Mengapa Kita Masih Perlu Majelis Offline?
22 days ago
52 views
Aprian Nusra

Kajian online memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Banyak kitab yang jarang dibahas di majelis-majelis masjid justru dikaji secara online dengan rapi, lengkap, dan terstruktur. Akses terhadap ilmu pun menjadi jauh lebih luas. Namun, mencukupkan diri hanya dengan kajian online juga tidaklah cukup.

Sebab, hadir secara langsung di majelis ilmu memiliki keutamaan dan pengaruh tersendiri dalam proses belajar. Hal ini telah disadari oleh para ulama sejak dahulu, bahkan sebelum munculnya berbagai sarana pembelajaran modern.

Ibnu Khaldun menjelaskan dalam al-Muqaddimah:

«ولقاء المشيخة مزيد كمال في التعليم، والسبب في ذلك أن البشر يأخذون معارفهم وأخلاقهم وما ينتحلونه من المذاهب والفضائل: تارةً علمًا وتعليمًا وإلقاءً، وتارةً محاكاةً وتلقينًا بالمباشرة. إلا أن حصول الملكات عن المباشرة والتلقين أشد استحكامًا وأقوى رسوخًا.»

“Berjumpa langsung dengan para guru memberikan tambahan kesempurnaan dalam proses belajar. Sebab, manusia memperoleh pengetahuan, akhlak, serta berbagai keyakinan dan keutamaan dengan dua cara: terkadang melalui ilmu, pengajaran, dan penyampaian; dan terkadang melalui keteladanan serta bimbingan secara langsung. Dan kemampuan yang terbentuk melalui interaksi langsung dan bimbingan secara tatap muka lebih kuat melekat dan lebih kokoh tertanam.”

Perhatikan ungkapan Ibnu Khaldun "lebih kuat melekat dan lebih kokoh tertanam."

Ini bukan sekadar persoalan apakah materi kajiannya lengkap atau tidak. Kajian online mungkin unggul dalam keluasan materi: kitab bisa dibuka, rekaman bisa diputar ulang, dan berbagai disiplin ilmu bisa dipelajari dari banyak guru. Namun, belajar secara langsung memiliki unsur lain yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh layar: melihat guru, memperhatikan cara beliau bersikap, menangkap penekanan dalam penyampaian, dan menerima bimbingan secara langsung.

Karena itulah, tradisi keilmuan Islam sejak dahulu sangat menekankan liqa' al-masyayikh—berjumpa dengan para guru.

Di samping itu, Allah ﷻ berfirman:

«فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ»

“Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan agama, lalu memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri?” (QS. at-Taubah: 122)

Menariknya, Allah menggunakan kata لِيَتَفَقَّهُوا (liyatafaqqahū), yang berasal dari تفقّه (tafaqquh). Dalam ilmu sharaf, bentuk tafa‘‘ul mengandung makna takalluf, yaitu adanya usaha, kesungguhan, dan proses yang tidak selalu ringan untuk memperoleh sesuatu.

Seolah-olah ayat ini mengingatkan bahwa tafaqquh bukan sekadar menerima informasi. Ada proses yang harus dijalani: pergi, duduk, mendengar, memahami, mengulang, bertanya, dan berinteraksi dengan orang yang lebih berilmu.

Hal ini juga tercermin dalam kehidupan para ulama.

Imam Malik pernah berkata bahwa ketika beliau merasakan kerasnya hati, beliau mendatangi guru beliau Muhammad bin al-Munkadir dan sekadar memandangnya. Beliau mengatakan:

«كلما وجدت في قلبي قسوة أتيت محمد بن المنكدر فنظرت إليه، فكان ذلك تنبيهاً لي أياماً.»

“Setiap kali aku merasakan kerasnya hatiku, aku mendatangi Muhammad bin al-Munkadir lalu memandangnya. Hal itu menjadi pengingat bagiku selama beberapa hari.”

Perhatikan, Imam Malik tidak mengatakan bahwa beliau datang untuk mengambil sebuah faedah ilmiah tertentu. Bahkan, sekadar memandang seorang yang saleh dapat menjadi sebab hati beliau kembali teringat dan tersentuh.

Demikian pula kisah yang dinukil dari Ibnul Qayyim ketika berbicara tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Kehadiran seorang guru tidak hanya menyampaikan ilmu melalui lisannya, tetapi terkadang juga mendidik melalui keadaan, keteguhan, akhlak, dan wibawanya.

Maka, persoalannya bukan memilih online atau offline secara mutlak. Kajian online adalah nikmat besar dan sarana ilmu yang sangat bermanfaat. Tetapi majelis offline memiliki dimensi pendidikan yang lebih luas daripada sekadar transfer materi. Di sana seseorang tidak hanya mendengar apa yang dikatakan guru, tetapi juga belajar bagaimana seorang berilmu bersikap.

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
💬
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
Artikel Terbaru Aprian Nusra