Ironisnya, ghibah memang bangkai “terlezat” yang kalau dijual, mungkin akan mendapatkan penghargaan tiga bintang Michelin. Sampai-sampai sebagian tabi'in berkata:
أدركنا السلف وهم لا يرون العبادة في الصوم ولا في الصلاة ولكن في الكف عن أعراض الناس
“Kami mendapati para salaf; mereka tidak memandang inti ibadah itu sekadar pada puasa dan salat, melainkan pada menahan diri dari membicarakan kehormatan orang lain.”
(Tathīr al-‘Aibah min Danas al-Ghībah, hlm. 5)
Maka, untuk hari ini saja, mari bergerilya meninggalkan ghibah. Karena sayang sekali jika pahala yang Allah janjikan gugur hanya karena ghibahan receh yang kita anggap sepele, meskipun setelahnya kita bertaubat.
Dalam Syarah Muqaddimah al-Hadramiyyah disebutkan:
لو اغتاب و تاب لم يعد له ثواب الصوم
“Jika seseorang berghibah lalu bertaubat, pahala puasanya tidak kembali.” (Busyral karim hal.565)
Lalu, apa batasan sesuatu disebut ghibah?
Ibn Hajar menjelaskan:
وهو ذكر الإنسان المسلم، أو الذمي بما فيه مما يكره، سواء أكان في بدنه، أو زوجه، أو دينه، أو دنياه، أو نفسه، أو خُلُقه، أو خَلْقه، أو حاله، أو ماله، أو ولده، أو والده، أو خادمه، أو عمامته، أو ثوبه، أو مشيته، أو حركته، أو عبوسته، أو طلاقته، وسواء أذكر شيئًا من ذلك بالقلب، أو باللفظ، أو الكتابة، أو الإشارة بالعين، أو الرأس، أو اليد
Artinya:
“Ghibah adalah menyebutkan tentang seorang muslim sesuatu yang ada padanya namun ia tidak suka jika itu disebutkan; baik terkait tubuhnya, istrinya, agamanya, urusan dunianya, pribadinya, akhlaknya, bentuk fisiknya, keadaannya, hartanya, anaknya, orang tuanya, pelayannya, sorbannya, pakaiannya, cara berjalannya, gerak-geriknya, wajah cemberutnya, keramahan wajahnya; baik disebutkan dengan hati, lisan, tulisan, ataupun dengan isyarat mata, kepala, maupun tangan.”(Tathīr al-‘Aibah min Danas al-Ghībah, hlm. 41)