"Yang menciptakan aku boti kan Allah!"
2 hours ago
2 views
Aprian Nusra

"Yang menciptakan aku boti kan Allah!"

Sebagian orang beralasan bahwa ketertarikan kepada sesama jenis adalah sesuatu yang diciptakan Allah, sehingga tidak layak diingkari. Padahal, para ulama tafsir menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan: laki-laki dan perempuan. Fitrah asal laki-laki adalah tertarik kepada perempuan, dan fitrah asal perempuan adalah tertarik kepada laki-laki.

Allah Ta'ala berfirman:

{ أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ }

"Apakah kalian benar-benar mendatangi laki-laki karena syahwat, bukan kepada perempuan? Bahkan kalian adalah kaum yang tidak mengetahui."(QS. An-Naml: 55)

Keterangan para ulama tafsir

As-Sa'di rahimahullah berkata:

وتركتم ما خلق الله لكم من النساء من المحال الطيبة التي جبلت النفوس إلى الميل إليها.

"Kalian meninggalkan wanita-wanita yang Allah ciptakan untuk kalian, padahal mereka merupakan tempat yang baik dan jiwa manusia memang diciptakan dengan kecenderungan untuk menyukai mereka."

Az-Zamakhsyari berkata:

وأن الله إنما خلق الأنثى للذكر ولم يخلق الذكر للذكر، ولا الأنثى للأنثى، فهي مضادّة لله في حكمته وحكمه.

"Allah menciptakan perempuan untuk laki-laki. Allah tidak menciptakan laki-laki untuk laki-laki, dan tidak pula perempuan untuk perempuan. Maka perbuatan tersebut menyelisihi hikmah dan ketetapan Allah."

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

لَا تَعْرِفُونَ شَيْئًا لَا طَبْعًا وَلَا شَرْعًا

"Kalian tidak memahami sesuatu pun, baik menurut fitrah maupun menurut syariat."

Karena itu, secara fitrah, laki-laki cenderung kepada perempuan dan perempuan cenderung kepada laki-laki.

Lalu apa yang menyebabkan seseorang tertarik kepada sesama jenis?

Para ulama menyebutkan adanya sebab-sebab yang dapat merusak fitrah. Di antara yang disebutkan oleh Al-Qurthubi ketika menafsirkan kisah kaum Nabi Luth adalah bahwa penyimpangan tersebut berawal dari praktik hubungan yang menyimpang dengan istri-istri mereka, hingga akhirnya berkembang menjadi ketertarikan kepada sesama jenis.

Apakah boleh berdalil dengan takdir?

Tidak setiap sifat atau keadaan yang Allah ciptakan boleh dijadikan alasan untuk membenarkan suatu perbuatan.

Allah berfirman:

{ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا }

"Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa."(QS. Al-Isra': 11)

Apakah karena manusia diciptakan tergesa-gesa lalu ia boleh mengikuti sifat tersebut tanpa kendali? Tentu tidak.

Allah juga berfirman:

{ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا }

"Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh."(QS. Al-Ahzab: 72)

Apakah karena sifat itu ada pada manusia lalu kezaliman menjadi sesuatu yang dibenarkan? Tentu tidak.

Memahami iradah Allah

Para ulama menjelaskan bahwa kehendak Allah terbagi menjadi dua:

1. Iradah Kauniyah (kehendak takdir)

Yaitu sesuatu yang Allah kehendaki terjadi di alam semesta. Namun, terjadinya sesuatu tidak berarti Allah mencintai atau meridhainya.

Contohnya adalah kekafiran Abu Jahl. Kekafirannya terjadi dengan kehendak Allah secara kauni, tetapi Allah tidak mencintai dan tidak meridhai kekafiran.

2. Iradah Syar'iyyah (kehendak syariat)

Yaitu sesuatu yang Allah cintai dan ridhai, seperti iman, Islam, dan ketaatan.

Namun, tidak semua yang Allah cintai pasti terjadi pada setiap orang. Allah mencintai keimanan seluruh manusia, tetapi tidak semua manusia beriman.

Contohnya adalah Abu Talib. Allah mencintai keislamannya dari sisi syariat, tetapi Allah tidak menakdirkan ia masuk Islam.

Kesimpulan

Tidak benar menjadikan takdir sebagai alasan untuk membenarkan penyimpangan. Sesuatu yang terjadi belum tentu dicintai dan diridhai Allah. Yang menjadi ukuran adalah apakah perbuatan tersebut sesuai dengan fitrah yang Allah tetapkan dan syariat yang Allah turunkan, bukan semata-mata karena ia ada atau terjadi.

0 Comments

Login untuk memberikan komentar positif
Belum ada komentar
Artikel Terbaru Aprian Nusra