Setiap bulan Agustus, kita kembali diingatkan bahwa kemerdekaan tidak diraih dengan duduk berpangku tangan. Ada orang-orang yang harus meninggalkan kenyamanan, menghadapi bahaya, bahkan mempertaruhkan nyawa agar tanah air tetap berdiri.
Dalam sejarah perjuangan itu, ada satu hal yang menarik untuk kita renungkan: perempuan.
Ketika berbicara tentang perempuan Muslimah, yang terbesit dalam pikiran kita mungkin firman Allah:
«وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ»
“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumahmu.” (QS. Al-Ahzab: 33)
Atau, dalam dunia pendidikan, kita hanya membekali mereka dengan keterampilan yang dekat dengan kehidupan perempuan: memasak, menjahit, dan mengurus rumah tangga.
Itu semua baik. Bahkan penting.
Namun, ada satu PR lagi dalam mendidik perempuan, yaitu mendidiknya tetap dengan fitrahnya sebagai perempuan yang lembut, tetapi tidak gentar ketika suatu saat keadaan menuntutnya untuk berjuang.
Lihatlah Laksamana Keumalahayati.
Ketika suaminya gugur dalam peperangan, ia tidak larut dalam kesedihan. Ia menghimpun para janda pejuang dan membentuk pasukan Inong Balee.
Sampai akhirnya datanglah armada Belanda.
Pada 1599, Cornelis de Houtman dan pasukannya berhadapan dengan orang-orang Aceh. Malahayati menaiki kapal lawan dan berhadapan langsung dengan Cornelis.Bayangkan, di atas geladak kapal, di tengah pertempuran, seorang perempuan Aceh berdiri dengan rencong di tangannya, berhadapan satu lawan satu dengan kapten pelaut Belanda itu dan menewaskannya.
Renungkan juga kisah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Seorang perempuan yang dikenal pemalu, lembut, dan sangat dekat dengan kehidupan rumah tangga Nabi ﷺ. Namun dalam Perang Jamal, ia menjadi figur sentral yang padahal di dalam pasukannya terdapat sahabat-sahabat besar seperti Talhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Al-Awwam.
Ini bukan tentang mengajarkan perempuan agar berada di medan perjuangan.
Bukan pula tentang mengubah perempuan menjadi seperti laki-laki.
Justru sebaliknya, perempuan tetaplah perempuan lembut, pemalu, dan dekat dengan rumah. Tetapi ketika keadaan memanggilnya untuk berjuang, ia tidak gentar.
Maka ketika kita mengenang kemerdekaan, barangkali ada satu PR yang tidak boleh kita lupakan dalam mendidik perempuan, yaitu mendidik kelembutannya tanpa mematikan keberaniannya.