang dapat disaksikan melalui alam. Karena itu, ayat Allah dapat kita pahami dalam dua bentuk: ayat sam‘iyyah, yang kita kenal dengan wahyu, dan ayat kauniyyah, yang dapat kita saksikan melalui berbagai peristiwa di alam.
Melalui ayat-ayat sam‘iyyah, Allah telah memberikan berbagai peringatan agar manusia mengambil pelajaran dan kembali kepada-Nya. Allah berfirman:
ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ ۚ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ
“Demikianlah Allah menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Wahai hamba-hamba-Ku, maka bertakwalah kepada-Ku.”
(QS. az-Zumar: 16)
Dan ketika manusia menyaksikan ayat-ayat kauniyyah, semestinya ia tidak hanya melihatnya sebagai fenomena yang terjadi begitu saja, tetapi juga mengambil pelajaran dan merenungkannya.
Sebab bagi seorang mukmin, berbagai peristiwa yang terjadi di alam semestinya dapat menjadi jalan bertambahnya iman. Allah berfirman:
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah iman mereka.”
(QS. al-Anfal: 2)
Karena itu, ketika terjadi bencana, hendaknya kita menjadikannya momentum untuk memperbanyak doa, istighfar, introspeksi, dan kembali kepada Allah. Ibnul Qayyim berkata:
وَقَدْ يُؤْذَنُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ لِلْأَرْضِ فِي بَعْضِ الْأَحْيَانِ فَتُحَدِّثُ فِيهَا الزَّلَازِلَ الْعِظَامَ، فَيَحْدُثُ مِنْ ذَلِكَ الْخَوْفُ وَالْخَشْيَةُ وَالْإِنَابَةُ وَالْإِقْلَاعُ عَنِ الْمَعَاصِي وَالتَّضَرُّعُ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَالنَّدَمُ، كَمَا قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ
“Pada sebagian waktu, Allah سبحانه وتعالى mengizinkan bumi mengalami gempa-gempa besar. Dari peristiwa tersebut muncul rasa takut, khusyuk, kembali kepada Allah, berhenti dari kemaksiatan, merendahkan diri kepada Allah, dan penyesalan, sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf.”
Namun, pembahasan tentang bencana perlu disikapi dengan kehati-hatian. Kita tidak sepatutnya tergesa-gesa memastikan bahwa sebuah bencana tertentu merupakan azab bagi orang-orang yang menjadi korbannya. Sebab kita tidak mengetahui keadaan setiap orang di hadapan Allah.
Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا أَصَابَ الْعَذَابُ مَنْ كَانَ فِيهِمْ، ثُمَّ بُعِثُوا عَلَى أَعْمَالِهِمْ
“Apabila Allah menurunkan azab kepada suatu kaum, azab tersebut akan menimpa orang-orang yang berada di tengah-tengah mereka. Kemudian mereka dibangkitkan sesuai dengan amal perbuatan mereka.”
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa dalam Shahih Ibnu Hibban terdapat hadis marfu‘ yang menerangkan bahwa ketika Allah menurunkan hukuman kepada suatu kaum yang melakukan kemaksiatan, orang-orang saleh yang berada di tengah-tengah mereka dapat ikut terdampak oleh hukuman tersebut. Namun kelak mereka dibangkitkan sesuai dengan amal dan niat mereka.
Maka, sebuah musibah tidak serta-merta menjadi ukuran untuk menilai kedudukan seseorang di hadapan Allah. Bisa jadi bagi seseorang ia merupakan ujian, bagi yang lain menjadi rahmat, dan bagi yang lain menjadi peringatan agar kembali kepada-Nya.
Hal ini pula yang membedakan antara bencana yang kita saksikan hari ini dengan azab yang menimpa sebagian umat terdahulu. Dalam kisah-kisah yang ditegaskan oleh Al-Qur’an, Allah menjelaskan dengan jelas bahwa mereka adalah kaum yang mendustakan para rasul, membangkang, dan menolak kebenaran. Karena itu, ketika wahyu menyebut kehancuran mereka sebagai azab, kita menerimanya berdasarkan penjelasan Allah.
Adapun terhadap bencana yang terjadi pada masa kita, kita tidak memiliki wahyu yang memastikan bahwa suatu peristiwa tertentu adalah azab bagi orang-orang tertentu. Karena itu, lebih selamat bagi kita untuk mengambil pelajaran daripada sibuk memastikan status orang lain di hadapan Allah.